HUKUM UJUB KETIKA SUDAH DIDHOHIRKAN

Telah berlalu di risalah ketiga, bahwa hukum ujub jika masih berupa lintasan hati maka hukumnya tidak mengapa. Akan tetapi bagaimanakah hukum ujub ketika sudah didhohirkan atau ditampakkan, baik itu dalam bentuk perbuatan ataupun perkataan?

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَكَثِيرًا مَا يَقْرِنُ النَّاسُ بَيْنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ فَالرِّيَاءُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالْخَلْقِ وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } فَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } خَرَجَ عَنْ الرِّيَاءِ وَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } خَرَجَ عَنْ الْإِعْجَابِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمَعْرُوفِ : { ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ }

“Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa’ dan ujub. Riyaa termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada orang lain-pen) adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu merasa dirinyalah atau kehebatannyalah yang membuat ia bisa berkarya-pen).

Ini merupkan kondisi orang yang sombong. Orang yang riyaa’ tidak merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ “Hanya kepadaMulah kami beribadah”, dan orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan”. Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ maka ia akan keluar lepas dari riyaa’, dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah  وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ maka ia akan keluar terlepas dari ujub” (Majmuu’ Al-Fataawaa 10/277).

Dari penjelasan Ibnu Taimiyah rohimahulloh maka kita mengetahui, hukum dari ujub itu adalah syirik ashghor (syirik kecil) sebagaimana sama seperti hukum dari riya’. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di bawah ini,

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?

Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Selanjutnya, bagaimanakah hukum dari amalan kita yang tercampur dengan ujub itu? Maka jawabnya adalah karena ujub disamakan dengan riya dari sisi hukumnya, maka hukum amalan yang tercampur dengan ujub perinciannya sama dengan perincian hukum amalan yang tercampur dengan riya’.

******

Para ulama menjelaskan bahwa amal shalih yang tercampur unsur riya tidak bisa disamakan hukumnya, akan tetapi harus dirinci sebagaimana berikut:

–  Apabila pendorong utama seseorang untuk beramal shalih adalah keinginan dilihat orang, dan niat ini terus menerus ada padanya dari awal sampai akhir, maka amal shalihnya gugur, tidak ada nilainya, dan ia terjerumus ke dalam syirik ashghar yang dikhawatirkan akan mengantarkannya kepada syirik akbar.

–  Apabila pendorong utamanya adalah mengharap wajah Allah dan keinginan dilihat orang, kemudian dia tidak menghilangkan niat riya tersebut dari dirinya, maka  nash-nash yang ada menunjukkan bahwa amal shalih itu gugur, tidak bernilai.

–  Apabila pendorong utamanya adalah mengharap wajah Allah semata, namun kemudian pada pertengahan amal terbersit keinginan untuk dilihat orang, maka ada dua keadaan:

  1. Jika dia menolak keinginan yang terbersit dalam hatinya itu dan kembali memurnikan niatnya dalam beramal, maka hal itu tidaklah bermudarat baginya. Amalnya tidak gugur.
  2. Jika dia mengikuti bersitan hatinya itu, merasa nyaman dengannya dan tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amal shalihnya tersebut berkurang nilainya, dan dia termasuk orang yang keimanan dan keikhlasannya lemah sesuai dengan unsur riya yang ada di dalam hatinya.

Sumber : http://sunnah.or.id/buletin-assunnah/riya-dan-mencari-dunia-dengan-amal-shalih.html

******

Maka hukum dari suatu amalan yang tercampur dengan ujub, adalah sama seperti perincian hukum riya’ seperti yang dijelaskan di atas. Walloohu A’lam

MACAM-MACAM JENIS UJUB

Karena ujub itu adalah suatu perbuatan hati, maka macam-macam jenis ujub itu banyak sekali. Bahkan boleh dikatakan setiap hal yang berhubungan dengan manusia bisa dimasuki sifat ujub.

Adapun jika dilihat dari faktor pendorongnya, maka ujub terjadi karena :

  1. Faktor internal, yakni faktor dari dalam diri sendiri. Baik itu berupa bisikan lintasan hati, jalur nasab (keturunan), ataupun kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya
  2. Faktor external, yakni faktor dari luar. Baik itu faktor luar yang dimilikinya ataupun faktor luar yang mempengaruhinya. Seperti : Harta, anak, pengikut, jabatan, popularitas, lingkungan pergaulan, keluarga, dan lain-lain.

Imam Al- Ghozaly rohimahulloh memberikan 8 model ujub yang umumnya menimpa seseorang :

  1. Ujub dengan nasab yang tinggi.
  2. Ujub terhadap keindahan tubuh dan parasnya.
  3. Ujub dengan kekuatan.
  4. Ujub dengan kecerdasan dan akal.
  5. Ujub terhadap jumlah yang banyak.
  6. Ujub dengan harta
  7. Ujub dengan pendapat yang salah
  8. Ujub dengan bernasab/berafiliasi kepada para penguasa yang dzolim dan para pengikutnya

Lihat penjelasan Imam Al-Ghozaly rohimahulloh itu di :

http://www.firanda.com/index.php/artikel/penyakit-hati/220-model-model-ujub

PARA ULAMA UMUMNYA LEBIH SERING MENGKAITKAN UJUB DENGAN AMALAN MEREKA

Dari berbagai macam jenis ujub tadi, ada satu hal yang menarik untuk dicatat dari sikap para ulama Salaf berkaitan dengan ujub. Yakni sikap mereka yang sangat takut dan sangat memperhatikan mengenai ujub karena amal sholeh, karena perkara kedudukan diiniyyah, dan masalah akhirat.

Ini membuktikan kecerdasan para ulama Salaf dalam memahami Diin dan membuktikan fokusnya mereka dalam memperhatikan masalah akherat. Karena jika hukum ujub yang bercampur dengan amal sholeh itu disamakan dengan hukum riya’ yang bercampur dengan amal sholeh, maka jelaslah bahwa ujub itu bisa merusak bahkan sampai menghapus dari pahala amalan sholeh itu. Dan ini jelas merupakan suatu kerugian besar !

Berikut adalah perkataan dari para ulama Salaf berkaitan dengan masalah Ujub,

@ Abu Wahb bin Al-Marwazi rahimahullah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah; “Apa yang dimaksud dgn Al-Kibr (kesombongan)?” Beliau jawab: “Melecehkan orang lain.”

Lalu aku bertanya lagi ttg apa itu ‘Ujub. Beliau jawab: “‘Ujub ialah perasaan bahwa kita memiliki sesuatu yg dimiliki orang lain. Aku tidak mengetahui sesuatu yg lebih berbahaya daripada sikap ‘ujub bagi orang-orang yg sholat.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/407)

@ Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Kalo kamu merasa khawatir terhadap sikap ‘ujub atas amal perbuatanmu, maka ingatlah keridhoan siapakah yang menjadi tujuan amalmu? Di alam kenikmatan siapakah engkau hendak berlabuh? Dan dari siksa yang manakan engkau berupaya menghindarkan dirimu (darinya)?.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi X/42)

@ Al-Mutharrif bin Abdulllah rahimahullah berkata: “Tidur terlelap (semalam suntuk, pent) untuk kemudian bangun dengan penyesalan lebih aku sukai daripada melakukan sholat tahajjud (qiyamul lail) semalam penuh dan bangun pagi dengan perasaan ‘ujub .” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani II/200).

@ Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan memberikan kemenangan kpd orang yg menganggap suci dirinya sendiri atau bersikap ‘ujub.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/190).

@ Diriwayatkan bahwa ada seorang laki2 berkata kepada Abdullah bin Umar bin Khoththob radhiyallahu anhuma: “Wahai orang terbaik, atau anak dari orang terbaik.” Maka Abdullah bin Umar menjawab: “Aku bukanlah orang terbaik, juga bukan anak dari orang terbaik. Tapi aku hanyalah salah seorang hamba Allah yg selalu berharap dan merasa takut kepada-Nya. Demi Allah, kalo kalian senantiasa bersikap seperti itu terhadap seseorang, justru kalian akan membuatnya binasa.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi III/236).

@ Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Camkanlah tiga perkara yg akan aku sampaikan ini, (yaitu): Waspadalah terhadap hawa nafsu yg dipertuhankan, teman yg jahat/buruk, dan merasa ‘ujub (bangga diri).” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/549).

Sekarang mari kita lihat diri kita….

Kita umumnya lebih sering membahas dan memperhatikan masalah ujub dikaitkan dengan penyebab-penyebab keduniawian. Bandingkan dengan sikap para ulama Salaf yang memperhatikan masalah ujub yang dikaitkan dengan masalah amal sholeh dan akherat.

Hal ini bukan berarti memperhatikan ujub dalam masalah duniawi itu tidak penting. Itu penting, bahkan itu sangat penting sebagai pondasi. Akan tetapi ini adalah penekanan betapa beda tingkatan pengetahuan dan pengaruh ujub yang ada pada diri kita, dibandingkan dengan para ulama Salaf tersebut. Kita baru tahap pondasi sedangkan mereka sudah tahap menghias menara.

Akan tetapi tidaklah menara itu berdiri melainkan dimulai dari pembangunan pondasi. Jangan pernah terkesima dengan membangun menara yang tinggi di atas pondasi yang rapuh. Walloohu A’lam.

CARA MENGETAHUI APAKAH KITA TERTIMPA PENYAKIT UJUB

1. Deteksi hati

Ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan sehat atau sakitnya hati kita. Semakin sehat hati kita, maka akan semakin mudah bagi kita untuk mendeteksi apakah kita terkena penyakit ujub ataukah tidak. Hal ini tercermin dari keumuman perkataan Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإْنَ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوْ قَلْبَهُ

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan perbuatan dosa maka akan tertitik dalam hatinya noda hitam jika ia menghilangkannya dan memohon ampun, dan di ampuni, maka hatinya itu dibersihkan. Jika ia melakukan kesalahan lagi, maka bintik hitam itu akan ditambah sehingga bisa menutupi hatinya. [HR. Ibnu Mâjah, Tirmidzi . Hadits ini dihasankan oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Tirmidzi.]

Alat pendeteksi ujub yang utama itu adalah hati. Jika kondisi asal dari hati itu adalah putih dan bersih, maka jika ada noda hitam yang menempel di dirinya maka hal itu akan segera diketahui dan akan segera dibersihkan. Adapun jika kondisi hati sudah keruh, kotor, dan sakit; maka ditambah dengan satu noda hitam ujub pun tidak akan terasa dan tidak akan ketahuan.

Oleh karena itu hendaklah kita perbanyak :

  • Melakukan amalan sholeh yang berkaitan dengan amalan hati seperti ikhlash, tawakkal, qona’ah, dan lain-lain
  • Istigfar meminta ampun kepada Alloh
  • Melakukan amalan-amalan dhohir yang memiliki efek untuk membersihkan/mengobati hati kita, seperti dzikrulloh, membaca Al-Qur’an, dan berteman dengan orang sholeh.

Yang mana amalan-amalan itu akan membersihkan hati kita, dan akan memudahkan pendeteksian hati kita terhadap penyakit-penyakit hati termasuk ujub.

2. Nasehat orang lain

Penilaian orang lain terhadap diri kita mengenai kejelekan dan kekurangan, kadang lebih tepat dibandingkan penilaian diri kita sendiri. Tentu saja ini yang dimaksud adalah penilaian dari teman yang sholeh, sehat hatinya, dan berilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalih/shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. (Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)

Adapun penilaian dari orang fasiq dan pendengki (walaupun berilmu) kadang hanya didasarkan kepada kecenderungan hawa nafsunya. Bisa jadi dia menganggap suatu kerusakan itu adalah hal yang wajar, karena dia juga terbiasa melakukan kerusakan. Dan bisa juga dia menilai dengan dorongan untuk menjatuhkan saja karena kedengkian dan kebenciannya, bukan karena ingin memperbaiki atau berdasarkan kasih sayang. Sehingga lebih berupa hinaan dan ejekan belaka. Untuk hal yang seperti ini, maka tidak perlu untuk dihiraukan.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (al-A’raf: 199).

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَآ أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ لاَنَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, maka mereka berpaling daripadanya, dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil’.” (Al-Qashash: 55).

Akan tetapi kadang hal itu tidak mutlaq. Musuh kadang lebih jeli dalam melihat kekurangan kita daripada kita sendiri. Sehingga jika ada suatu nasehat yang sebenarnya didorong oleh dengki dan kebencian namun benar dari pertimbangan ilmu dan perbaikan untuk diri kita, maka tidak mengapa mengambil nasehatnya dan bersabar terhadap buruknya ejekan dan hinaanya.

3. Ilmu

Ilmu adalah suatu bekal yang berharga dalam menjaga diri kita. Dan Ilmu adalah suatu parameter diagnosa standart dalam memahami apakah ujub itu sedang menimpa diri kita ataukah tidak.

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Oleh karena itu memahami Ilmu mengenai Ujub itu adalah salah satu cara kita mendeteksi diri kita apakah kita sedang terkena ujub ataukah tidak. Akan tetapi karena ujub ini adalah suatu perbuatan hati, maka gunakanlah ilmu ini untuk mendiagnosa diri kita terlebih dahulu sebelum mendiagnosa orang lain. Sebab kadang kita bisa menemukan “maling teriak maling” yang mau mengakui dan terbukti bahwa dia sendiri sebenarnya adalah maling. Mamun kita jarang menemukan “orang ujub teriak ujub”, yang mau mengakuinya bahwa dia sebenarnya juga ujub….

BAGAIMANA CARA BERMUAMALAH TERHADAP ORANG YANG UJUB DAN SOMBONG?

– Cara bermuamalah terhadap orang yang ujub dan sombong, yang jika kesombongan dan keujubannya itu tidak memberikan dampak madhorot kepada kita adalah dengan cara menasehatinya dan memberikan ilmu mengenai hal ini. Ini adalah jika ujub dan kesombongannya tampak terlihat oleh kita. Bisa jadi dia melakukan hal itu karena tidak sadar dan tidak mengetahui ilmunya

– Adapun jika ujub dan kesombongannya tersembunyi di dalam hatinya dan tidak terlihat oleh diri kita, maka hendaklah kita berhuznudzon (berprasangka baik) dan lebih menyibukkan diri kita dengan aib-aib kekurangan diri kita dibandingkan dengan mengurusi orang lain. Jangan sampai juga kita menjadi orang yang ujub, yang menuduh orang lain ujub dengan alasan yang tidak jelas.

– Bagaimana dengan orang yang ujub dan sombong, yang perilakunya menyebabkan kemadhorotan kepada diri kita? Maka untuk jawaban hal ini ada dua pendapat dengan perinciannya yang kami ketahui.

  • Boleh melawan kesombongannya dengan kesombongan sesuai dengan kadar yang proporsianal.

Hal ini dengan berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

 وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ  وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan dari suatu kejahatan itu adalah suatu kejahatan yang serupa….” (QS. Asy Syuroo : 39-40)

ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

“Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Hajj : 60)

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang didzalimi. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nisaa : 148)

Imam Syafi’i rohimahulloh juga memperbolehkan sombong terhadap orang yang sombong dengan perkataan beliau “Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.”

Ulama yang lain berkata, “Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).”

Lihat perincian perkataan ulama ini di : http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/

  • Tidak boleh membalas kesombongan dengan sikap yang sombong juga

Hal ini sebagaimana yang saya tanyakan kepada Ustadz Ahmad Zainuddin ketika taklim di Slipi, Jakarta Selatan. Beliau berkata bahwa beliau pernah duduk di Majlis Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafidzahulloh di Madinah dan ada pertanyaan serupa. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad berkata “Walau bagaimanapun bersikap sombong itu tetap tidak diperbolehkan”.

Adapun dalil-dalil untuk pendapat ini adalah tentu saja sebagaimana keumuman dalil-dalil larangan mengenai sombong, seperti :

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong). (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

———–

Adapun di antara dua pendapat ini, maka yang rojih (yang kuat) adalah pendapat yang mengatakan boleh untuk sombong terhadap orang yang sombong. Dengan catatan hanya sekedar untuk menghindari kemadhorotan yang hendak ditimpakan oleh orang yang sombong itu kepada kita, atau untuk menangkal penindasan dan kedzoliman yang hendak dikenakan kepada kita sedang kita mempunyai kemampuan untuk melawannya.

Dan ini haruslah dilakukan secara proporsional serta sesuai dengan kebutuhan untuk menolak kemadhorotan saja. Bukan untuk selalu digunakan kepada semua orang yang ujub dan sombong (lihat perincian yang kami sebutkan sebelumnya). Dan bukan juga untuk melawab pemerintah yang dzolim, karena khusus berkenaan dengan pemerintahan hal ini terdapat petunjuk hadits dan qaidah-qaidah Ahlus Sunnah yang tersendiri dalam mensikapinya.

Walloohu A’lam

APAKAH JIKA TIDAK UJUB BERARTI HARUS MERASA RENDAH DIRI KEPADA ORANG LAIN DENGAN ALASAN TAWADHU?

Rendah diri dan tawadhu’ itu sebenarnya adalah dua hal yang berbeda. Rendah diri itu jika berhubungan dengan orang lain (baca : Makhluq), adapun tawadhu’ itu jika berhubungan dengan Alloh dalam hal bermuamalah terhadap manusia. Kedua hal ini sebenarnya berbeda, namun kadang ada orang yang menyamakannya ataupun susah dalam membedakannya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588)

Secara umum, merasa rendah diri terhadap orang lain itu adalah suatu sikap yang harus diperbaiki. Jika dia ada kekurangan yang menyebabkan rendah diri, maka hendaklah kekurangannya itu diperbaiki. Jika kekurangannya itu tidak bisa diperbaiki, jika misal karena cacat atau yang semisal, maka hendaklah sikap hatinya yang diperbaiki. Yakni dengan sabar, qona’ah, syukur, dan tawakal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ”

Orang mukmin yang kuat (dalam iman dan tekadnya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing (dari keduanya) memiliki kebaikan, bersemangatlah (melakukan) hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah (selalu) pertolongan kepada Allah, serta janganlah (bersikap) lemah…” [HSR Muslim (no. 2664)]

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [QS. Ali Imran : 139]

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ

“……Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku….” [QS. Al-Maidah : 44]

Rendah diri juga berbeda hukumnya dengan rendah hati dan menghormati orang lain. Rendah hati itu karena Alloh, sehingga dia tidak merasa lebih mulia di hadapan Alloh dibandingkan orang lain. Bukanlah rendah hati itu karena dia berharap akan ridho manusia semata.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ ، كَفَاهُ اللهُ النَّاسَ ، وَ مَنْ أَسْخَطَ اللهَ بِرِضَى النَّاسِ ، وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ

Barang siapa yang mencari keridhaan Allah walaupun manusia murka kepadanya, Allah akan mencukupinya dari manusia. Dan barang siapa yang membuat Allah murka karena mencari keridhaan manusia, maka Allah akan menyerahkan ia kepada manusia (tidak akan ditolong oleh Allah).” (HR. Abdu bin Humaid. Musnad Abdu bin Humaid no.1524, dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Silsilah Shahihah no.2311 )

Adapun menghormati orang lain, maka itu bagian dari adab dan akhlaq walaupun terkadang dilakukan dengan cara merendahkan diri. Seperti misal ketika kita menghormati orang tua kita dengan cara merendahkan diri kita di hadapannya. Atau sikap kita ketika menghormati orang tua/sesepuh yang ada di masyarakat kita. Atau sikap kita dalam menghormati para pembesar di masyarakat kita.

Namun menghormati orang lain (walau kadang dengan sikap merendahkan diri) ini berbeda hukumnya dengan merasa rendah diri.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Robb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Robb-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. [QS. Al-Israa : 23-24]
Dari Ubadah bin Shamith bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يجل كَبِيْرَناَ وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyanyangi yang kecil dan tidak mengenal hak orang alim.” [Hasan Riwayat Imam Ahmad (5/323) Ath Thabrani 8/167,232) Shahih Jami’2/5444]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati orang muslim yang sudah tua” (HR. Abu Dawud, dari Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, dihasankan Syeikh Al Albany).

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa memuliakan sulton Allah (penguasa) didunia maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat dan barang siapa yang menghinakan sultan Allah didunia maka Allah hinakan pada hari kiamat.”
(Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya 5/42, At Tirmidziy dalam sunannya kitab Al Fitaan ‘An Rasulullah bab Ma Jaa fil Khulafa’ No.3150. lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shohihah karya Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy 5/376).

Kesimpulan

Sehingga sebagai kesimpulan akan pertanyaan “Apakah jika tidak ujub berarti harus merasa rendah diri kepada orang lain dengan alasan Tawadhu?” adalah merasa rendah diri karena orang lain itu mempunyai hukum yang berbeda dengan tawadhu’.

Merasa rendah diri karena orang lain adalah suatu akhlaq dan sikap yang harus diperbaiki. Sedangkan tawadhu’ itu adalah merendahkan diri karena Alloh subhaanahu wa ta’ala, dengan tidak merasa bahwa dia lebih mulia dibandingkan orang lain di hadapan Alloh subhaanahu wa ta’ala.

Dan ini berbeda dengan sikap merendahkan diri sesuai dengan tuntunan syariat untuk menghormati orang lain, sebagaimana yag telah kita sebutkan haditsnya sebelumnya.

Hendaklah kita berhati-hati juga dengan tipuan syaithon “Merendahkan diri untuk meningkatkan mutu”. Yakni dengan berpura-pura merendahkan diri agar mendapatkan pujian dan keridhoan manusia belaka saja.

Walloohu A’lam

CARA MENGOBATI PENYAKIT UJUB : JIHAD MELAWAN DIRI SENDIRI

Cara mengobati penyakit ujub yang paling utama adalah memang berjihad melawan diri sendiri, karena ujub itu adalah suatu perbuatan hati yang senantiasa mengikuti kita kemana kita berada. Akan tetapi jangan dikira dalam usaha kita melawan diri kita sendiri ini tidak dianggap sebagai suatu amalan yang besar dan utama. Justru jihad dalam melawan diri kita sendiri ini, termasuk di dalamnya adalah perihal ujub ini, tergolongan sebagai suatu amalan jihad yang mempunyai pahala serta keutamaan yang besar.

1099 – «أفضل الجهاد أن يجاهد الرجل نفسه وهواه» .
صحيح) … [ابن النجار] عن أبي ذر. الصحيحة 1496: أبو نعيم، الديلمي.)

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jihad yang paling afdhol adalah jihadnya seseorang dalam melawan dirinya dan hawa nafsunya”

(Shahih al jami’ ash shoghir, hadits ke 1099. Syaikh Albani berkata “Shohih”. Diriwayatkan oleh ibnu Najjar, dari Abu Dzarr, Ash-shohihah : halaman 1496. Abu Nu’aim, dan ad Dailami)

Dalam jihad melawan diri kita sendiri ini memang ada point-point tertentu yang harus kita perhatikan dalam menunjang jihad kita ini. Hal tersebut adalah :

  1. Mengilmui mengenai masalah penyakit ujub ini dan selalu me-muroja’ah (mengulang) dalam mempelajarinya.
  2. Jangan merasa aman dari ujub dimanapun dan kapanpun kita berada. Jangan seperti perkataan “Menjadi musuh syaithon ketika kita berada di keramaian banyak orang, dan menjadi teman akrab syaithon ketika sendirian”.
  3. Bergaul dengan teman dan lingkungan yang baik dan yang bisa menasehati kita.
  4. Selalu berdo’a, berdzikir, beribadah, dan mendekatkan diri kita kepada Alloh untuk membersihkan hati kita.
  5. Membulatkan tekad selalu dalam berjihad untuk memperbaiki diri dan melawan hawa nafsu.
  6. Rutin mendatangi majlis Ta’lim dan Nasehat untuk mencari ilmu dan melembutkan hati.
  7. Melazimkan diri untuk bersikap tawadhu’ karena Alloh, karena tawadhu’ itu adalah lawan alami daripada Ujub
  8. Menghilangkan atau menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan terjadinya Ujub.

RUMUSAN KESIMPULAN

1. Hukum Ujub yang sudah didhohirkan dalam bentuk amalan, maka perincian hukumnya sama seperti perincian hukum riya’

2. Macam-macam jenis ujub itu ada banyak karena ujub itu berupa amalan hati. Tapi secara umum jika dilihat dari faktor pendorongnya, Ujub itu bisa terjadi karena faktor internal dan faktor external

3. Para Ulama umumnya lebih sering mengaitkan ujub dengan perihal amalan sholeh mereka, kedudukan Diiniyah mereka, dan perkara Akherat mereka; karena perbedaan tingkatan pengetahuan dan pengaruh ujub yang ada pada diri mereka.

4. Cara mengetahui apakah kita sedang terkena penyakit ujub ataukah tidak, diketahui dengan 3 cara :

a. Deteksi Hati          b. Nasehat orang lain        c. ilmu

5. Cara bermuamalah terhadap orang yang ujub dan sombong dibagi menjadi 3 :

a. Jika orang yang ujub dan sombong itu terlihat ujub dan kesombongannya oleh kita, namun dia tidak memberikan kemadhorotan kepada kita, maka kita bermuamalah dengannya dengan cara menasehatinya dan memberikan ilmu mengenai hal ini.

b. Jika ujub dan kesombongannya tersembunyi di dalam hatinya dan tidak terlihat oleh diri kita, maka hendaklah kita berhuznudzon (berprasangka baik) dan lebih menyibukkan diri kita dengan aib-aib kekurangan diri kita dibandingkan dengan mengurusi orang lain.

c. Jika orang yang ujub dan sombong yang terlihat perilaku ujub dan sombongnya oleh kita, dan menyebabkan kemadhorotan kepada diri kita. Maka boleh bagi kita untuk sombong terhadap orang yang sombong, sesuai dengan pendapat yang rojih. Dengan catatan hanya sekedar untuk menghindari kemadhorotan yang hendak ditimpakan oleh orang yang sombong itu kepada kita, atau untuk menangkal penindasan dan kedzoliman yang hendak dikenakan kepada kita sedang kita mempunyai kemampuan untuk melawannya.

6. Rendah diri, tawadhu’, bersikap merendahkan diri, dan menghormati orang lain itu memiliki perbedaan dan pembahasan yang tersendiri. Adapun merasa rendah diri karena orang lain adalah suatu akhlaq dan sikap yang harus diperbaiki. Dan ini bukanlah tawadhu’.

7. Hati-hati dengan tipuan syaithon “Merendahkan diri untuk meningkatkan mutu”. Yakni dengan berpura-pura merendahkan diri agar mendapatkan pujian dan keridhoan manusia belaka saja.

8. Cara mengobati penyakit ujub yang paling utama adalah dengan berjihad melawan diri sendiri.

KHOTIMAH

Dengan berakhirnya risalah kelima dari “Risalah Ujub” ini, maka berakhirlah risalah tulisan ini. Semoga risalah ini dicatat sebagai suatu tambahan amalan pahala bagi sang penulisnya, dan dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Walhamdulillaahi robil ‘aalamiin. Baarokalloohu fiik