APAKAH TERMASUK UJUB JIKA BERADA DI ATAS KEBENARAN DAN SEDANG MELAWAN KEBATILAN?

Pembahasan ini sebenarnya mencakup ke dalam empat hal yang cukup erat dan saling berhubungan, yakni antara :

  1. Amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Sikap pembedaan diri untuk membedakan diri antara kebenaran dan kebatilan.
  3. Penisbatan kepada kebenaran.
  4. Perincian hukum debat untuk menegakkan hujjah

Sebagaimana sholat yang bisa terjangkit penyakit ujub, sombong, dan riya, maka empat hal di atas itu pun juga bisa terjangkiti penyakit ujub, sombong, dan riya. Hal ini karena ujub adalah perbuatan hati.

Ujub tidak memilih untuk masuk ke dalam hati orang yang berbuat maksiat saja (yakni agar dia bangga terhadap kemaksiatannya). Akan tetapi ujub dengan bantuan hawa nafsu dan bisikan syaithon, justru akan lebih berusaha untuk masuk ke dalam hati-hati orang-orang yang hendak berbuat kebaikan. Apalagi terhadap orang-orang yang sedang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan debat untuk iqomatul hujjah…..

Ujub itu memang seorang “double agent”. Dia bisa masuk ke dalam hati orang yang bermaksiat, dan juga bisa masuk ke dalam hati orang yang sedang berbuat kebaikan dan membela kebenaran. Berikut adalah perincian pembahasan dari keempat hal tersebut.

1. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah suatu amalan yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam syari’at. Amalan ini termasuk salah satu pilar-pilar Islam yang memiliki banyak sekali cabang, dan masing-masing cabang itu bisa dinodai oleh penyakit hati dengan jalan yang beraneka macam.

Sebagai misal,

  • Bisa jadi seseorang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara mendebat ahlul bid’ah dan syubhat-syubhatnya.
  • Atau seorang mujahid yang berperang melawan orang-orang kafir harbi.

Akan tetapi ternyata dia melakukan dengan niat syuhrah (mencari popularitas), maka jatuhlah dia kedalam riya’ dan ujub.

—————————

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.” Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka…..[Hr. Muslim]

—————————

Kaidah pemahaman yang bisa diambil dari contoh di atas adalah :

  1. DASAR ACUAN dari amalan dhohirnya itu benar, akan tetapi amalan bathinnya salah dan tercemar.
  2. Amalan bathin yang tercemar itu bisa merusak APLIKASI PENERAPAN dari amalan dhohirnya.
  3. Aplikasi penerapan yang salah yang terlihat dari amalan bathinnya yang tercemar itu, tidak bisa digunakan untuk menyalahkan dasar acuan dari amalan dhohirnya. Karena dasar  acuan dari amalan dhohirnya adalah Al-Qur’an dan As-sunnah serta Manhaj salaf yang haq.

Untuk lebih menjelaskan hal itu, mari kita lihat contoh dari hadits berikut ini :

—————————

Dari Jundub Al-Bajaly radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهَ لِفُلاَنٍ. قَالَ اللهُ: مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلَى عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ؟ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ. (رواه مسلم

“Sesungguhnya ada seseorang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan.” Maka Allah berfirman: “Siapa yang lancang mengatakan atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni fulaan?! Sungguh Aku telah mengampuni fulan dan menggugurkan amal-amalmu.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ رَجُلاَنِ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ مُتَوَاخِيَانِ وَكَانَ أَحَدُهُمَا مُذْنِبًا وَالآخَرُ مُجْتَهِدًا فِي الْعِبَادَةِ وَكَانَ لاَ يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُوْلُ: أَقْصِرْ! فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ: أَقْصِرْ. فَقَالَ: خَلَّنِي وَرَبَّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيْبًا؟! فَقَالَ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهَ لَكَ أَوْ لاَ يُدْخِلُكَ اللهُ الْجَنَّةَ. فَقُبِضَ رُوْحُهُمَا فَاجْتُمِعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ: أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا؟! فَقَالَ لِلْمُذْنِبِ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلآخَرِ: اذْهَبُوْا بِهِ إِلَى النَّارِ. (رواه أحمد وأبو داود، وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير)

Sesungguhnya dahulu di kalangan Bani Israil ada dua orang yang bersaudara. Salah satunya seorang pendosa, sedangkan yang lainnya seorang yang rajin beribadah. Dan bahwasanya sang ahli ibadah selalu melihat saudaranya bergelimang dosa, maka ia berkata: “Kurangilah!

Pada suatu hari ia mendapatinya dalam keadaan berdosa, maka ia berkata: “Kurangilah!

Berkata si pendosa: “Biarkanlah antara aku dan Rabb-ku! Apakah engkau diutus untuk menjadi penjagaku?

Sang ahli ibadah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!” Atau: “Demi Allah, Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga!

Dicabutlah ruh kedua orang tersebut dan dikumpulkan di sisi Allah. Maka Allah berfirman kepada ahli ibadah: “Apakah engkau mengetahui tentang Aku? Ataukah engkau merasa memiliki apa yang ada di tangan-Ku?

Dan Allah berkata kepada si pendosa: “Pergilah engkau dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!

Dan berkata kepada ahli ibadah: “Bawalah ia ke dalam neraka!

(HR. Ahmad dan Abu Dawud, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir)

—————————

Dua contoh hadits di atas sudah cukup jelas untuk menjelaskan kaidah pemahaman tersebut. Orang yang beramar ma’ruf nahi munkar itu berada di dalam kebenaran dan ingin menasehati dosa yang sedang dilakukan saudaranya. Akan tetapi karena kurangnya ilmu dan didorong ke dalam sikap ujub serta keras yang berlebihan, maka keluarlah dia dari kebenaran itu sendiri.

Hadits di atas hanya menyalahkan sikap orang tersebut yang bersumpah dengan dengan nama Alloh, bahwa Alloh tidak akan mengampuninya dan tidak akan memasukkan ke dalam surga. Allah tidak menyalahkan sikap amar ma’ruf nahi munkar dan himbauannya agar perilakunya dosa itu dikurangi atau dihilangkan. Karena ini adalah dua hal yang berbeda.

Oleh karena itu selain masalah cara yang harus diperhatikan, sikap hati dan niat juga harus selalu diperhatikan. Sikap hati dan niat inilah yang kadang kurang diperhatikan, sehingga tidak jarang orang yang sebenarnya berada dalam kebaikan dan kebenaran justru malah terjatuh ke dalam sikap ujub, takabur, sombong, riya’, dan hanya berusaha mencari popularitas saja.

2. SIKAP PEMBEDAAN DIRI UNTUK MEMBEDAKAN DIRI ANTARA KEBENARAN DAN KEBATILAN.

Pembagian

Melakukan sikap pembedaan diri antara kebenaran dan kebatilan adalah suatu hal yang disyariatkan. Dalam artian jika hal yang dimaksud adalah dalam suatu yang jelas, yakni perkara yang “al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh” (yang sudah diketahui dari agama dengan jelas), atau perkara ushul (pokok), atau perkara Aqidah. Yang dalilnya jelas (sharih) dan tetap (qoth’i). Yang berlaku dan difahami oleh semua orang Islam, hingga kepada yang awam sekalipun.

Dan bukan dalam suatu hal yang belum jelas dan belum tegas dalilnya, yakni perkara yang ijtihadiyah, sehingga para ulama pun berbeda pendapat dalam berijtihad di dalamnya.

Hendaklah dua hal ini, yakni perkara al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh dan perkara ijtihadiyah ini benar-benar bisa difahami dan dibedakan. Karena kadang ada sebagian orang meremehkan dalil-dalil yang jelas dan tegas serta bermain-main dengan qiyas, sehingga dia mengharapkan bahwa ini adalah hal yang ijtihadiyah dan menginginkan agar orang bertoleransi dengannya. Sebagian lagi yang lain, ada yang terlalu berlebih-lebihan dalam mengikuti pendapat ijtihad seorang ulama, sehingga bersikap keras terhadap orang-orang yang mengikuti pendapat ijtihad selainnya.

Untuk lebih memperdalam pembahasan antara ujub dan sikap pembedaan diri dengan pembagian di atas, maka pembahasan dibagi lagi menjadi tiga topik :

  1. al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh
  2. Ijtihadiyah
  3. Bagaimana ujub bisa masuk ke dalamnya

a. al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh :

Contoh sikap membedakan diri dalam perkara ini, adalah sebagaimana sikap kita ketika menghadari suatu tempat atau jamuan yang disitu terdapat khamr. Yang mana khamr telah jelas keharomannya tanpa diragukan lagi.

——————

Dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu melarang dua jenis makanan, pertama, menghadiri jamuan yang mengedarkan khamar, kedua, makan sambil telungkup.” (HR. Abu Dawud no. 3774 dan dinilai shahih oleh al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menghadiri perjamuan yang mengedarkan khamr.” (HR. Ahmad no. 14241)

——————

Atau juga yang semisal itu adalah majlis yang disitu adalah tempat dilakukannya kemaksiatan dan kefasikan. Terutama ketika disitu banyak diperbincangkan ghibah, fitnah, namimah (adu domba), dan perbuatan lain yang memperturutkan hawa nafsu. Maka wajib menjauhi tempat-tempat kemaksiatan seperti itu jika tidak bisa mengingkari kemunkarannya. Dan wajib untuk membedakan diri antara kebenaran dan kebatilan.

——————

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu anhuma, ia berkata :

لا تجالس أهل الأهواء ، فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

“Janganlah engkau duduk-duduk (bermajelis) dengan ahlul ahwa! karena duduk-duduk bersama mereka membuat hati(mu) menjadi sakit.”

[Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari’ah pada bab Dzammul Jidal wal Khushumat fid Din dan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro pada bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumridhul Qulub wa yufsidul Iman, dengan sanad yang shohih]

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ)) (رواه مسلم عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه).

Barangsiapa di antaramu melihat kemunkaran, maka ubahlah (cegahlah) ia dengan tangannya, jika tidak sanggup maka dengan lisannya, dan jika tidak sanggup maka dengan hatinya (tetap membencinya) dan itulah selemah-lemah iman. (Hr. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra).

——————

Contoh yang lain adalah duduk dan mengikuti majlis yang disitu ayat-ayat Allah, hadits-hadits rasululloh dan pribadinya, beserta juga syariat-syariat Islam hanyalah dijadikan bahan olok-olok dan candaan belaka. Termasuk juga jika disitu adalah tempat dilakukannya kebid’ahan-kebid’ahan. Maka wajib untuk pergi dari majlis itu dan membedakan diri antara kebenaran dan kebatilan.

——————

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.”

[QS an-Nisa : 140]

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”

[QS al-An’am : 68]

——————

Perincian:

i. Adapun jika itu adalah dalam hal-hal al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh contoh-contoh di atas, maka umumnya orang bisa mengerti dan faham akan hal itu. Bisa memakluminya. Bisa membedakan dengan jelas antara ketegasan sikap dan ujub. Dan bahkan tidak jarang orang-orang yang memiliki ketegasan sikap dalam membedakan diri antara yang haq dan yang batil, yang justru diolok-olok dan difitnah dengan sok suci, ujub, sombong, dan yang semisal.

ii. Adapun untuk kasus yang lain. Jika itu adalah perkara maksiat dan kemunkaran yang sebenarnya sudah jelas (al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh), akan tetapi ada syubhat-syubhat di dalamnya, sehingga orang menjadi tidak tahu dan tertipu, maka hendaklah sikap membedakan antara yang haq dan yang batil dilakukan dengan jalan pembinaan, pemahaman, kesabaran, dan hikmah. Bisa menimbang mashalahat dan madhorot. Serta memberikan akhlak dan adab yang baik.

Hal ini biasanya terjadi di perkara-perkara yang berhubungan dengan perkara-perkara syirik dan bid’ah di lingkungan masyarakat yang masih diselimuti oleh kebodohan dan syubhat-syubhat. Sebagaimana misal yang terjadi pada zaman awal-awal rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam berdakwah.

Adapun jika kondisi masyarakat sudah berubah, hilang kebodohan dan syubhat-syubhatnya, serta mempunyai kekuatan. Maka tidak mengapa dan bahkan kadang wajib untuk bersikap tegas untuk membedakan antara yang haq dan yang batil.

Atau mungkin bisa juga hal ini terjadi di hal-hal yang lain yang diketahui ada udzur dalam hal itu, walaupun ini adalah suatu perkara yang berkaitan dengan al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh seperti halnya masalah aqidah.

Mari kita coba lihat contoh hadits berikut :

———————

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah sangat gembira menerima taubat hamba-Nya ketika bertaubat kepada-Nya, melebihi dari kegembiraan seseorang yang berkendaraan di tengah padang pasir tetapi hewan yang dikendarainya lari meninggalkannya, padahal di atas hewan itu terdapat makanan dan minuman, kemudian dia berteduh di bawah pohon, dan membaringkan badannya, sedangkan ia benar-benar putus asa untuk menemukan kembali hewan yang dikendarainya.

Ketika bangkit, tiba-tiba ia menemukan kembali hewan yang dikendarainya lengkap dengan bekal yang dibawanya, ia pun segera memegang tali kekangnya, seraya berkata karena sangat gembira: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah robb-mu.Ia keliru mengucapkan kalimat itu karena luapan kegembiraannya.” [HR. Muslim]

———————

Dalam hadits ini orang tersebut salah dalam masalah aqidah, akan tetapi dia mendapatkan udzur dalam hal ini.

b. Perkara Ijtihadiyah

Umumnya perkara ijtihadiyah itu adalah suatu hal yang belum jelas dan belum tegas dalilnya. Sehingga para ulama kemudian berusaha dengan sangat keras dan bersungguh-sungguh untuk mengeluarkan hukum akan hal tersebut dari dalil-dalil yang ada. Baik itu dengan dicari kesamaan illat-nya, mengeluarkan hukum berdasarkan keumuman makna dari dalil-dalil yang ada, ataupun diqiyaskan. Yang mana hal-hal ini dilakukan dengan berdasarkan tata cara dan qaidah ushul fiqh dan fiqh yang baku.

Dalam hal ini dibolehkan tasamuh (toleransi) jika terjadi perbedaan pendapat. Dan ini berlaku untuk perkara fiqh yang bersifat furuiyyah (cabang). Adapun jika berkaitan dengan masalah Aqidah dan perkara fiqh pokok yang jelas dalilnya, maka pembahasan kembali kepada permasalahan al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh di atas.

Berkata Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahulloh,

Orang yang menyelisihi pendapat kami karena konsekuensi dalil yang ia pahami, pada hakikatnya tidak berselisih dengan kami. Bahkan bersepakat dengan kami. Karena kamipun menyelisihi mereka karena konsekuensi dalil yang kami pahami.” (Al Khilaf bainal Ulama).

Dalil untuk hal ini adalah seperti contoh sebagai berikut,

———-

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada peristiwa Ahzab:

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ. فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمْ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ نُصَلِّي، لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ. فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

“Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.”Lalu ada di antara mereka mendapati waktu ‘Ashar di tengah jalan, maka berkatalah sebagian mereka:”Kita tidak shalat sampai tiba di sana.”

Yang lain mengatakan:”Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.”

Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak mencela yang manapun.” [HR. Bukhari-Muslim]

———-

Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh dalam tulisan beliau ( اختلاف العلماء أسبابه و موقفنا منه ) “sebab-sebab perselisihan ulama dan sikap kitab terhadapnya” yang diambil dari Kitaabul ‘ilmi tulisan beliau, menyebutkan 5 sebab perbedaan pendapat di antara ulama :

  1. Nash atau dalil dalam suatu masalah tidak sampai seseorang (baca: ulama)
  2. Hadits (dalil) telah sampai kepada seseorang yang kebetulan keliru dalam mengambil suatu keputusan, namun ia kurang percaya kepada pembawa berita atau yang meriwayatkan hadits. (Menganggapnya tidak tsiqoh, sehingga mendhoifkan hadits tersebut)
  3. Dalil (hadits) telah sampai kepada orang tersebut, namun ia keliru dalam memahaminya
  4. Dalil telah sampai kepadanya tapi sudah dinasakh, namun ia tidak mengetahui dalil yang menasakhnya
  5. Hadits (dalil) telah sampai kepadanya, namun ia lupa terhadap dalil tersebut

Selain dari yang disebutkan oleh syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh tersebut, bisa juga ditambahkan bahwa hal itu dikarenakan :

  1. Adanya perbedaan pemilihan metodologi istimbath, baik itu dari segi qaidah ushul fiqh ataupun dari segi qaidah fiqh.
  2. Adanya perbedaan pemahaman bahasa Arab dalam memahami dalil. Yakni karena dalil yang dipakai memiliki beberapa kemungkinan pemahaman dalam bahasa Arab yang sama-sama kuat artinya. Seperti misal perbedaan pendapat di antara shahabat dalam memahami arti kata quru’.
  3. Karena adanya faktor udzur perbedaan tempat dan kondisi, dan faktor udzur adanya penghalang atau tidak, sehingga menyebabkan ada atau tidak adanya suatu illat (penyebab) untuk jatuhnya hukum akan suatu perkara.

Dari hal-hal inilah dialog ilmiah dan argumentasi pemilihan pendapat yang kuat (tarjih) terjadi.

Dari hal-hal ijtihadiyah inilah kita harus tasamuh (toleransi) terhadap perbedaan yang ada. Karena ini hal yang wajar jika dalam hal-hal yang belum jelas dan belum tegas dalilnya, satu fihak menganggap bahwa pendapat yang inilah yang haq karena ini yang rojih (lebih kuat) sedangkan yang lain bathil karena marjuh (lemah atau tidak kuat). Demikian juga yang sebaliknya.

Sehingga sikap pembedaan diri antara yang haq dan yang bathil dalam perkara ini adalah, dengan sikap saling mengakui adanya perbedaan ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan. Saling menghormati. Dan saling berdiskusi secara ilmiah dengan adab dan akhlaq yang baik.

Peringatan :

Pemahaman istilah ijtihad untuk hal-hal yang yang belum jelas dan belum tegas dalilnya ini jangan dibalik. Yakni digunakan untuk hal-hal yang sudah jelas dan sudah tegas dalilnya.

Sebagian ahlul bid’ah meniru sikap orang-orang yahudi ahlul kitab terdahulu, dengan membuat-buat syubhat dengan cara memutar balikkan dalil yang sudah jelas dan tegas. Mencampur antara yang haq dengan yang batil. Menghubung-hubungkan perkara-perkara yang tidak berhubungan dengan dalil. Dan kemudian melahirkan suatu pendapat baru yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, yang menyimpang dari dalil yang jelas dan tegas, yang kemudian mereka namakan sebagai ijtihad.

Dalam istilah jawa cara ini disebut juga otak-atik gathuk. Boleh juga hal ini kita namakan sebagai logical fallacy.

Sehingga akibatnya banyaklah orang-orang yang tertipu, terutama orang-orang awam, karena hanya menganggap yang penting ada dalilnya (pake dalil) maka itu dianggap ijtihad dan kita wajib tasamuh (toleransi) atasnya.

——————-

Seperti misal orang yang berdalil dengan ayat :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

…dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [QS Thoha : 14]

Dia memahami bahwa sholat itu tujuannya untuk berdzikir dan mengingat Alloh. Sehingga jika dia cukup dengan mengingat Alloh saja, maka tujuan dari sholat tercapai dan dia tidak usah melakukan sholat.

Pemahaman jenis ini jelas menyimpang dan merupakan logical fallacy otak-atik gathuk. Dia tidak memahami bahwa perintah ayat tersebut adalah “….dan dirikanlah sholat sebagaimana rasul mengajarkan kamu sholat untuk mengingat Aku“. Karena Rasululloh lah pentafsir yang paling otoritatif dari wahyu Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, sebagaimana hal ini yang disebutkan oleh Alloh dalam ayatnya

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ

…..Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkannya kepada umat manusia” [QS. An-Nahl : 44]

Di dalam dua ayat itu [QS. Thoha : 14 dan QS An-Nahl : 44] terdapat dua li ( لِ  ), baik itu lidzikrii ataupun litubayyina linnaasi. Maka apakah harus kita buang penjelasan pengajaran rasululloh mengenai sholat, hanya karena penjelasan logical fallacy otak atik gathuk dengan memperturutkan hawa nafsu itu? Apa gunanya rasul kalau begitu? Sedangkan Al-Qur’an itu turun kepada Rasululloh untuk kemudian disampaikan kepada kita, dan bukan Al-Qur’an itu turun kepada kita.

Jika misal seorang presiden menurunkan perintahnya kepada seorang panglima untuk menyerang suatu wilayah. Maka apakah prajuritnya kemudian boleh menyerang dengan caranya sendiri, tanpa instruksi dan komando dari sang panglima tersebut? Prajurit tersebut bisa terkena indisipliner ataupun bisa dianggap sebagai desertir.

Lebih lanjut lagi Alloh subhaanahu wa ta’aala berfirman :

فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

“…..(golongan kanan) berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat…” [QS. AL-Muddatstsir : 40-43]

Sehingga jelaslah bahwa meninggalkan sholat itu berdosa, diancam dengan neraka, dan secara bahasa tidaklah bisa ( الْمُصَلِّينَ ) “Orang-orang yang sholat” dalam ayat ini, digantikan dengan hanya sekedar ingat atau berdzikir saja.

——————-

c. Bagaimana ujub bisa masuk ke dalamnya

Cara pertama :

Ujub bisa masuk ke dalam hal ini adalah jika orang tersebut tidak mengetahui perincian dan perbedaan mengenai hal-hal yang disebutkan di kedua point yang telah kita bahas sebelumnya itu.

Umumnya ini lebih disebabkan dari faktor keilmuan dan kefaqihan seseorang. Dan tidak menutup kemungkinan juga karena adanya faktor fitnah syubhat dan fitnah syahwat yang menyelimutinya.

Cara Kedua :

Seseorang melakukan suatu sikap pembedaan diri dengan tidak mengikuti kemaksiatan para orang-orang fasik. Atau tidak mengikuti kebid’ahan para ahlul bid’ah. Akan tetapi dia ternyata melakukan itu dengan tujuan agar dia dianggap beda di mata manusia, dan mendapatkan ridho dari komunitasnya. Bukan karena semata-mata karena bertaqwa kepada Allah dan mengikuti dalil. Atau bercampur antara “bertaqwa kepada Allah dan mengikuti dalil” dengan “berusaha agar tampak beda di mata manusia dan mendapatkan ridho dari komunitasnya“, maka jatuhlah dia kedalam riya’ dan ujub.

3. PENISBATAN KEPADA KEBENARAN

Jika dia berada di atas kebenaran yang jelas, yakni menisbatkan kebenaran dengan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang difahami dengan manhaj salafush sholih yang haq. Tidak menisbatkan kebenaran hanya semata-mata berdasarkan atas diri pribadi atau pemikirannya. Atau semata-mata berdasarkan komunitas kelompoknya, ataupun berdasarkan tokoh yang dia kagumi yang dia ikuti pendapatnya. Maka penisbatan ini tidak termasuk ujub. Dan hendaklah dia berhati-hati terhadap debat yang tercela, walaupun itu ketika sedang melawan kebatilan.

Namun jika dia menisbatkan diri kepada kebenaran dan manhaj yang haq dengan untuk menunjukkan superioritasnya, menganggap dirinya suci, serta meremehkan orang lain. Maka jatuhlah dia kedalam riya’ dan ujub. Lihat pula pembahasan yang lebih luas mengenai hukum penisbatan ini di tulisan kami :

https://kautsaramru.wordpress.com/2014/01/17/memahami-salaf-salafiyyah-dan-salafiyyun-secara-bahasa-manhaj-dan-istilah-bag-3/

Adapun secara umum, ada tiga qaidah utama dalam masalah penisbatan kepada kebenaran ini :

Kaidah pertama, kebenaran (al-Haq) itu datang dari Allah bukan dari orang yang menisbatkannya.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. [QS Al-Baqarah : 147 & QS Ali Imran : 60]

Kaidah kedua, menisbatkan diri kepada kebenaran dengan tidak bermaksud mentazkiyah diri (menganggap diri suci).

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَكَفَىٰ بِهِ إِثْمًا مُبِينًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya suci?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” [QS. AN-Nisaa : 49-50]

Kaidah ketiga, sang penisbat itu memposisikan diri hanya sebagai :

  • Penyampai kebenaran.
  • Orang yang menasehati akan kebenaran.
  • Pembela akan kebenaran jika kebenaran itu dilecehkan.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Adz Dzariyat : 55]

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan saling nasehat menasehati dalam masalah kebenaran dan nasehat menasehati dalam masalah kesabaran.” [QS Al-‘Ashr : 3]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [QS. Muhammad : 7]

Sehingga jika seseorang memenuhi ketiga qaidah di atas, maka penisbatannya kepada kebenaran tidaklah termasuk di dalam ujub.

4. PERINCIAN HUKUM DEBAT UNTUK MENEGAKKAN HUJJAH

Debat adalah salah satu amalan yang terpuji jika tujuan dan caranya benar. Akan tetapi karena ujub itu adalah tergolong ke dalam amalan hati yang mudah masuk ke berbagai macam amalan sholeh, maka ujub masih tetap punya potensi untuk masuk ke dalamnya.

Salah satu cara agar debat dengan tujuan yang benar (baca : menegakkan hujjah) dan cara yang benar itu tidak dikotori dengan ujub, adalah dengan berusaha untuk memenuhi tiga qaidah pada pembahasan point 3 sebelumnya (Penisbatan kepada kebenaran). Yakni :

– Kebenaran (al-Haq) itu datang dari Allah bukan dari orang yang menisbatkannya dan berdebat atasnya.

– Menisbatkan diri kepada kebenaran dengan tidak bermaksud mentazkiyah diri (menganggap diri suci)

– Memposisikan diri hanya sebagai : Penyampai kebenaran, Orang yang menasehati akan kebenaran, dan Pembela akan kebenaran jika kebenaran itu dilecehkan.

Adapun ini adalah pembahasan cara menjaga agar debat dengan tujuan dan cara yang benar tidak disusupi oleh penyakit ujub. Maka bagaimanakah jika debat untuk tujuan dan cara yang salah? Maka tentu saja potensi ujub akan lebih mudah lagi untuk masuk ke dalam hal itu. Ini sudah merupakan hal yang sangat wajar.

Mungkin timbul pertanyaan : Apakah perbedaan antara debat yang benar dan debat yang salah itu? Bagaimana juga beda antara cara debat yang benar dan cara debat yang salah itu? Bagaimanakah syariat membahas dan mengatur masalah ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, maka berikut akan kita terangkan dalam 3 point berikut ini:

  1. Penjelasan Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh
  2. Penjabaran dan penjelasan mengenai hal ini
  3. Dalil-dalil dan perkataan Ulama seputar hal ini.

1. Penjelasan Syaikh Al-Utsaimin rohimahulloh

الفرق بين الجدال والنقاش والمراء

السؤال

 كيف نفرق بين الجدال والمناقشة، ومتى تخرج المناقشة من كونها مناقشة إلى كونها جدالاً؟

الجواب

 الجدال هو المناقشة أو أن المناقشة أعم، والجدال هو: أن الإنسان يجادل من أجل أن يغلب خصمه، والمناقشة: يستفهم ويستطلع المعنى والعلم وما أشبه ذلك، لكن الجدال إذا كان مراءً هذا هو المحرم، إذا كان المقصود بالجدال أن ينتصر لنفسه بحق أو بباطل فهذا لا يجوز، أما إذا كان الجدال يصل إلى الحق ويبطل الباطل فهذا حق مأمور به.

فعندنا الآن مراء وجدال ومناقشة.

المراء: أن يجادل لينتصر قوله.

الجدال: أن يجادل لانتصار الحق.

المناقشة: قد يكون يناقش مع أستاذه لأجل أن يتبين له العلم، ويتبين له وجه الحكم، هذا أيضاً لا بأس به.

Perbedaan antara jidal (perdebatan), munaqasyah (diskusi) dan al-mira’ (debat kusir)
Bersama: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:
Bagaimana membedakan antara jidal (debat) dan munaqasyah (diskusi) dan kapan suatu diskusi bisa berubah menjadi suatu perdebatan?

Jawaban:
Perdebatan adalah diskusi atau bahwa diskusi lebih umum. Jidal adalah seseorang berdebat untuk mengalahkan lawannya. Sedangkan diskusi adalah untuk memahami dan untuk menyelami sebuah makna, ilmu dan yang semisalnya, tetapi perdebatan jika menjadi mira’, maka ini yang dilarang, yaitu jika perdebatan itu untuk membela dirinya baik dengan cara yang benar atau salah, maka ini tidak boleh. Sedangkan jika perdebatan itu untuk menyampaikan kepada kebenaran dan menjelaskan kebatilan maka ini adalah kebenaran yang diperintahkan.

Jadi di sisi kita ada mira’ (debat kusir),  jidal (perdebatan) dan munaqasyah (diskusi).
Mira’: berdebat agar pendapatnya menang.
Jidal: berdebat untuk membela kebenaran.
Diskusi: kadang dia diskusi dengan gurunya agar menjadi jelas sebuah ilmu, dan menjadi jelas sisi hukum. Ini juga tidak mengapa.

Sumber: transkrip Liqa Bab Al Maftuh 223/35 Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah

Lihat : http://sunnah.web.id/perbedaan-antara-jidal-perdebatan-dan-munaqasyah-diskusi/

2. Penjabaran dan penjelasan mengenai hal ini

Debat secara garis besar jika dilihat dari tujuannya, maka Jidal (debat) dibagi menjadi dua :

1. Debat yang terpuji

Debat dikatakan terpuji jika memenuhi syarat sebagai berikut :

  • Bertujuan untuk menyampaikan kebenaran, membantah kebatilan, dan menyibat kabut syubhat yang menyelimuti
  • Dengan berdasarkan dalil yang shohih
  • Dengan berdasarkan cara/metodologi penggunaan dalil yang shohih dan ilmiah
  • Dilakukan dengan akhlaq dan adab yang terpuji.

2. Debat yang tercela

Debat (jidal) dikatakan tercela jika  :

  • Jidal untuk tujuan yang bathil
  • Jidal dalam perkara yang sangat nyata dan jelas (al-ma’lum minad diin bidh dhoruroh)
  • Jidal tanpa dasar, tanpa suatu metodologi keilmuan, dan tanpa kapasitas ilmu.
  • Dilakukan dengan akhlaq dan adab yang buruk

Dilihat dari cara dan tujuannya pun, jidal (debat) bisa dibagi menjadi antara yang terpuji dan yang tercela :

  • Terpuji jika tujuan dan caranya benar.
  • Tercela jika tujuannya benar namun caranya salah.
  • Tercela jika tujuannya salah dan caranya juga salah.

Adapun debat (jidal) jika dilihat dari jenisnya dibagi empat :

  1. Munaqosyah (diskusi). Bertujuan untuk mencari kejelasan dan ilmu dari suatu hal, dengan tanpa tujuan terjadinya suatu perselisihan yang menyebabkan pertikaian.
  2. Jidal (debat). Bertujuan untuk saling beradu argumentasi guna menjatuhkan, melemahkan, atau mengalahkan argumentasi fihak yang lain; dengan tanpa maksud untuk menyebabkan terjadinya pertengkaran.
  3. Miro’ (debat kusir). Debat dalam rangka untuk semata-mata menjatuhkan, mengalahkan, dan mempermalukan fihak yang diajak debat. Debat ini menyebabkan terjadinya pertikaian dan pertengkaran, walaupun tujuan asalnya tidak untuk pertikaian atau pertengkaran.
  4. Khusumah.  Perdebatan yang sejak awalnya terjadi dikarenakan adanya pertikaian/pertengkaran, atau perdebatan yang disertai oleh pertikaian/pertengkaran.

Jika dilihat dari sisi perubahan kondisi debat dan hukumnya :

  1. Hanya berupa munaqosyah (diskusi) dan tidak berubah menjadi jidal, maka hukumnya mubah (boleh) dan dianjurkan untuk para tholabul ‘ilmi guna mencari kejelasan ilmu akan suatu hal.
  2. Awalnya berupa munaqosyah dan kemudian berubah menjadi jidal (debat), namun tidak menjadi miro’ ataupun menjadi suatu perselisihan/pertengkaran. Untuk ini hukumnya boleh bahkan kadang dianjurkan asalkan termasuk dalam kriteria jidal yang terpuji. Adapun jika berubah menjadi jidal (debat) akan tetapi termasuk dalam jidal yang tercela, maka hukum harom dan harus ditinggalkan.
  3. Sejak awal sudah berupa jidal (debat) untuk adu argumentasi dalam suatu hal. Maka hukumnya jika termasuk dalam kriteria jidal yang terpuji, maka hukumnya boleh. Dan jika termasuk dalam kriteria jidal yang tercela, maka hukumnya harom dan harus ditinggalkan.
  4. Awalnya berupa munaqosyah ataupun langsung berawal dari jidal, namun kemudian berubah menjadi miro’. Maka untuk hal ini hukumnya harom dan harus ditinggalkan.
  5. Sejak awal sudah berupa Miro’, maka hukumnya harom dan harus ditinggalkan.
  6. Sejak awal sudah berupa Khusumah, maka hukumnya harom dan harus ditinggalkan. Atau perselisihannnya diselesaikan lewat jalur hijau di hadapan qodhi.

3. Dalil-dalil dan perkataan ulama seputar hal ini.

Dalil Pertama

Nabi Muhammad Shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”

(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah).

Dalil Kedua

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:
“Tinggalkanlah miro’ (jidal, berdebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” (Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897).

Dalil Ketiga

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat bertanya : “Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?” Beliau menjawab,”Orang yang sombong.” [HR at Tirmidzi, ia berkata: “Hadits ini hasan”. Hadits ini dishahihkan oleh al Albani dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2018]

الثَّرْثَارُونَ (tsartsarun), banyak omong dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran.

الْمُتَشَدِّقُونَ (mutasyaddiqun), kata-kata yang meremehkan orang lain dan berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya dan bangga dengan perkataannya sendiri.

الْمُتَفَيْهِقُونَ (mutafaihiqun), berasal dari kata al fahq, yang berarti penuh. Maksudnya, seseorang yang berbicara keras panjang lebar, disertai dengan perasaan sombong dan pongah, serta menggunakan kata-kata asing untuk menunjukkan, seolah dirinya lebih hebat dari yang lainnya.

Dalil Keempat

Allah Ta’ala berfirman :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan jidal-lah (debat/bantah) mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125)

Dalil Kelima

Allah Ta’ala berfirman :
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik”. (QS. Al-‘Ankabut : 46)

Dalil Keenam

Dan Allah Ta’ala berfirman :
قَالُوا يَانُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
“Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Hud : 32)

Dalil Ketujuh

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat. [HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim, no. 2668]

Dalil Kedelapan

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, ‘Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.’ (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448])

Dalil Kesembilan

Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, “Umar pernah berkata kepadaku, ‘Tahukah engkau perkara yang merobohkan Islam?’ ‘Tidak! Jawabku.’ Umar berkata, ‘Perkara yang merobohkan Islam adalah ketergelinciran seorang alim, debat orang munafik tentang Al-Qur’an, dan ketetapan hukum imam yang sesat’.” (Shahih, HR Ad-Darimi [I/71], al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiih wal Mutafaqqih [I/234], Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd [1475], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [IV/196])

Dalil Kesepuluh

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru r.a., ia berkata, “Pada suatu hari aku datang menemui Rasulullah saw pagi-pagi buta. Beliau mendengar dua orang lelaki sedang bertengkar tentang sebuah ayat. Lalu beliau keluar menemui kami dengan rona wajah marah. Beliau berkata, ‘Sesungguhnya, perkara yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah perselisihan mereka al-Kitab’.” (HR Muslim [2666]).

Dalil Kesebelas

Diriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni ‘Abdullah bin ‘Amru r.a.), bahwa suatu hari Rasulullah saw. mendengar sejumlah orang sedang bertengkar, lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya, ummat sebelum kalian binasa disebabkan mereka mempertentangkan satu ayat dalam Kitabullah dengan ayat lain. Sesungguhnya Allah menurunkan ayat-ayat dalam Kitabullah itu saling membenarkan satu sama lain. Jika kalian mengetahui maksudnya, maka katakanlah! Jika tidak, maka serahkanlah kepada yang mengetehuinya.” (Hasan, HR Ibnu Majah [85], Ahmad [II/185, 195-196], dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [121])

Qoul Ulama Pertama

Dari Yahya bin Sa’id ia berkata, Umar bin Abdul Aziz berkata :

Siapa yang menjadikan agamanya bahan perdebatan dan perbantahan maka ia adalah orang yang paling sering berpindah-pindah (pemikirannya).” (Asy Syari’ah 62 dan Ad Darimy 1/102 nomor 304)

Qoul Ulama Kedua

Dari Ma’n bin Isa ia berkata, pada suatu hari Jum’at Imam Malik bin Anas keluar dari mesjid sambil bersandar ke lenganku, seseorang bernama Abul Huriyyah menyusulnya ia diduga seorang Murjiah katanya :

Hai Abu Abdillah, dengarkanlah! Saya mengajakmu bicara tentang sesuatu. Dan saya akan membantahmu dan mengeluarkan pendapatku kepadamu.”

Beliau berkata : “Kalau kamu mengalahkanku bagaimana?” Orang itu berkata : “Kalau aku menang kamu ikut saya.” Kata beliau lagi : “Bagaimana jika datang seseorang lalu mengajak kita berdebat dan mengalahkan kita?” Laki-laki itu menjawab : “Kita ikuti dia.” Maka berkatalah Imam Malik rahimahullah :

“Hai hamba Allah! Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membawa agama yang satu tapi saya melihat kamu selalu berpindah dari satu agama ke agama yang lain.” (Asy-Syari’ah 62)

Qoul Ulama ketiga

Ja’far ibn Muhammad rohimahulloh berkata “Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.” [Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]

Qoul Ulama keempat

Al-Auza’i rohimahimahulloh berkata,

“Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”

[Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]

Qoul Ulama Kelima

Ibnu Taimiyah rohimahulloh dalam kitab beliau Darut Ta’arud an Naqli wal ‘Aqli berkata,

“Jadi,yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain) atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti; berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran, serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.

Jidal (adu hujjah) adalah masalah yang hukumnya belum pasti; dan untuk menentukan hukum tentang masalah ini, tergantung kepada kondisi yang ada. Sedangkan debat yang sesuai dengan syari’at, maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang mustahab.

Kesimpulannya, debat itu terkadang terpuji dan terkadang tercela; terkadang membawa mafsadat (kerusakan) dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan); terkadang merupakan sesuatu yang haq dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil.”

HUBUNGAN ANTARA KEEMPAT HAL ITU DALAM PEMBAHASAN MENGENAI UJUB

Dari empat perincian hal yang berhubungan dengan pertanyaan “Apakah termasuk Ujub jika berada di atas kebenaran dan melawan kebatilan” sebelumnya, yakni :

  1. Amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Sikap pembedaan diri untuk membedakan diri antara kebenaran dan kebatilan.
  3. Penisbatan kepada kebenaran.
  4. Perincian hukum debat untuk menegakkan hujjah

Dapat kita ambil kesimpulan :

  • Umumnya orang yang tidak mengetahui perincian mengenai hal ini akan mudah untuk terjangkiti penyakit ujub. Termasuk juga akan mudah terjangkiti berbagai macam derivatif penyakit ujub ini seperti sombong, hasad/dengki, dan riya’ sebagaimana yang telah kita bahas pada risalah tulisan kedua.
  • Fenomena ini secara umum lebih mudah terjadi pada dua golongan :

1. Terjadi kepada orang yang terkena penyakit Abu Syibrin, para pemuda, dan orang yang memiliki keutamaan; sebagaimana yang telah dijelaskan pada risalah tulisan ketiga.

2. Terjadi kepada orang yang mutasyaddid. Yakni orang yang bersikap terlalu keras dan berlebihan, sehingga dia justru malah keluar dari kebenaran itu sendiri. Ini sebagaimana yang dicontohkan pada hadits yang sebenarnya sudah disebutkan di atas.

إِنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهَ لِفُلاَنٍ. قَالَ اللهُ: مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلَى عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ؟ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ. (رواه مسلم

“Sesungguhnya ada seseorang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan.” Maka Allah berfirman: “Siapa yang lancang mengatakan atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni fulaan?! Sungguh Aku telah mengampuni fulan dan menggugurkan amal-amalmu.” (HR. Muslim)

  • Keempat hal ini juga sebenarnya saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Jika ada satu hal dari empat hal itu dimasuki ujub, maka itu akan mempengaruhi ketiga hal lainnya.

Sebagai contoh : Jika seseorang terkena ujub dalam sisi amar ma’ruf nahi munkar, maka dia akan berusaha membedakan diri dan menisbatan diri kepada kebenaran dikarenakan pengaruh ujubnya. Termasuk juga jika terjadi debat, maka dia akan berargumentasi dan berdebat atas dasar rasa ujubnya itu juga.

Oleh karena itu, keempat hal ini memang saling berkaitan dan tiap-tiap orang harus mengerti perincian ilmu dan hukum mengenai keempat hal ini, agar bisa terhindar dari bahaya penyakit ujub dan derivatifnya. Semoga kita bisa terhindar dan dilindungi dari hal-hal yang seperti ini. Aamiiin

RUMUSAN KESIMPULAN

1. Ujub adalah suatu perbuatan hati yang berperan sebagai “double agent”. Bisa masuk ke dalam hati orang yang bermaksiat, dan juga bisa masuk ke dalam hati orang yang sedang berbuat kebaikan dan membela kebenaran.

2. Pembahasan apakah termasuk ujub jika berada di atas kebenaran dan melawan kebatilan terbagi menjadi 4 pembahasan yang saling berhubungan:

  • Amar ma’ruf nahi munkar.
  • Sikap pembedaan diri untuk membedakan diri antara kebenaran dan kebatilan.
  • Penisbatan kepada kebenaran.
  • Perincian hukum debat untuk menegakkan hujjah

3. Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar harus selalu berusaha menjauhkan diri dari syuhroh (mencari popularitas), agar tidak jatuh ke dalam ujub dan riya’.

4. Dalam sikap membedakan diri antara kebenaran dan kebatilan, seseorang haruslah mengetahui perincian mengenai perbedaan antara hal-hal yang termasuk dalam masalah Al-ma’lum minad diini bid dhoruroh/ushul (pokok)/aqidah dengan hal-hal yang termasuk dalam masalah ijtihadiyah.

5. Dalam masalah ijtihadiyah pun, seseorang haruslah bisa membedakan lagi antara ijtihadiyah yang diberi udzur dan toleransi dengan kemungkaran yang berkedok ijtihadiyah yang bertujuan menipu agar dianggap sebagai perbedaan pendapat yang diberikan toleransi di dalamnya. Ini adalah dua hal yang berbeda.

6. Penisbatan diri kepada kebenaran bukan termasuk ujub jika memenuhi tiga syarat dan qaidah sebagai berikut :

  • Kebenaran (al-Haq) itu datang dari Allah bukan dari orang yang menisbatkannya dan berdebat atasnya.
  • Menisbatkan diri kepada kebenaran dengan tidak bermaksud mentazkiyah diri (menganggap diri suci)
  • Memposisikan diri hanya sebagai : Penyampai kebenaran, Orang yang menasehati akan kebenaran, dan Pembela akan kebenaran jika kebenaran itu dilecehkan.

7. Debat ada yang terpuji dan ada yang tercela.

  • Terpuji jika tujuan dan caranya benar.
  • Tercela jika tujuannya benar namun caranya salah.
  • Tercela jika tujuannya salah dan caranya juga salah.

8. Debat memiliki beberapa jenis nama dan pengertian yang berbeda dalam bahasa arab seperti : Munaqoshah, Jidal, Miro’, dan Khusumah.

9. Munaqoshah (diskusi) hukumnya boleh dan tidak mengapa, walaupun di dalamnya ada  adu argumentasi asalkan bertujuan untuk memahami dan menyelami sebuah makna, ilmu, dan yang semisalnya. Dan di dalam munaqoshah tidak ada tujuan untuk menjatuhkan dan mengalahkan.

10. Jidal (debat) adalah suatu adu argumen tanpa diselingi adanya pertikaian, walaupun adu argumen itu bertujuan untuk melemahkan ataupun mematahkan argumen yang lainnya.

11. Suatu jidal (debat) dikatakan terpuji jika bertujuan untuk menyampaikan kebenaran, dengan metodologi ilmiah yang jelas, untuk membela kebenaran, dan menjelaskan kebatilan. Jidal jenis ini hukumnya boleh dan bahkan diperintahkan asalkan sesuai dengan pertimbangan mashlahat madhorot.

12 Jidal (debat) tercela jika  :

  • Jidal untuk tujuan yang bathil
  • Jidal dalam perkara yang sangat nyata dan jelas (al-ma’lum minad diin bidh dhoruroh)
  • Jidal tanpa dasar, tanpa suatu metodologi keilmuan, dan tanpa kapasitas ilmu.

13. Khusumah adalah perdebatan karena ada atau disertai oleh pertikaian, dan ini termasuk dalam bagian debat yang tercela.

14. Miro’ adalah debat dalam rangka untuk semata-mata menjatuhkan, mengalahkan, dan mempermalukan fihak yang diajak debat. Atau berdebat dengan tujuan agar pendapatnya menang. Ini termasuk dalam debat yang tercela dan hawa nafsu serta ujub sangat mudah untuk berperan di dalamnya.

15. Orang-orang yang tidak mengetahui perincian ilmu 4 hal dalam pembahasan “apakah termasuk ujub jika berada di atas kebenaran dan melawan kebatilan”, umumnya mudah terkena penyakit ujub dan derivatifnya. Dan ironisnya orang-orang ini merasa mereka berada di atas kebenaran dan hatinya selamat dari penyakit ujub. Padahal mereka terkena penyakit Ujub tanpa disadari.

16. Fenomena ini umumnya lebih mudah terjadi pada :

  • Orang yang terkena penyakit Abu Syibrin, para pemuda, dan orang yang memiliki keutamaan; sebagaimana yang telah dijelaskan pada risalah tulisan ketiga.
  • Orang yang mutasyaddid. Yakni orang yang bersikap terlalu keras dan berlebihan, sehingga dia justru malah keluar dari kebenaran itu sendiri.

Bersambung -insya Alloh-

Advertisements