Risalah Ujub (Bag 5)

Leave a comment

HUKUM UJUB KETIKA SUDAH DIDHOHIRKAN

Telah berlalu di risalah ketiga, bahwa hukum ujub jika masih berupa lintasan hati maka hukumnya tidak mengapa. Akan tetapi bagaimanakah hukum ujub ketika sudah didhohirkan atau ditampakkan, baik itu dalam bentuk perbuatan ataupun perkataan?

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَكَثِيرًا مَا يَقْرِنُ النَّاسُ بَيْنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ فَالرِّيَاءُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالْخَلْقِ وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } فَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } خَرَجَ عَنْ الرِّيَاءِ وَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } خَرَجَ عَنْ الْإِعْجَابِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمَعْرُوفِ : { ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ }

“Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa’ dan ujub. Riyaa termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada orang lain-pen) adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu merasa dirinyalah atau kehebatannyalah yang membuat ia bisa berkarya-pen).

Ini merupkan kondisi orang yang sombong. Orang yang riyaa’ tidak merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ “Hanya kepadaMulah kami beribadah”, dan orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan”. Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ maka ia akan keluar lepas dari riyaa’, dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah  وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ maka ia akan keluar terlepas dari ujub” (Majmuu’ Al-Fataawaa 10/277).

Dari penjelasan Ibnu Taimiyah rohimahulloh maka kita mengetahui, hukum dari ujub itu adalah syirik ashghor (syirik kecil) sebagaimana sama seperti hukum dari riya’. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di bawah ini,

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?

Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Selanjutnya, bagaimanakah hukum dari amalan kita yang tercampur dengan ujub itu? Maka jawabnya adalah karena ujub disamakan dengan riya dari sisi hukumnya, maka hukum amalan yang tercampur dengan ujub perinciannya sama dengan perincian hukum amalan yang tercampur dengan riya’.

******

Para ulama menjelaskan bahwa amal shalih yang tercampur unsur riya tidak bisa disamakan hukumnya, akan tetapi harus dirinci sebagaimana berikut:

–  Apabila pendorong utama seseorang untuk beramal shalih adalah keinginan dilihat orang, dan niat ini terus menerus ada padanya dari awal sampai akhir, maka amal shalihnya gugur, tidak ada nilainya, dan ia terjerumus ke dalam syirik ashghar yang dikhawatirkan akan mengantarkannya kepada syirik akbar.

–  Apabila pendorong utamanya adalah mengharap wajah Allah dan keinginan dilihat orang, kemudian dia tidak menghilangkan niat riya tersebut dari dirinya, maka  nash-nash yang ada menunjukkan bahwa amal shalih itu gugur, tidak bernilai.

–  Apabila pendorong utamanya adalah mengharap wajah Allah semata, namun kemudian pada pertengahan amal terbersit keinginan untuk dilihat orang, maka ada dua keadaan:

  1. Jika dia menolak keinginan yang terbersit dalam hatinya itu dan kembali memurnikan niatnya dalam beramal, maka hal itu tidaklah bermudarat baginya. Amalnya tidak gugur.
  2. Jika dia mengikuti bersitan hatinya itu, merasa nyaman dengannya dan tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amal shalihnya tersebut berkurang nilainya, dan dia termasuk orang yang keimanan dan keikhlasannya lemah sesuai dengan unsur riya yang ada di dalam hatinya.

Sumber : http://sunnah.or.id/buletin-assunnah/riya-dan-mencari-dunia-dengan-amal-shalih.html

******

Maka hukum dari suatu amalan yang tercampur dengan ujub, adalah sama seperti perincian hukum riya’ seperti yang dijelaskan di atas. Walloohu A’lam

More

Advertisements

Risalah Ujub (Bag 4)

Leave a comment

APAKAH TERMASUK UJUB JIKA BERADA DI ATAS KEBENARAN DAN SEDANG MELAWAN KEBATILAN?

Pembahasan ini sebenarnya mencakup ke dalam empat hal yang cukup erat dan saling berhubungan, yakni antara :

  1. Amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Sikap pembedaan diri untuk membedakan diri antara kebenaran dan kebatilan.
  3. Penisbatan kepada kebenaran.
  4. Perincian hukum debat untuk menegakkan hujjah

Sebagaimana sholat yang bisa terjangkit penyakit ujub, sombong, dan riya, maka empat hal di atas itu pun juga bisa terjangkiti penyakit ujub, sombong, dan riya. Hal ini karena ujub adalah perbuatan hati.

Ujub tidak memilih untuk masuk ke dalam hati orang yang berbuat maksiat saja (yakni agar dia bangga terhadap kemaksiatannya). Akan tetapi ujub dengan bantuan hawa nafsu dan bisikan syaithon, justru akan lebih berusaha untuk masuk ke dalam hati-hati orang-orang yang hendak berbuat kebaikan. Apalagi terhadap orang-orang yang sedang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan debat untuk iqomatul hujjah…..

Ujub itu memang seorang “double agent”. Dia bisa masuk ke dalam hati orang yang bermaksiat, dan juga bisa masuk ke dalam hati orang yang sedang berbuat kebaikan dan membela kebenaran. Berikut adalah perincian pembahasan dari keempat hal tersebut.

More

Ebook : Memahami Salaf, Salafiyyah, dan Salafiyyun

Leave a comment

E-book ini merupakan tulisan berseri yang saya tulis di blog ini. Untuk mempermudah, maka tulisan tersebut saya kumpulkan dan saya jadikan satu.

E-book ini diharapkan bisa membantu dalam memahami duduk perkara antara pengertian Salaf, Salafiyyah, dan Salafiyyun; lengkap dengan berbagai dalil, qaidah, dan penjelasan mengenai berbagai macam polemik mengenainya. Untuk lebih jelas mengenai hal itu, silakan download ebook tersebut di link di bawah ini.

( Ebook : Memahami Salaf, Salafiyyah, dan Salafiyyun )

Semoga ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Baarokalloohu fiik