Alhamdulillaah, sekarang kita sudah mencapai tulisan ketiga yang merupakan tulisan terakhir dari tema bahasan kita ini.

Di tulisan pertama kita sudah memahami asal-muasal, arti, dan berikut akar historis dari istilah Salaf tersebut. Di tulisan kedua kita juga sudah membahas panjang lebar mengenai penisbatan manhaj kepada Salaf yang lazim disebut dengan istilah Salafiyyah.

Sempat juga kita bahas disitu perihal istilah-istilah lain seperti Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Jama’ah, Jama’atul Muslimiin, Firqotun Najiyah, Thoifah Al-Manshuroh, Al-Ghuroba, dan As sawadul A’dzom yang merupakan nama lain dari istilah Salafiyyah dengan konteks yang berbeda-beda (baca: sinonim).

Berikut disini akan kita bahas istilah Salafi (bentuk tunggal) atau Salafiyyun (Bentuk jamak), yang merupakan orang-orang yang berusaha untuk melazimkan diri menisbatkan kepada manhaj Salaf atau Salafiyyah.

PEMBAHASAN MENGENAI ISTILAH SALAFI (BENTUK TUNGGAL) ATAU SALAFIYYUN (BENTUK JAMAK)

1. Salafi secara bahasa ataupun secara istilah tidaklah memiliki perbedaan makna yang berarti, semuanya kembali kepada arti penisbatan seseorang kepada manhaj Salaf.

Disebut Salafi (atau As-Salafi السلفي , jika dalam bentuk isim ma’rifat) jika tertuju kepada individu tunggal atau perseorangan. Dan disebut Salafiyyun (Atau As-Salafiyyuun السلفيون , jika dalam bentuk isim ma’rifat) jika tertuju kepada orang yang jumlahnya banyak atau jamak.

2. Istilah Salafiyyun atau Salafi ini mempunyai syarat, yakni tidak hanya sekedar mengaku-aku menisbatkan diri kepada Salafiyyah, akan tetapi juga harus ada kesesuaian antara amalannya dengan pengakuannya. Karena boleh jadi ada orang yang mengaku-aku dirinya sebagai salafy padahal dia bukanlah salafy.

Hal ini sebagaimana yang disebut oleh Al-Lajnah Ad-Daimah dan ulama lainnya,

—————-

Al-Lajnah ad-Da-imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah (wafay th. 1420 H) pernah ditanya:

Apakah yang dimaksud dengan Salafiyyah dan bagaimana pendapat antum sekalian tentangnya?

Maka Lajnah menjawab:

As-Salafiyyah adalah penisbatan kepada Salaf, sedangkan Salaf adalah para Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam pembawa petunjuk pada masa tiga kurun pertama -semoga Allah meridhai mereka- yang disaksikan dengan kebaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau:

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka Mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” [HR. Bukhari (no. 2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim no. 2533 (212)]

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, al-Bukhari dan Muslim.

Sedangkan Salafiyyun adalah bentuk jamak dari Salafi, sebuah nisbat kepada Salaf, dan maknanya telah dijelaskan.

Mereka (Salafiyyun) adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salaf dalam mengikuti Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, mendakwahkan keduanya, dan mengamalkan keduanya. Maka dengan hal itu mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Wabillaahit taufiq.

[Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ (II/242-243, fatwa no. 1361)]

—————————

Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahulloh pernah ditanya :

ثم سُئل حفظه الله : يقول فضيلة الشيخ وفقكم الله :
بعض الناس يختم اسمه بـ (السلفي) أو (الأثري)، فهل هذا من تزكية النفس ؟ أو هو موافـــق للشـرع؟

Pertanyaan, “Sebagian orang mengakhiri namanya dengan embel-embel assalafy atau al atsary. Apakah tindakan ini termasuk memuji diri sendiri ataukah malah sejalan dengan syariat?”

فأجاب حفظه الله :
المفروض أن الإنسان يتبع الحق ، المطلوب أن الإنسان يبحث عن الحق ويطلب الحق ويعمل به ،

Jawaban Syaikh Shalih al Fauzan, “Yang menjadi kewajiban setiap orang adalah mengikuti kebenaran (baca: manhaj salaf). Yang diperintahkan atas setiap orang adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya.

أما أنه يُسمى بـ (السلفي) أو (الأثري) أو ما أشبه ذلك فلا داعي لهذا ، الله يعلم سبحانه وتعالى

Adapun menamai diri sendiri dengan embel-embel assalafy atau al atsary atau semisal itu maka itu adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan. Allah mengetahui realita senyatanya dari kondisi seseorang.

(قل أتعلمون الله بدينكم والله يعلم ما في السماوات وما في الأرض والله بكل شيء عليم) .

Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah apakah kalian hendak memberi tahu Allah tentang ketaatan kalian. Dan Allah itu mengetahui semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan Allah itu mengetahui segala sesuatu” [QS al Hujurat:16].

التسمي : (سلفي) ، (أثري) أو ما أشبه ذلك، هذا لا أصل له ، نـحن ننظر إلى الحقيقة ، ولا ننظر إلى القول والتسمي والدعاوى .

Memberi embel-embel assalafy, al atsary atau semisalnya di belakang nama seseorang adalah perbuatan yang tidak berdasar. Kita melihat realita senyatanya, bukan pengakuan, embel-embel dan klaim.

قد يقول إنه (سلفي) وما هو بسلفي (أثري) وما هو بأثري ، وقد يكون سلفياً وأثرياً وهو ما قال إني أثري ولا سلفي .

Boleh jadi ada orang yang mengaku-aku dirinya sebagai salafy padahal dia bukanlah salafy atau mengaku-aku atsary padahal bukan atsary. Boleh jadi ada seorang yang benar-benar salafy dan atsary namun dia tidaklah menyebut-nyebut dirinya sebagai atsary atau pun salafy.

فالنظر إلى الحقائق لا إلى المسميات ولا إلى الدعاوى ، وعلى المسلم أنه يلزم الأدب مع الله سبحانه وتعالى .

Yang jadi tolak ukur adalah realita senyatanya, bukan semata-mata klaim. Menjadi kewajiban setiap muslim untuk beradab kepada Allah.

لما قالت الأعراب آمنا أنكر الله عليهم: ( قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا )

Tatkala orang-orang arab badui mengatakan, “Kami telah beriman” Allah menegur mereka dengan firman-Nya yang artinya, ”Orang-orang badui mengatakan, ”Kami telah beriman”. Katakanlah kalian belum beriman akan tetapi katakanlah kami telah berislam” [QS al Hujurat:14].

الله أنكر عليهم أنهم يصفون أنفسهم بالإيمان ، وهم ما بعد وصلوا إلى هذه المرتبة، توُّهُم داخلين في الإسلام .

Allah menegur mereka karena mereka memberi label iman kepada diri mereka sendiri karena salah pahal dengan status mereka yang telah masuk ke dalam Islam padahal mereka belum sampai level tersebut

أعراب جايين من البادية ، وادعوا أنهم صاروا مؤمنين على طول! لا.. أسلَموا دخلوا في الإسلام ، وإذا استمروا وتعلموا دخل الإيمان في قلوبهم شيئاً فشيئاً :

Orang-orang badui yang baru saja datang dari perkampungan nomaden mengklaim bahwa diri mereka adalah orang-orang yang beriman. Ini tentu saja tidak benar. Mereka baru saja berislam alias baru saja masuk Islam. Jika mereka terus berislam dan mau terus mengkaji maka iman akan masuk ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit.

(ولما يدخل الإيمان في قلوبكم) كلمة (لمّا) للشيء الذي يُتوقع ، يعني سيدخل الإيمان ، لكن أنك تدعيه من أول مرة تزكية للنفس.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan iman itu belum masuk ke dalam hati kalian” [QS al Hujurat:14]. Kata-kata lamma yang kita terjemahkan dengan ’belum’ adalah kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan akan terwujudnya apa yang diharapkan. Artinya iman akan masuk ke dalam hati mereka. Akan tetapi tiba-tiba anda mengklaim diri anda sebagai orang yang beriman maka ini termasuk memuji diri sendiri yang merupakan perbuatan terlarang.

فلا حاجة إلى أنك تقول أنا (سلفي) .. أنا (أثري) أنا كذا.. أنا كذا ، عليك أن تطلب الحق وتعمل به، تُصلح النية والله هو الذي يعلم سبحانه الحقائق.
العلامة صالح بن فوزان الفوزان

Tidak perlu anda mengatakan ‘Saya salafy, Saya atsary’, saya demikian atau demikian. Kewajiban anda adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya. Perbaikilah niat dan Allah itu yang mengetahui hakekat senyatanya”.

Sumber:

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=15967

Sumber link : http://ustadzaris.com/hukum-embel-embel-as-salafy

—————————

3. Dari hal ini, maka banyak diantara para ulama dakwah Salafiyyah yang jelas-jelas mendakwahkan Manhaj Salaf, yang jelas-jelas membela manhaj Salaf dari serangan para ahlul bid’ah, yang jelas-jelas memberantas berbagai macam syubhat kebid’ahan dengan berdasarkan ilmu yang haq; yang tidak memberikan embel-embel penisbatan As-Salafi atau al-Atsari di belakang nama mereka.

Padahal mereka sangat pantas dan lebih berhaq akan hal itu dibandingkan orang lain.

Sebagai contoh, maka mari kita lihat Imam Dakwah Salafiyyah era kontemporer ini seperti : Imam Ibnu Baz rohimahulloh, Imam Albani rohimahulloh, dan Imam Al-Utsaimin rohimahulloh. Tidak pernah mereka menambahkan gelar penisbatan As-Salafi atau Al-Atsari di belakang nama mereka.

Padahal para Salafiyyun pada masa kita ini umumnya sepakat untuk menerima dan merujuk kepada mereka (baca : sebagai tempat bertanya dalam masalah keilmuan dan fatwa), dalam hal yang berkaitan dengan dakwah salafiyyah dan berbagai macam problematikanya di zaman modern ini.

Hal ini tidak lain dikarenakan ketawadhu’an mereka, takut kalau melakukan hanya dalam rangka mentazkiyah diri sendiri, dan juga karena mereka lebih mementingkan kesesuaian antara amalan dan perkataan dibandingkan dengan sekedar gelar penisbatan.

—————–

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah pernah ditanya :

فضيلة الشيخ وفقكم الله  : يقول بعض طلبة العلم إنه لا ينبغي لأحد أن يقول أنا سلفي لأن في هذا تزكية للنفس فهل ما يقوله صحيح ؟

Fadhilatusy Syaikh semoga Allah memberi taufiq kepadamu : sebagian penuntut ilmu mengatakan bahwa tidak seyogyanya seseorang mengatakan : “saya salafy” karena dalam perkataannya ini mengandung tazkiyah terhadap dirinya. Apakah yang dia katakan ini benar ?

Syaikh hafidzahullah menjawab :

إذا كان يقول هذا من باب تزكية نفسه لا يجوز هذا نعم ، اما إذا كان يقوله من باب البيان لأنه بين أحزاب وجماعات مخالفة ويتبرأ منهم ، ويقول أنا سلفي أنا على منهج السلف من باب البراءة هذا طيب ، نعم

Jika tujuan dari perkataannya tersebut untuk mentazkiyah dirinya maka tidak boleh, na’am. Namun jika tujuannya adalah untuk menjelaskan bahwa dia berlepas diri dari kelompok-kelompok dan jama’ah-jama’ah menyimpang, lalu dia katakan : “saya salafy, saya diatas manhaj salaf” dalam rangka berlepas diri (dari kelompok menyimpang), maka bagus. Na’am.

[Sesi tanya jawab durus (kajian rutin) kitab Fath Al Majid, Syarah Kitabut Tauhid. Riyadh, 23/4/1434]

Sumber : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=136196

—————–

4. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu untuk dicatat :

– Hukum asal dari mengikuti manhaj Salaf itu hukumnya wajib (lihat kembali pembahasan di tulisan kedua sebelumnya)

– Adapun hukum dari keharusan menamakan diri dengan penisbatan kepada Salaf, maka ini hukum asalnya mubah saja (boleh) bukan wajib, asalkan terpenuhi tiga syarat di bawah ini :

  1. Tidak menisbatkan diri kepada Salaf dengan istilah Salafi atau Salafiyyun, untuk tujuan mentazkiyah diri sendiri.
  2. Tidak menisbatkan diri kepada Salaf dengan istilah Salafi atau Salafiyyun, untuk tujuan hizbiyyah, atau bergolong-golongan, atau membentuk kelompok jama’ah kumpulan orang-orang yang eksklusif untuk membedakan diri dari masyarakat Islam secara umum.
  3. Tujuan menamakan diri dengan menggunakan penisbatan kepada Salaf, dengan maksud untuk membedakan diri atau memisahkan diri dari aqidah-aqidah, kelompok-kelompok, dan manhaj-manhaj yang menyimpang dari Sunnah. Dan bukan bertujuan untuk membedakan diri atau memisahkan diri dari masyarakat Islam secara umum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata,

لا عيب على من أظهر مذهب السلف و انتسب إليه أو اعتزى إليه ، بل يجب قبول ذلك منه بالاتفاق فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقاً
“Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”. (Majmu’ Fatawa IV:149)

5. Sehingga jika ada seseorang yang bersesuaian antara amalannya, aqidahnya, dan pemahamannya dengan manhaj Salaf; namun dia tidak pernah menyebut diri dengan penisbatan nama Salafi atau Salafiyyun. Atau bahkan mungkin dia tidak pernah mengetahui apa itu arti dari istilah Salafi. Maka pada hakekatnya dia adalah seorang Salafi, walaupun dia tidak pernah mengaku-aku sebagai Salafi. (Lihat lagi fatwa Syaikh Al-Fauzan rohimahulloh pada point nomer 3 di atas)

Kesesuaian antara amalannya dengan manhaj Salaf lah yang menjadi tolak ukur, bukan “stempel” ataupun pengaku-akuan penyebutan diri sebagai seorang Salafi yang menjadi patokan.

PEMAKAIAN ISTILAH SALAFIYYUN : DI ANTARA ORANG YANG MEMBENCI DAN ORANG YANG BERLEBIH-LEBIHAN

6. Berdasarkan penjelasan kelima point di atas, kita mendapatkan bahwa dalam kenyataannya kadang terdapat dua golongan yang berlebih-lebihan (baca : ghuluw) dalam masalah penisbatan diri dengan istilah Salafi ini. Padahal hukum asal dari penisbatan diri dengan istilah Salafi ini hukumnya adalah Mubah saja.

  • Sebagian orang berlebih-lebih dengan mengatakan menisbatkan diri dengan menyebut diri sebagai Salafi itu terlarang hukumnya, bahkan mengatakan bahwa ini adalah sesuatu hal yang bid’ah.
  • Sebagian orang yang lain mengatakan menisbatkan diri dengan menyebut diri sebagai Salafi itu wajib hukumnya, sehingga mereka berlomba-lomba dalam memperoleh pengakuan stempel Salafi ini.

7. Orang yang berlebih-lebihan (baca : ghuluw) dengan mengatakan menisbatkan diri dengan menyebut diri sebagai Salafi itu terlarang, sebenarnya terdiri dari :

  • Orang-orang atau masyarakat Islam yang kurang pemahaman dan ilmunya, terutama berkenaan dengan manhaj Salaf.
  • Orang-orang atau masyarakat Islam yang terfitnah dan terhasut oleh kebohongan dan fitnah, sehingga membenci manhaj Salaf.
  • Orang-orang dari golongan ahlul bi’dah yang dengki terhadap dakwah manhaj Salaf (Salafiyyah), yang senantiasa mengeluarkan berbagai macam syubhat dan tuduhannya untuk menjatuhkan dakwah Salaf dan da’i-da’i nya. Yang mana mereka senantiasa mendiskreditkan orang-orang yang berusaha untuk beriltizam terhadap manhaj Salaf.

Hal ini terlihat dari klarifikasi keputusan risalah yang dikeluarkan oleh MUI Jakarta Utara, ketika menverifikasi tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap dakwah Salafiyyah dan para dai-dainya.

——————————-

Pandangan MUI Jakarta Utara

Tentang Salaf / Salafi

Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Utara mengeluarkan keputusan tentang Salaf/ Salafi. Keputusan itu dikeluarkan secara resmi dan ditandatangani oleh Ketua Umum QOIMUDDIEN THAMSY dan Sekretaris Umum Drs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI. Keputusan dengan judul Pandangan Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara Tentang SALAF/SALAFI itu dikeluarkan di Jakarta, 12 Rabi’ul Akhir 1430 Hl 08 April 2009.

Salinan teks selengkapnya sebagai berikut:

Salinan

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Kotamadya Jakarta Utara

Jl. Yos Sudarso No. 27-29 Telp. (021) 4357422, 4301124 Ext. 5375,

Fax. 4357422 Jakarta

                                                                         —————————————————————————————————–

Pandangan Majelis Ulama Indonesia

Kota Administrasi Jakarta Utara

Tentang

SALAF/SALAFI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Utara,

MENIMBANG :

a. bahwa pada akhir-akhir ini berkembang kajian-kajian salaf di beberapa daerah yang banyak masyarakat belum memahami makna salaf itu;

b. bahwa terjadi kesalah pahaman dalam memahami salaf;

c. bahwa muncul vonis sesat kepada keberadaan kajian-kajian salaf;

d. bahwa oleh karena itu, MUI Kota Administrasi Jakarta Utara perlu memberikan penjelasan tentang salaf/salafi, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

MENGINGAT :

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujuraat : 6)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzaab [33] : 36)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisaa [4] : 59)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am [6] : 116)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minuun [23] : 71)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9] : 100)

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seluruh ummatku masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah siapakah yang enggan?. Beliau menjawab: “Siapa yang ta’at kepadaku masuk surga dan yang ma’shiyat kepadaku maka ia enggan (masuk surga).” (H.R. Al-Bukhari)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهم ( ما تمسكتم بهما ) كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض ) . أخرجه مالك مرسلا والحاكم مسندا وصححه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga masuk ke telaga (Al-Kautsar). (H.R. Malik secara mursal dan Al-Hakim dengan sanad yang bersambung dan ia mensahihkannya)

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ حَدَّثَنَا أَوْ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَتْ مَلاَئِكَةٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ نَائِمٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا إِنَّ لِصَاحِبِكُمْ هَذَا مَثَلاً فَاضْرِبُوا لَهُ مَثَلاً . فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا مَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا ، وَجَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً وَبَعَثَ دَاعِيًا ، فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِىَ دَخَلَ الدَّارَ وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِىَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ . فَقَالُوا أَوِّلُوهَا لَهُ يَفْقَهْهَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا فَالدَّارُ الْجَنَّةُ ، وَالدَّاعِى مُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا – صلى الله عليه وسلم – فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَى مُحَمَّدًا – صلى الله عليه وسلم – فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ .

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, berkata: (suatu ketika) datang para malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau tidur. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga.

Mereka berkata: sesungguhnya teman kalian ini (Nabi Muhammad-penj) memiliki perumpamaan, maka jadikanlah untuknya perumpamaan. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga.

Mereka berkata, perumpamaannya seperti orang yang membangun rumah, menyediakan hidangan dan mengundang orang untuk datang. Siapa orang yang menjawab undangan, maka ia akan masuk rumah dan menyantap hidangan. Yang tidak menjawab undangan maka tidak masuk ke dalam rumah dan tidak menyantap hidangan. Mereka berkata, jelaskan ma’na perumpamaan itu kepadanya agar ia memahaminya. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga.

Mereka berkata rumah adalah (perumpamaan) surga, orang yang mengundang adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa orang yang ta’at kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia ta’at kepada Allah. Siapa orang yang menentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah menentang Allah. Muhammad adalah pembela diantara manusia (antara yang ta’at dan yang menentang). (H.R. Al-Bukhari)

MEMPERHATIKAN :

Keterangan dan penjelasan dari beberapa da’i salafi yang telah dikonfirmasi oleh pihak MUI Kota Administrasi Jakarta Utara.

Dengan bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala,

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : PANDANGAN MUI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TENTANG SALAFI

Pertama : Penjelasan tentang apa itu SALAF/SALAFI

1. Salaf/salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga Salaf/salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini.

2. Salaf/salafi adalah nama yang diambilkan dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun telah sejak dahulu ada.

4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menggunakan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kedua : Nasehat dan Tausiyah kepada masyarakat

1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa diklarifikasi terlebih dahulu.

2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab.

3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang obyektif tentang masalah ini kepada masyarakat.

4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 12 Rabi’ul Akhir 1430 H.

08 April 2009

DEWAN PIMPINAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA

Ketua Umum,

Sekretaris Umum,

Ttd

QOIMUDDIEN THAMSY

cap ttd

Drs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI

Sumber : http://www.nahimunkar.com/pandangan-mui-jakarta-utara-tentang-salaf-salafi/

———————————-

8.  Adapun orang yang berlebih-lebihan (baca : ghuluw) dengan mengatakan menisbatkan diri dengan menyebut diri sebagai Salafi itu hukumnya wajib, maka orang-orang ini sebenarnya terdiri dari :

– Orang-orang yang belum bisa membedakan perincian hukum, antara perbedaan hukum mengenai kewajiban mengikuti Manhaj Salaf dan perbedaan hukum kelaziman menyebut diri sebagai Salafi.

– Orang-orang yang memandang manhaj Salaf adalah suatu manhaj yang haq, namun menganggap syarat baru bisa disebut sebagai seorang Salafi itu adalah jika :

  • Harus melazimi suatu majlis ta’lim atau ustadz tertentu.
  • Harus merujuk tokoh Ulama Salafiyyah tertentu dengan mengabaikan Ulama Salafiyyah yang lain. Bahkan menganggap Ulama Salafiyyah yang dirujuk itu, sebagai barometer sikap dalam perihal wala’ (loyalitas) dan baro (Sikap benci dan melepaskan diri) dengan mengabaikan kaidah-kaidah ilmiah serta pendapat Ulama Salafiyyah lainnya.
  • Harus melazimi suatu pendapat fiqh furuiyyah tertentu dan ijtihad dari ulama tertentu, dengan mengabaikan pendapat dari para Ulama Salafiyyah yang lain. Mereka umumnya juga kurang bersikap terbuka dalam permasalahan diskusi ilmiah di masalah fiqh dan ijtihadiyyah.
  • Harus melazimi sikap dan mensetujui penilaian jarh wa ta’dil (celaan dan pujian) dari ulama Salafiyyah tertentu terhadap seorang tokoh atau yayasan tertentu, dengan mengabaikan pendapat jarh wa ta’dil ulama Salafiyyah lainnya. Berikut juga mengabaikan tarjih ilmiah di antara pendapat jarh wa ta’dil itu. Padahal seseorang itu bisa jadi dia benar dan bisa jadi juga dia itu salah. [Lihat juga nasehat masalah pandangan jarh wa ta’dil dalam kutipan tulisan saya yang lain di : https://kautsaramru.wordpress.com/2013/12/01/kaidah-untuk-memahami-jarh-wa-tadil-kontemporer-di-masa-ini-agar-terhindar-dari-fitnah-dan-kemadhorotan/ ]
  • Cenderung bersikap keras (mutasyaddid) dalam masalah sikap hajr (mengisolir orang lain) dan tahdzir (memperingatkan orang lain akan bahaya suatu hal), dengan tanpa melihat tahapan-tahapan dan mashlahat-madhorotnya.
  • Mempunyai akhlaq yang buruk dan sikap tanfir (membuat orang lari) ketika berdakwah di masyarakat.

Secara kelaziman, orang-orang seperti inilah yang mempersempit makna dan ruang dakwah Salafiyyah. Lebih mempunyai tendensi untuk memiliki sikap hizbiyyah, berkelompok-kelompok, eksklusif, dan sektarian. Mereka sebenarnya menginginkan kebenaran, akan tetapi malah keluar dari kebenaran karena sikap yang berlebih-lebihannya itu (baca : ghuluw).

Para ulama Salafiyyah memberikan nasehat terhadap orang-orang yang seperti ini sebagai berikut,

————–

KERAJAAN SALAFY

DR. Anis Thahir Al Andunisy hafidzahulloh berkata:
“Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu sama pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja”.

Pada kesempatan yang lain beliau berkata:
“Innalillah…. Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya”

Dr. Anis Thahir Al Andunisy adalah pengajar tetap di Masjid Nabawi As Syarief dan Dosen Fakultas Hadits Universitas Islam Madiinah. Beliau mengajar mata kuliah Al Jarh Watta’dill
(Copas status akhi Aan chandra Tolib hafizohulloh, mahasiswa Universitas Madinah yang selalu melazimi dars sykh Anis di masjid Nabawi)

Sumber : http://firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/617-kerajaan-salafy

———————-

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh berkata,

يُستفاد من قوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم:\” إنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً ، فعليكم بسنتي..\”، أنه إذا كثرت الأحزاب في الأمة؛ لا تنتمي إلى حزب.
هنا ظهرت طوائف من قديم الزمان: خوارج.. معتزلة.. جهمية.. شيعة بل رافضة..
ثم ظهرت أخيراً: إخوانيون.. وسلفيون.. وتبليغيون.. وما أشبه ذلك.
كل هذه الفرق اجعلها على اليسار، وعليك بالأمام، وهو: ما أرشد إليه النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: \” عليكم بسنتي، وسنة الخلفاء الراشدين\”.
ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف، لا الانتماء إلى حزب معيّن يسمى (السلفيين) ..
الواجب أن تكون الأمة الإسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح ، لا التحزب إلى من يسمى (السلفيون).. انتبهوا للفَرْق!!
هناك طريق سلف ، وهناك حزب يُسمى(السلفيون).. المطلوب إيش؟ اتباع السلف .
لماذا؟ لأن الإخوة السلفيين، هم أقرب الفرق للصواب، لا شك.. لكن مشكلتهم كغيرهم ، أن بعض هذه الفرق يُضلل بعضاً، ويُبدّعهم، ويُفسّقهم.. ونحن لا ننكر هذا إذا كانوا مستحقين، لكننا ننكر معالجة هذه البدع بهذه الطريقة.. الواجب أن يجتمع رؤساء هذه الفرق، ويقولون بيننا كتاب الله- عز وجل – وسنة رسوله، فلنتحاكم إليهما لا إلى الأهواء، و الآراء، ولا إلى فلان أوفلان.. كلٌّ يخطيء ويصيب مهما بلغ من العلم والعبادة، ولكن العصمة في دين الإسلام.
فهذا الحديث أرشد النبي صلى الله عليه وسلم فيه إلى سلوك طريق يسلم فيه الإنسان، لا ينتمي إلى أي فرقة؛ إلا إلى طريق السلف الصالح، بل سنة النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ، و الخلفاء الراشدين المهديين.
العلامة محمد بن صالح العثيمين رحمه الله
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku.”
Hadits ini memberi arti bahwa apabila muncul banyak golongan di tengah-tengah umat, maka jangan berafiliasi kepada satu golongan pun. Dulu muncul sekte-sekte, seperti Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Syi’ah, bahkan Rafidhah. Lalu, akhir-akhir ini muncul Ikhwaniyyun, Salafiyyun, Tablighiyyun, dan kelompok lain yang semisal.
Letakkanlah semua kelompok ini di samping kiri dan teruslah melihat ke depan, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Nabi saw, “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin.”
Tidak diragukan, wajib atas semua kaum Muslimin untuk mengambil paham salaf; bukan berafiliasi pada golongan tertentu yang disebut “As-Salafiyyun”. Yang wajib adalah hendaknya umat Islam mengambil paham salafus shalih; bukan membentuk golongan yang dinamakan “As-Salafiyyun”. Berhati-hatilah terhadap perpecahan! Ada jalan salaf; ada pula golongan yang disebut “As-Salafiyyun”. Apa yang wajib? Mengikuti salaf!
Mengapa? Karena  ikhwah As-Salafiyyun adalah kelompok paling dekat dengan kebenaran. Tidak diragukan. Akan tetapi, permasalahan mereka seperti kelompok lainnya. Sebagian individu kelompok ini saling menyesat-nyesatkan, membid’ahkan, dan memfasikkan. Kami tidak mengingkari hal ini apabila benar mereka layak untuk itu. Akan tetapi, kami mengingkari terapi bid’ah-bid’ah tersebut dengan cara ini. Yang wajib adalah pemimpin-pemimpin kelompok ini berkumpul. Hendaknya mereka mengatakan, “Di antara kita ada Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya. Marilah kita berhukum pada keduanya; bukan pada hawa nafsu, pendapat-pendapat, dan tidak pula kepada Fulan dan Fulan.” Setiap orang bisa salah dan bisa benar meski seberapa banyak ilmu dan ibadahnya. Akan tetapi, jaminan kema’shuman hanya pada agama Islam.
Nabi saw memberikan petunjuk dalam hadits ini untuk menempuh jalan yang menyelamatkan manusia; bukan berafiliasi kepada kelompok apa pun, kecuali kepada jalan salafus shalih, yaitu sunnah Nabi saw dan para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.

———————–

Nasehat Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah,

“Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.”

(Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91))

————————-

Nasehat Syaikh Al-Albani rohimahulloh,

Syaikh al-Albâni berkata, “Tidak ragu lagi, ini merupakan perkara pertama yang dituntut dari seorang da’i, yaitu bersikap lemah lembut dan santun. Ia tidak boleh bersikap kasar terhadap orang-orang yang berseberangan. Apalagi bila orang itu masih berada dalam satu ushûl dakwah dengannya, yaitu dakwah kepada al-Qur’an dan Sunnah.”

[Dinukil dari kaset Silsilatul Hudâ wan Nûr nomor 620.]

————————-

9. Sehingga secara garis besar pemakaian istilah Salafi ataupun Salafiyyun itu berbeda-beda hukumnya tergantung dari tujuannya. Hal ini sama seperti qaidah fiqh yang berbunyi الامور بمقاصدها (al-Umuur bi Maqasidiha, Setiap urusan itu -hukumnya- dilihat dari maksud tujuannya).

– Jika penisbatan diri dengan Istilah Salafi atau Salafiyyun ini dimaksudkan untuk :

  • Membedakan dan memisahkan diri dari aqidah-aqidah, kelompok-kelompok, dan manhaj-manhaj yang menyimpang dari Sunnah.
  • Dan bukan dimaksudkan untuk membedakan diri dan memisahkan diri dari masyarakat Islam secara umum.

Maka hukum dari hal ini secara asal hukumnya mubah. Dan bahkan hukumnya kadang juga bisa berubah menjadi wajib juga jika diperlukan, tergantung dari kondisi dan keadaan yang ada. Mari kita lihat lagi fatwa dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh,

لا عيب على من أظهر مذهب السلف و انتسب إليه أو اعتزى إليه ، بل يجب قبول ذلك منه بالاتفاق فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقاً
“Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”. (Majmu’ Fatawa IV:149)

– Jika penisbatan diri dengan Istilah Salafi atau Salafiyyun ini dimaksudkan untuk :

  • Mentazkiyah diri sendiri (menganggap suci diri sendiri, merekomendasikan diri sendiri, sehingga berimplikasi menganggap tinggi diri sendiri, menganggap rendah orang lain, dan bersikap sombong), ataupun mentazkiyah kelompok komunitas yang dilaziminya.
  • Untuk tujuan sikap hizbiyyah, berkelompok-kelompok, eksklusif, dan sektarian.
  • Untuk melegalkan akhlaq dan adab yang buruk.

Maka hukum dari hal ini adalah harom dan harus dihindari. Mari kita perhatikan dalil-dalil di bawah ini,

Dalil Pertama

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَكَفَىٰ بِهِ إِثْمًا مُبِينًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya suci?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” [QS. AN-Nisaa : 49-50]

Dalil Kedua

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“….maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” [QS. An Najm : 32]

Dalil Ketiga

Dari Jabir bin Abdullah rodhiyalloohu ‘anhu berkata,

“Kami berperang bersama Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, kaum muhajirin berkumpul bersama Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka banyak. Dalam rombongan muhajirin ada seorang lelaki yang suka berkelakar. Ia memukul pantas seorang anshar.

Maka marah besarlah orang anshar itu sehingga keduanya saling memanggil temannya.

Si anshar berteriak, ‘Hai orang-orang anshar!’

Sedang si muhajirin berseru, ‘Hai orang-orang muhajirin!’

Maka Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam pun keluar dan berkata, ‘Mengapa harus ada seruan ahli Jahiliyah?’

Kemudian Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Ada apa gerangan dengan mereka?’ lalu diceritakan kepada beliau tentang seorang muhajirin yang memukul pantat seorang anshar.

Maka Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tinggalkanlah seruan Jahiliyah itu karena ia amat buruk’!”

(HR Bukhari [3518]).

Nama dan istilah Muhajirin dan Anshor itu adalah suatu nama yang syar’i dan baik. Namun ketika para shohabat menggunakan hal itu , maka Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam pun menegur dan mengingkarinya.

**********

CATATAN :

Para shahabat yang merupakan Salaf yang paling utama, dan hal ini tidak diragukan lagi.

Bahkan nama penisbatan dengan istilah Muhajirin dan Anshor untuk shahabat itu jelas-jelas sangat syar’i, serta disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah di banyak tempat. Namun jika nama penisbatan itu digunakan untuk hal yang tercela, yakni untuk tujuan hizbiyyah karena ke-alpa-an para Shahabat. Rasululloh pun dengan tegas dan jelas melarangnya.

Maka bagaimana lagi jika itu adalah diri kita, yang hanya sekedar menisbatkan diri kepada Salaf dengan menyebut diri sebagai Salafi ataupun Salafiyyun namun digunakan untuk tujuan dan hal-hal hizbiyyah yang salah? Maka tentu ini lebih terlarang lagi.

الامور بمقاصدها

“Setiap urusan itu -hukumnya- dilihat dari maksud tujuannya”

Lihat pula nasehat seputar ini di :

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ketika-mulai-%E2%80%9Cngaji%E2%80%9D-terlalu-semangat-keras-dan-kebablasan.html

**********

HUBUNGAN ANTARA DAKWAH SALAFIYYAH, SALAFIYYUN, DAN MASYARAKAT ISLAM SECARA UMUM

10. Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang bertujuan untuk memahamkan manhaj Salaf di masyarakat Islam dengan metode tashfiyyah dan tarbiyyah.

Metode Tashfiyyah adalah pensucian dan pemurnian agama. Yakni dengan :

  • Penghilangan syubhat dan kekaburan dalam memahami agama
  • Penjelasan, pemilahan, dan penghilangan hadits-hadits dan atsar-atsar yang dhoif (lemah) dan maudhu’ (palsu) yang terdapat dalam kitab-kitab sumber rujukan dan pegangan keilmuan dalam masalah agama. Seperti yang terdapat di dalam kitab-kitab aqidah, fiqh, dakwah, pemikiran (Tashowur dan tsaqofah Islamiyyah), hadits, tafsir, siroh/sejarah, nasehat, tazkiyatun nufus, dan lain-lain.
  • Dan pembersihan kotoran kebid’ahan dan kesyirikan dalam aqidah, pemahaman, dan amalan.

Adapun metode Tarbiyyah adalah pendidikan, perbaikan, dan pembinaan masyarakat dengan :

  • Pembimbingan dan pembinaan masyarakat dengan berdasarkan Ilmu;
  • Pembimbingan dan penjelasan dalam memahami serta mengamalkan manhaj Salaf dalam praktek kehidupan beragama sehari-hari;
  • Nasehat amar ma’ruf nahi munkar untuk melazimi keta’atan kepada Alloh dan Rosul-Nya dan menjauhi kemaksiatan.
  • Nasehat amar ma’ruf nahi munkar untuk melazimi mengikuti sunnah dan menjauhi kebid’ahan.
  • Dan nasehat amar ma’ruf nahi munkar untuk melazimi pembinaan keimanan dan penyempurnaan Tauhid, serta menjauhi berbagai macam kesyirikan.

Yang mana kesemua itu dilakukan dengan cara bertahap dan melihat pertimbangan mashlahat-madhorot.

Inilah tujuan dan cara dakwah Salafiyyah itu.

Dan bukanlah dakwah ini bertujuan untuk mengumpulkan orang dalam suatu kelompok jama’ah yang disebut sebagai Salafiyyun. Dakwah Salafiyyah bukanlah kaderisasi dan perekrutan anggota. [Lihat lagi penjelasan di point-point sebelumnya di atas mengenai hukum penisbatan diri dan arti dari Salafi-Salafiyyun itu].

Oleh karena itu dakwah ini disebut Dakwah Salafiyyah, yakni yang bertujuan untuk menyebarkan dan memahamkan Manhaj Salaf ke masyarakat. Dan dakwah ini bukan disebut dengan nama Dakwah Salafiyyun, yang bertujuan untuk mengumpulkan orang dalam suatu kelompok jama’ah yang disebut Salafiyyun.

—————–

Syaikh Ali Hafidzahulloh pernah menjelaskan mengenai istilah Salafiyyah ketika diundang wawancara oleh TV One di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Beliau berkata :

Salafiyyah artinya pemahaman sebagaimana yang dipahami oleh Salafush shalih. Salafiyyah bukan partai, bukan organisasi. Salafiyyah adalah ajakan dakwah yang mengaitkan antara kaum muslimin dengan para ulama yang dasar-dasarnya sangat memperhatikan keimanan dan keamanan. Dasarnya juga adalah bagaimana mengajarkan pemahaman Islam yang benar kepada manusia. Menerima pemahaman atau fikih dari para ulama seluruhnya (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, pen) tanpa fanatik terhadap salah satu madzhab.

——————

11. Masyarakat Islam umumnya sepakat ingin memahami dan menjalankan Islam dengan benar berdasarkan Ilmu yang haq. Semua ingin menjadi muslim yang benar, tidak ada yang ingin termasuk golongan yang sesat dan menyimpang.

Semua sepakat bahwa Islam yang benar dan Muslim yang benar itu adalah : Islam yang diajarkan oleh Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan Muslim yang dididik langsung oleh Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam (yakni Para shahabat).

Bagaimana tidak, merekalah murid-murid langsung dari Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Keshohihan mereka dalam beragama juga sudah diberikan pengakuan langsung dalam banyak ayat dan hadits shohih, sebagaimana yang telah kita jelaskan dalam tulisan kedua yang terdahulu. Bahkan kita disuruh untuk mengikuti jalan-jalan para Shahabat tersebut sebagai Salaf yang paling utama,

Sehingga merupakan suatu hal yang benar jika dikatakan, “Islam yang benar dan Muslim yang benar itu adalah yang mengikuti Manhaj Salaf dalam pemahaman dan pengamalannya.“. Dan manhaj Salaf (Salafiyyah) itu adalah bagian dari Islam itu sendiri, yakni manhaj Islam yang murni, benar, dan haqiqi. Manhaj para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan ihsan (baik).

Mendakwahkan suatu manhaj yang haq dalam beragama, adalah sesuatu yang wajib berdasarkan kemampuan dan keilmuan tiap-tiap orang. Dan inilah dakwah manhaj Salaf (Salafiyyah) itu.

12. Antara Dakwah manhaj dengan dakwah hizbiyyah (bergolong-golongan) itu memiliki perbedaan yang sangat jelas.

Adapun Dakwah Salafiyyah maka ini adalah dakwah manhaj, bukan dakwah hizbiyyah. Dakwah Salafiyyah bertujuan untuk mengajarkan pemahaman Islam yang benar kepada ummat Islam, bukan bertujuan untuk mengumpulkan orang dalam suatu kelompok jama’ah untuk kaderisasi dan perekrutan anggota.

Seseorang yang memiliki kesesuaian antara amalannya, aqidahnya, dan pemahamannya dengan manhaj Salaf; maka walaupun dia tidak pernah menyebut diri dengan nama Salafi atau Salafiyyun. Atau bahkan mungkin dia tidak pernah mengetahui apa arti dari istilah Salafi itu sendiri. Maka pada hakekatnya dia adalah seorang Salafi, walaupun dia tidak pernah mengaku-aku sebagai Salafi.

13. Dakwah Salafiyyah memandang masyarakat Islam secara umum kepada hukum asalnya, yakni dipandang dan dihukumi sebagai seseorang muslim yang selamat aqidah dan manhaj-nya.

Atau dengan kata lain, masyarakat Islam itu selalu dipandang sebagai masyarakat Ahlus Sunnah atau Salafiyyun secara keumuman (kecuali kalau dia adalah seorang syi’ah. Yang mana syi’ah itu sendiri sejak dari awal, sudah jelas-jelas menyatakan bahwa dia adalah musuh dari ahlus Sunnah).

Jika secara dhohir dia adalah seorang Muslim yang bersyahadat, maka hukum asalnya dia adalah seorang Muslim yang benar. Muslim yang selamat aqidah dan manhajnya. Dia adalah seorang Ahlus Sunnah. Tidak boleh disebut dan disikapi sebagai orang yang menyimpang keislamannya (Baca : Ahlul Bid’ah), hingga datang bukti akan hal itu.

Dakwah Salafiyyah selalu memandang masyarakat Islam dengan pandangan huznudzon (prasangka baik) yang berupa menganggap mereka sebagai Ahlus Sunnah, sesuai hukum asalnya. Bukan dengan pandangan suudzon (prasangka buruk) yang berupa pandangan hizbiyyah (bergolong-golongan).

14. Adapun mengenai :

  • Perkara kekurangan fahaman masyarakat umum (terutama yang awam) dalam masalah ilmu agama.
  • Belum mengetahuinya mengenai perincian akan perbedaan antara apa itu Ahlus Sunnah dan apa itu Ahlul Bid’ah.
  • Belum mengetahuinya mengenai apa itu pokok-pokok Manhaj Salaf yang digunakan sebagai barometer pembedaan antara Ahlus Sunnah dan Ahlul Bid’ah.
  • Dan bahkan kadang terjebak dalam kebid’ahan karena kurangnya ilmu dan pemahaman. (Baik itu bid’ah amaliyyah ataupun bid’ah i’tiqodiyyah)

Maka sepanjang ada udzur dalam masalah ini, tidaklah seseorang itu dikeluarkan dari lingkup Ahlus Sunnah.

Akan tetapi dia haruslah diberikan nasehat, penjelasan, ilmu, pelurusan (tashfiyyah) dari pemahaman yang salah, dan pendidikan (tarbiyyah) dengan sikap kasih sayang. Yang mana hal ini dilakukan karena kasih sayang antara sesama saudara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang saling menasehati dan saling ber-amar ma’ruf nahi munkar. Karena inilah hakikat dari manhaj yang haq itu, yakni An-Nashiihah (nasehat).

————————

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri radhiyallâhu’anhu, bahwasanya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Agama itu adalah nasihat”. Mereka (para sahabat) bertanya, ”Untuk siapa, (wahai Rasûlullâh) ?”Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ”Untuk Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.

[HR. Muslim]

——————–

Fatwa – Hukum Asal Seorang Muslim

Oleh : asy-Syaikh Ibrohim bin ‘Amir ar-Ruhaili –hafidzohulloh-

Pertanyaan :

Apa hukum asal seorang muslim, yakni apakah ia Ahlus Sunnah atau tidak? Yang kedua, jika hukum asal seorang muslim adalah Ahlus Sunnah, maka apakah dhowabith untuk mengeluarkannya dari Ahlus Sunnah? Yakni apakah seseorang itu keluar hanya karena ia menyelisihi sebuah prinsip dari prinsip-prinsip Sunnah, seperti taat kepada pemerintah?

Jawaban :

Asal seorang muslim adalah as-Salaamah (selamat), sebagaimana yang dikatakan oleh para `Ulama, yakni selamat dari bid’ah dan maksiat. Jika ia seorang muslim maka hukum asalnya adalah selamat, dan ia tidak boleh dinisbatkan kepada bid’ah dan maksiat kecuali dengan dalil (baca: bukti). Dan ini berbeda dengan perkataan orang yang mengatakan “hukum asal manusia“, karena sebagian orang tidak jelas baginya firman Alloh azza wa jalla :

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian adalah sesat kecuali yang aku beri hidayah…“

Hukum asal seseorang dari jenis manusia, tidaklah dikatakan bahwa hukum asalnya adalah selamat, karena manusia ada yang kafir dan ada yang mukmin. Maka manusia, hukum asal mereka adalah sesat kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh.

Adapun seorang muslim yang telah masuk dalam agama ini dan mengucapkan 2 kalimat syahadat dan ia beragama dengan agama ini, maka hukum asalnya adalah selamat, dan hukum asalnya ia adalah lurus dalam agama yang ia masuk ke dalamnya dan ia berkeyakinan bahwa ketaatannya akan mendekatkannya ke surga dan maksiatnya akan mendekatkannya ke neraka, maka hukum asalnya adalah selamat.

Tidak boleh dinisbatkan kepada bid’ah dan tidak pula maksiat kecuali jika bersumber darinya sesuatu. jika bersumber sesuatu darinya, maka kita tidaklah mengatakan bahwa seorang muslim tidak berbuat bid’ah dan seorang tidak berbuat maksiat, dan kita juga tidak mengatakan bahwa seorang muslim itu tidak murtad, terkadang seorang muslim itu murtad, jika bersumber darinya perbuatan yang menyebabkan kemurtadan dan terpenuhi syarat-syarat takfir.

Adapun penyelisihan seseorang terhadap as-Sunnah, maka ia menyelisihi Ahlus Sunnah pada sebuah prinsip dari prinsip-prinsip Sunnah, prinsip-prinsip yang umum seperti prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah qodar, prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah iman, prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah mendengar dan taat pada pemerintah, prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah istidlal. Barangsiapa menyelisihi sebuah prinsip dari prinsip-prinsip ini maka ia telah keluar dari Sunnah sebagaimana al-Imam Ahmad mentaqrir hal ini dalam risalahnya Ushulus Sunnah, na’am.

***

[Diterjemahkan dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang Juli 2007. File : syaikh ibrohim 7.mp3 >> 74:40 – 76:56]

Sumber : http://tholib.wordpress.com/2007/08/21/fatwa-%E2%80%93-hukum-asal-seorang-muslim/

————-

15. Tidaklah seseorang itu jika dia memiliki kesalahan akan langsung serta merta dianggap menolak Manhaj Salaf. Dianggap menentang dalam mengikuti manhaj para shahabat. Dianggap bukan Ahlus Sunnah dan tidak diakui sebagai Salafiyyun. Tidak! bukan seperti itu !

Dakwah Salafiyyah adalah :

  • Dakwah nasehat,
  • Dakwah Ilmu,
  • Dakwah amar ma’ruf Nahi Munkar
  • Dakwah perbaikan
  • Dan Dakwah manhaj.

Dakwah Salafiyyah bukanlah dakwah hizbiyyah dan juga bukanlah dakwah tashnif yang suka memberikan stempel pengklasifikasi-klasifikasian terhadap masyarakat Islam. Yang suka meng-kelompok-kelompokan, menggolong-golongkan, dan membagi-bagi kaum Muslimin dengan anggapan “Ini Salafiyyun”, “Ini bukan salafiyyun”, “Ini orang awam yang tidak faham apa-apa dan tidak ikut mana-mana”, dan seterusnya. Dari hal ini, maka jelaslah manhaj Salaf dalam bermuamalah terhadap masyarakat Islam secara umum.

Seorang Salafiyyun itu haruslah bermuamalah dengan baik terhadap masyarakat Islam secara umum. Harus menganggap dirinya adalah bagian dari masyarakat, dan juga menganggap masyarakat sebagai bagian dari dirinya (Baca : menganggap masyarakat adalah sama dengan dirinya, yakni saudara Ahlus sunnah dalam masalah aqidah dan manhaj sesuai dengan hukum asalnya).

Dakwah Salafiyyah menyampaikan dakwah nasehat, dakwah ilmu, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dakwah perbaikan, dan dakwah manhaj dengan metode tashfiyyah dan tarbiyyah.

Mencintai dan menyayangi kaum muslimin dengan cara menjaga agar mereka tidak terjatuh kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan. Serta selalu berusaha menjaga kehormatan mereka.

——————

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Setiap muslim atas muslim lainnya haram; darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim 2564)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada haji wada’ bersabda:

إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في بلدكم هذا في شهركم هذا

“Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian haram atas kalian seperti haramnya hari ini, di negeri ini, dan pada bulan ini.” (HR. Bukhari 105, Muslim 1679 dari hadits Abu Bakrah)

——————

16. Sifat lain dari dakwah Salafiyyah itu adalah dakwah yang terbuka untuk masyarakat umum. Dakwah yang tidak sembunyi-sembunyi, dan tidak berusaha menyembunyikan hakekatnya.

Berbagai belahan dunia sekarang ini secara umum menerima penyampaian dakwah Islam secara terbuka. Baik itu dengan cara kajian taklim yang terbuka untuk umum, dialog-dialog talk show (sebagaimana yang banyak terjadi di dunia barat), penyebaran buku-buku bermanhaj salaf, pembinaan yayasan-yayasan pendidikan Islam, ataupun penyampaian dakwah melalui berbagai macam media komunikasi seperti internet dan lain-lain.

Kondisi dan keadaan dunia sekarang ini berbeda dengan keadaan Rasululloh pada fase Mekkah. Yang mana Rasululloh terpaksa sampai harus berdakwah secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) karena takut akan diancam keselamatannya dan dihancurkan dakwahnya sejak awal. Karena hal inilah, maka jika sekarang ini ada orang atau kelompok yang berusaha melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi, dan berusaha menyembunyikan hakekatnya dari masyarakat umum, maka itu adalah suatu tanda akan kebatilan dakwah mereka. Dan itu menyimpang dari manhaj Salaf.

—————

Khalifah Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh berkata,

“Jika engkau melihat ada sekelompok orang yang berbisik-bisik membicarakan masalah agama tanpa ingin diketahui orang lain maka ketahuilah bahwa mereka itu di atas landasan kesesatan” [Hr. Darimi no 307]

Dan juga termasuk dalam hal ini adalah hadits masalah Thoifah Al-Manshuroh

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran. Tidaklah masalah bagi mereka adanya orang-orang yang tidak mau menolong mereka. Demikianlah keadaan mereka sehingga datanglah ketetapan Alloh (baca:hari Kiamat)” (HR Muslim no 5059).

—————

PERINCIAN MASALAH MENGELUARKAN SESEORANG DARI AHLUS SUNNAH MENJADI AHLUL BID’AH

17. Setelah kita memahami bahwa hukum asal dari seorang Muslim yang bersyahadat itu adalah selamat Aqidah dan manhajnya. Dan  lebih memahamami karakteristik dakwah Salafiyyah berikut pandangannya terhadap masyarakat Islam secara umum. Maka mungkin akan timbul pertanyaan, apakah yang menyebabkan seseorang atau suatu kelompok itu bisa dianggap keluar dari Ahlus Sunnah? Sedangkan Ummat Islam secara umum selalu dipandang sebagai bagian dari Ahlus Sunnah.

Sebelumnya menjawab hal itu, mari kita lihat dulu nasehat para ulama Ahlus Sunnah Salafiyyah dalam masalah mengeluarkan seseorang dari Ahlus Sunnah.

—————-

Imam Ahmad rohimahulloh berkata,

“Mengeluarkan seseorang dari golongan ahli sunnah adalah suatu perkara yang berat”. [Kitab “As Sunnah”, 2/273, karya al Khallal]

Al-Imam ad-Darimiy rohimahulloh berkata,

“Bid’ah perkaranya amat berat dan seseorang yang disandarkan kepada bid’ah adalah buruk keadaannya di tengah-tengah kaum muslimin, maka janganlah kamu tergesa-gesa dalam memvonis bid’ah (kepada seseorang) sampai kamu merasa yakin dan mengetahui apakah benar perkataan salah seorang dari dua golongan itu ataukah batil perkataannya? Bagaimana mungkin kamu tergesa-gesa untuk memvonis bid’ah
kepada segolongan manusia dalam satu pernyataan yang mereka nyatakan, sedangkan kamu tidak mengetahui (apakah) mereka mencocoki kebenaran dalam pernyataan mereka itu ataukah mereka tergelincir ke dalam kekeliruan? Tidak mungkin bagimu mengatakan tentang pendapatmu kepada salah seorang dari dua kelompok: “Kamu tidak mencocoki kebenaran dengan pernyataanmu itu.” Padahal ia (orang yang mengatakan itu) keadaannya sebagaimana yang aku katakan (di atas).

Siapakah yang paling bodoh dan paling pandir dalam berpendapat dari orang yang menyandarkan golongan lainnya kepada bid’ah yang ia katakan: “Kami tidak mengetahui apakah ia sebagaimana yang mereka katakan, ataukah keadaannya tidak seperti itu.” Ia tidak merasa aman dalam pernyataannya tersebut bahwa salah seorang dari dua golongan itu yang telah mencocoki kebenaran dan sunnah lantas ia memberikan vonis mubtadi’ (pelaku kebid’ahan) kepada mereka. Bahkan ia juga tidak merasa aman dalam pernyataannya itu bahwa menjadikan kebenaran sebagai kebatilan dan sunnah sebagai bid’’ah? Inilah kesesatan yang nyata dan kebodohan yang besar.” [Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, hal. 193]

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata,

“Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.”
(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata,

“Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
(HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah)

—————-

Adapun untuk jawaban “apakah yang menyebabkan seseorang atau suatu kelompok itu bisa dianggap keluar dari Ahlus Sunnah”, maka jika seseorang, atau suatu jama’ah, atau suatu organisasi :

  1. Menyelisihi salah satu ushul atau salah satu perkara “Kulli” (satu perkara pokok yang mencakup derivatif perkara partial dalam banyak hal) dari manhaj Salaf atau Ahlus sunnah. Misal : Perkara-perkara Aqidah seperti masalah Asma wa Shifat Alloh dan perkara Takdir.
  2. Menyelisihi salah satu perkara furu atau salah satu perkara “juz-i” (partial) yang mana perkara tersebut terkenal sebagai pembeda antara ahli sunnah dan ahli bid’ah. Seperti misal orang yang membolehkan memberontak kepada penguasa Muslim yang sah, namun dia tidak mengkafirkannya.  (Adapun kalau dengan mengkafirkannya tanpa haq, atau mengkafirkannya dikarenakan manhaj yang salah dalam pengkafiran, maka ini jatuhnya kepada perkara yang ushul atau Kulli karena ini berhubungan dengan pemahaman masalah Iman)
  3. Menyelisihi perkara furu’/juz-i yang jelas akan masalah tuntunan sunnah dalam hal itu, dan kemudian menjadikan perkara furu’/juz-i itu sebagai standart untuk melakukan wala’ (loyalitas) dan baro (anti loyalitas/berlepas diri) seseorang. Atau menjadikan sebagai standart untuk mencintai dan membenci seseorang.
  4. Menyelisihi banyak perkara furu’/juz-i yang kemudian sebanding dan dianggap sama dengan satu perkara Ushul atau Kulli
  5. Dan telah tegak hujjah kepadanya, tidak adanya udzur lagi, sedang orang atau jama’ah atau organisasi tersebut menolak untuk rujuk atau bahkan justru menentangnya

Maka seorang individu, atau jama’ah, atau organisasi tersebut akan dianggap keluar dari lingkungan Ahlus sunnah wal Jama’ah, dianggap keluar dari Manhaj Salaf, dan dihukumi sebagai Ahlul bid’ah.

Adapun perincian mengenai apa-apa yang disebut sebagai perkara Ushul (Pokok) atau perkara Kulli dalam masalah manhaj dan Aqidah, telah dijelaskan lebih lanjut dalam kitab-kitab para ulama Salaf. Terutama kitab-kitab yang membahas mengenai masalah Ushuluddin, Ushulus Sunnah, Aqidah, dan pokok-pokok Manhaj Salaf.

Seperti misal kitab “Aqidah Salaf Ashhaabul Hadiits”, “Syarh Aqidah Ath Thohawiyah”, “Syarh Aqidah Al-Wasithiyyah”, “Syarhus Sunnah”, “Ushulus Sunnah”, dan kitab-kitab lain semisal. Lihat pula kitab “Anwaa’ul bid’ah wa Ahwaalu ahluhaa” (Jenis-jenis Bid’ah dan berbagai kondisi pelakunya), tulisan Syaikh Khalid bin Ahmad Az-Zamrani.

———————

Imam Asy Syathiby rohimahulloh berkata,

أن هذه الفرق إنما تصير فرقا بخلافها للفرقة الناجية في معنى كلي في الدين وقاعدة من قواعد الشريعة لا في جزئي من الجزئيات –إلى قوله:- ويجري مجرى القاعدة الكلية كثرة الجزئيات فإن المبتدع إذا أكثر من إنشاء الفروع المخترعة عاد ذلك على كثير من الشريعة بالمعارضة كما تصير القاعدة الكلية معارضة أيضا.

“Bahwasanya kelompok-kelompok pecahan itu memang menjadi pecahan dikarenakan dirinya menyelisihi Al Firqotun Najiyah di dalam suatu nilai yang bersifat umum (Kulli) di dalam agama, dan dalam suatu kaidah dari kaidah-kaidah syari’ah, bukan karena menyelisihi mereka dalam suatu perkara yang bersifat parsial,

– sampai pada ucapan beliau:- Akan tetapi perkara parsial (juz-i) yang banyak pun akan berlaku seperti suatu kaidah umum. Yang demikian itu dikarenakan seorang mubtadi’ itu jika banyak mengadakan perkara-perkara baru yang bersifat cabang (juz-i), yang seperti itu akhirnya akan balik menentang syari’at, sebagaimana kaidah umum yang dibikin dia juga akan balik menentang syari’at.” (“Al I’tishom”/2/hal. 200).

———————-

Asy-Syaikh Ubaid Al Jabiri hafidzahulloh pernah ditanya,

Tanya: Kapan seseorang keluar dari manhaj salafy dan dianggap bukan salafy?

Jawab:

Perkara ini telah dijelaskan oleh para ulama dan mereka menyebutkannya di dalam kitab-kitab mereka dan nasihat-nasihat mereka. Dan ia termasuk ke dalam perkara manhaj mereka.

Yaitu bahwa seseorang keluar dari salafiyah apabila menyelisihi salah satu pokok dari pokok-pokok Ahlussunnah sedangkan hujjah telah tegak dihadapannya dan menolak untuk rujuk. Orang seperti ini telah keluar dari salafiyah.

Begitu pula para ulama mengatakan sampai kepada perkara furu’ (cabang). Apabila seseorang menyelisihi salah satu cabang dari cabang-cabang agama ini sehingga jadilah ia mencintai dan membenci diatasnya, maka ia keluar dari salafiyah. (Sumber: rekaman kaset Jinayatut-Tamayyu’ ‘Ala Al M)

sumber : http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/07/07/kapan-seseorang-dianggap-telah-keluar-dari-manhaj-salafy-ahlus-sunnah/

———————-

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata,

“Kebid’ahan yang menyebabkan seseorang termasuk golongan ahlul ahwa’ [pengekor hawa nafsu] adalah sesuatu yang telah masyhur di kalangan ulama yang memahami Sunnah bahwa hal itu jelas-jelas berseberangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Seperti halnya bid’ah Khawarij, Rafidhah/Syi’ah, Qadariyah, dan Murji’ah.

Abdullah bin al-Mubarok, Yusuf bin Asbath, dan ulama yang lain pernah mengatakan, “Pokok dari tujuh puluh dua sekte [yang sesat] adalah pada empat aliran; Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, dan Murji’ah.” Kemudian ada yang bertanya kepada Ibnul Mubarok, “Bagaimana dengan Jahmiyah?” Beliau menjawab, “Jahmiyah bukan termasuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat al-Muntakhab min Kutubi Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 149)

———————-

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rayyis hafidzahulloh juga menerangkan hal ini dengan suatu keterangan yang panjang,

و مما ينبغي أن يعلم و هو من أهم المهمات و من أشد الضروريات

متي يخرج الرجل من السنة إلي البدعة. فإن إخراج الرجل من السنة إلي البدعة أمر شديد.

قال ألإمام أحمد-كما في السنة للخلال-:”إخراج الرجل من السنة شديد”. ليس سهلا إخراج الرجل من السنة إلي البدعة لكن ليس معني كونه صعبا أنه لا يقع. بل يقع لكن إذا تلبس بما يوجب إخراجه.

“Di antara hal yang perlu diketahui karena hal tersebut termasuk perkara yang sangat penting dan sangat vital untuk diketahui. Hal tersebut adalah kapankah seorang itu dinilai keluar dari ahli sunnah dan divonis sebagai ahli bid’ah. Sesungguhnya mengeluarkan seseorang dari golongan ahli sunnah dan memvonisnya sebagai ahli bid’ah adalah suatu perkara yang berat.

Dalam kitab as Sunnah karya al Khallal, Imam Ahmad mengatakan,

Mengeluarkan seseorang dari golongan ahli sunnah adalah suatu perkara yang berat”.

Bukanlah termasuk perkara yang mudah mengeluarkan seseorang dari barisan ahli sunnah dan memvonisnya sebagai ahli bid’ah.

Akan tetapi sulitnya hal ini bukanlah berarti hal ini tidak pernah terjadi. Bahkan hal ini bisa saja terjadi jika orang tersebut melakukan suatu hal yang mengeluarkannya dari barisan ahli sunnah.

و مما ينبغي أن يعلم ليس كل من تلبس ببدعة صار مبتدعا.

قال الإمام أبو العباس ابن تيمية-رحمه الله تعالي- “و القاضي شريح أول صفة العجب و أنكر قراءة “بل عجبت”. قال: “و مع ذلك (هو) إمام من الأئمة باتفاق”.

Juga di antara hal yang perlu diketahui bahwa tidaklah semua orang yang melakukan hal yang bid’ah itu otomatis divonis sebagai ahli bid’ah.

Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah mengatakan,

“Qadhi Syuraih itu melakukan perbuatan menyelewengkan makna salah satu sifat Allah yaitu heran. Beliau mengingkari qiraah ‘bal ‘ajibtu’ yang artinya ‘bahkan aku yaitu Allah merasa heran’. Meski demikian beliau adalah salah satu imam ahli sunnah dengan sepakat semua ahli sunnah”.

فلاحظ! أن القاضى شريح وقع في خطإ و تلبس ببدعة و مع ذلك لم يخرج بهذه البدعة من السنة. رحمه الله تعالي.

و كرر هذه القاعدة كثيرا الإمام أبو العباس أبن تيمية-رحمه الله تعالي- و غيره من أئمة الإسلام. و قد ذكرها أئمة العصر الثلاثة و هو الإمام عبد العزيز بن عبد الله بن باز و ألإمام محمد ناصر الدين الألباني و الإمام محمد بن صالح العثيمين. رحمهم الله تعالي.

كرروا هذه القاعدة كثيرا و رددوها و ذكروها في مناسبات مختلفة.

Perhatikanlah! Qadhi Syuraih telah terjerumus dalam kesalahan dan telah melakukan bid’ah meski demikian bidah yang beliau lakukan tersebut tidak mengeluarkan beliau dari barisan ahli sunnah.

Kaedah ini sangat sering disebutkan oleh Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah dan para imam Islam yang lain.

Kaedah ini juga disebutkan oleh tiga imam ahli sunnah di zaman ini yaitu Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Imam Muhammad Nashiruddin al Albani dan Imam Muhammad bin Shalih al Utsaimin.

Beliau-beliau berulang kali menyebutkan kaedah ini dalam berbagai kesempatan.

إذا تبين لك هذا و هو أنه لا يلزم من وقوع الرجل في البدعة أن يكون مبتدعا. لكن أيضا في المقابل قد يخرج الرجل من السنة بوقوعه في البدعة. فما الضابط في الباب؟

Jika hal ini telah kita ketahui yaitu terjerumusnya seseorang ke dalam tidaklah mesti menjadikan orang tersebut sebagai ahli bid’ah. Sebaliknya terkadang seorang itu divonis keluar dari barisan ahli sunnah gara-gara dia terjerumus dalam bid’ah.

Jika demikian, apa yang menjadi tolak ukur dalam hal ini?

الضابط في الباب امران.

الأمر الأول ذكره العالم المالكي الشاطبي-رحمه الله تعالي- في كتابه الاعتصام

لما تكلم عن متي تخرج فرقة من الفرقة الناجية إلي عموم ثتين و سبعين فرقة الضالة.

قال –رحمه الله تعالي- “و ذلك إذا خالف في أمر كلي”. أما إذا خالف في أمر جزئي فلا يخرج الرجل من السنة إلي البدعة بمجرد الخلاف في أمر جزئي. و إنما يخرج إذا خالف في أمر كلي. و ذكر أيضا أنه إذا خالف في جزئيات كثيرة توازن كلية واحدة.

Parameter dalam hal ini ada dua.

Pertama, kaedah yang disampaikan oleh seorang ulama bermazhab Maliki yaitu Syathibi dalam kitabnya al I’tishom tatkala membahas kapankah sebuah kelompok divonis telah keluar dari ‘golongan yang selamat’ sehingga termasuk bagian dari tujuh puluh dua golongan yang sesat.

Beliau mengatakan,

Itu terjadi jika kelompok tersebuk menyelisihi ahli sunnah dalam perkara kulli (perkara yang memuat banyak derivat)”.

Artinya orang yang menyelisihi ahli sunnah dalam perkara juz’i atau parsial (perkara yang tidak memiliki derivat) itu tidak dinilai keluar dari ahli sunnah dan menjadi ahli bid’ah. Seorang itu dinilai keluar dari ahli sunnah jika menyelisihi ahli sunnah dalam perkara kulli.

Syathibi juga menyebutkan bahwa jika seorang itu menyelisihi ahli sunnah dalam banyak perkara juz’i yang sebanding dengan sebuah perkara kulli maka orang tersebut juga dinilai telah keluar dari ahli sunnah.

و المهم من كلامه و المعتمد إذا خالف الرجل أهل السنة في أمر كلي فإنه يخرج من السنة إلي البدعة بخلاف من يخالف أهل السنة في أمر جزئي.

Yang penting dari penjelasan Syathibi dan yang dijadikan pegangan adalah penjelasan beliau yang pertama. Yaitu jika seseorang itu menyelisihi ahli sunnah dalam perkara kulli maka dia dinilai keluar dari barisan ahli sunnah. Vonis ini tidak berlaku untuk orang yang menyelisihi ahli sunnah dalam perkara juz’i.

و قد تقول: ما معني كلي و جزئي؟ فيقال: الكلي هو الأمر الذي تندرج تحته جزئيات.

فمثلا, لو أن رجلا يؤول الصفات الفعلية. هذا الرجل قد وقع في خطإ كلي لأن الصفات الكلية يدخل تحتها صفة الرضا و صفة الغضب و صفة الرحمة الي غير ذلك من الصفات الفعلية. فهذا يعتبر أمرا كليا.

Jika ada yang bertanya apa yang dimaksud dengan perkara kulli dan perkara juz’i maka jawaban adalah sebagai berikut.

Perkara kulli adalah perkara yang membuat banyak perkara juz’i.

Misalnya adalah orang yang mentakwil (menyelewengkan makna) semua sifat fi’liyyah bagi Allah. (Sifat fi’liyyah adalah sifat yang ada pada Allah jika Allah mau dan tidak ada pada Allah jika Allah tidak menghendakinya, pent). Orang yang melakukan hal ini telah terjerumus dalam kesalahan yang bersifat kulli. Dengan tindakkannya ini maka dia berarti menolak sifat rela, marah, kasih sayang dll yang masuk dalam kategori sifat fi’liyyah. Oleh karena itu, orang tersebut dinilai telah menyelisihi ahli sunnah dalam perkara yang bersifat kulli.

أما لو أنه أول صفة العجب أو غيرها كصفة واحدة و نحوها فإنه يكون قد وقع في خطإ جزئي لأنه لا يندرج تحت هذا الجزئي أجزاء.

Sedangkan orang yang menyelewengkan sifat heran untuk Allah atau sebuah sifat Allah yang lain maka orang tersebut telah terjerumus dalam kesalahan parsial karena kesalahan semisal ini tidak memiliki banyak turunan.

و الضابط الثاني ما ذكره الإمام أبو العباس ابن تيمية –رحمه الله تعالي- كما في مجموع الفتاوي. سئل –رحمه الله تعالي- متي يخرج الرجل من السنة إلي البدعة؟ قال-رحمه الله تعالي- كلاما. و منه و هو الشاهد إذا خالف في أمر اشتهر فيه خلاف أهل السنة لأهل البدعة. فمن خالف أهل السنة في بعض الجزئيات و قد اشتهر فيها خلاف أهل السنة لأهل البدعة فإن الرجل يبدع و يضلل.

Parameter kedua adalah kaedah yang disebutkan oleh Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah di Majmu’ Fatawa. Beliau mendapatkan pertanyaan kapankan seorang itu divonis telah keluar dari ahli sunnah dan menjadi ahli bid’ah. Beliau memberikan penjelasan panjang. Di antara yang beliau jelaskan adalah jika ada seseorang yang menyelisihi ahli sunnah dalam suatu perkara yang terkenal sebagai pembeda antara ahli sunnah dengan ahli bid’ah maka orang tersebut adalah ahli bid’ah. Sekali lagi, jika seorang itu menyelisihi ahli sunnah dalam sebuah perkara parsial namun perkara tersebut terkenal sebagai pembeda antara ahli sunnah dan ahli bid’ah maka orang tersebut divonis sebagai ahli bid’ah dan orang yang sesat.

مثال ذلك لو أن رجلا رأي جواز الخروج علي الحاكم الظالم فإنه يبدع لأنه خالف أهل السنة في أمر اشتهر فيه خلاف أهل السنة لأهل البدعة.

Contohnya adalah orang yang punya pendapat membolehkan pemberontakan terhadap penguasa muslim yang zalim. Orang ini dinilai sebagai ahli bid’ah disebabkan dia telah menyelisihi ahli sunnah dalam sebuah perkara yang terkenal sebagai pembeda antara ahli sunnah dengan ahli bid’ah.

لذلك نص ألإمام أحمد و الإمام سفيان بن سعيد بن مسروق الثوري علي أن الحسن بن صالح بن الحي مبتدع. و ذلك إنه رأي الخروج علي سلطان.

قال الذهبي –كما في كتابه السير- قال: لم يخرج و إنما رأي الخروج و أن لا يصلي الجمعة خلف إمام الجور و مع ذلك بدعه هذان الإمامان.

Oleh sebab itu, Imam Ahmad dan Imam Sufyan bin Said bin Masruq ats Tsauri menegaskan bahwa al Hasan bin Shalih al Huyai itu ahli bid’ah. Hal ini dikarenakan dia membolehkan pemberontakan terhadap penguasa muslim.

Dalam kitab as Siyar adz Dzahabi menyebutkan bahwa al Hasan ini belum pernah memberontak. Dia hanya membolehkan pemberontakan dan tidak mau sholat Jumat dengan bermakmum di belakang penguasa yang zalim. Meski demikian dua imam ahli sunnah di atas menyatakan secara tegas bahwa orang itu ahli bid’ah.

دلك هذا علي أن الرجل إذا خالف أهل السنة في أمر جزئي وقد اشتهر خلاف أهل السنة فيه لأهل البدعة فإنه يبدع.

بهذين الضابطين يخرج الرجل من السنة إلي البدعة.

Praktik imam ahli sunnah di atas menunjukkan bahwa jika ada seorang yang menyelisihi ahli sunnah dalam perkara parsial namun perkara parsial tersebut terkenal sebagai pembeda antara ahli sunnah dan ahli bid’ah maka orang tersebut dinilai sebagai ahli bid’ah.

Dengan dua tola ukur di atas seorang itu bisa dinilai keluar dari barisan ahli sunnah dan menjadi ahli bid’ah.

إذا تبين لك هذا و عرفته أي أنه فلا بد أن تكون في الباب حذرا سائرا علي خطا أهل العلم و أن لا يصير باب التبديع بابا يتلاعب فيه من شاء و يتسلط فيه من شاء علي من يشاء. و إنمايكون المتكلم في هذا الباب متكلما بضوابط أهل العلم, منطلقا من منطلقات أهل العلم حتي يضبط الباب.

Jika hal ini telah anda ketahui dan anda pahami dengan baik maka penjelasan di atas mengharuskan kita untuk bersikap waspada dan berjalan mengikuti langkah para ulama. Sehingga masalah vonis bid’ah tidak menjadi bahan permainan semua orang akhirnya semua orang bisa menuduh sembarang orang sebagai ahli bid’ah.

Orang yang hendak memvonis orang lain sebagai ahli bid’ah hanya boleh berbicara berdasarkan kaedah-kaedah yang telah dirumuskan oleh para ulama serta bertitik tolak dari dari panduan para ulama. Dengan demikian tidak akan ada kesemrawutan dalam masalah ini.

قد يأتي الرجل فيخرج رجلا من أهل السنة في مسألة فتنظر في هذه المسألة فتراها مما يسوغ الخلاف فيها. فمثل هذا, لا يجوز التبديع فيه.

Terkadang ada seorang yang berani mengeluarkan seseorang dari ahli sunnah karena sebuah permasalahan padahal jika kita telaah permasalahan tersebut ternyata masalah itu adalah permasalahan yang ada ruang untuk berbeda pendapat di dalamnya. Tidak boleh ada vonis ahli bid’ah dalam masalah seperti ini”.

Sampai di sini penjelasan Syeikh Abdul Aziz ar Rais.

Sumber : http://ustadzaris.com/bukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji

———————-

18. Oleh karena itu merupakan suatu kesalahan dan merupakan suatu sikap yang berlebih-lebihan (ghuluw), jika ada seseorang yang bermudah-mudah dalam menganggap seseorang keluar dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bermudah-mudahan menganggap seseorang bukan Salafiyyun, karena menyelisihi dalam suatu perkara juz-i fiqh ijtihadiyah. Yang mana para ulama Salafiyyah pun berbeda pendapat dalam hal itu.

Juga termasuk suatu kesalahan dan sikap yang ghuluw, jika dia menjadikan wala’ dan baro, cinta dan benci, karena suatu perkara juz-i fiqh yang ijtihadi, yang para ulama Salafiyyah pun berbeda pendapat dalam hal itu dengan argumentasi dalil yang sama-sama kuat.

Perkara-perkara juz-i fiqh ijtihadiyah itu seperti misal :

  • Perbedaan pendapat dalam masalah Isbal, yang mana para Ulama salaf pun berbeda pendapat dalam hal ini
  • Perbedaan pendapat dalam masalah warna baju untuk seorang muslimah
  • Perbedaan pendapat dalam masalah gaya busana yang dipakai oleh seorang muslim
  • Perbedaan pendapat mengenai masalah radio dakwah Salafiyyah, seperti halnya masalah Radio Rodja
  • Perbedaan pendapat dalam masalah jarh wa ta’dil akan seorang tokoh dakwah
  • Perbedaan pendapat dalam masalah penerapan hajr dan tahdzir dengan pertimbangan mashlahat dan madhorot
  • Perbedaan pendapat mengenai masalah yayasan dakwah, seperti halnya yayasan Ihya At Turots.
  • Perbedaan pendapat dalam menghukumi keluarnya seorang tokoh dakwah dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah
  • Perbedaan pendapat dalam masalah muamalah terhadap seorang ahlul bid’ah atau jama’ah bid’iyyah atau yayasan bid’iyyah atau organisasi bid’iyyah yang mana muamalah itu tidak menyebabkan terpengaruh kepada kebid’ahannya. (Adapun jika terpengaruh terhadap kebid’ahannya, maka ini jelas harom dan terlarang)

Akan tetapi jika perbedaan itu dikarenakan :

  • Suatu pendapat yang lemah dan tidak berdasar,
  • Atau sesuatu yang jelas bertentangan dengan dalil yang kuat,

Maka hal tersebut haruslah diingkari dan dijelaskan bantahan dalilnya, diiringi dengan sikap yang proporsional. Apalagi jika pendapat atau ijtihad itu sampai memiliki konsekuensi terjadinya kebid’ahan, kemaksiatan, dan bahkan sampai kesyirikan (na’udzubillaahi min dzaalik); maka hal itu jelas-jelas harus diingkari.

Betapa banyak Ahlul bid’ah yang memanfaatkan celah ketergelinciran para ulama dalam hal ini untuk melegalkan kebid’ahannya. Padahal para ulama tersebut tidak pernah memaksudkan untuk hal itu jika mereka telah mengetahui dalilnya.

Seperti misal : pendapat Ibnu Abbas rodhiyalloohu ‘anhu yang membolehkan nikah mut’ah, yang dikarenakan beliau belum sampai hadits kepada beliau bahwa Rosululloh telah memansukh (menghapus) kebolehan nikah mut’ah itu dan mengharomkannya selama-lamanya.

Jika hal ini termasuk hal yang boleh ditolerir karena beralasan ini adalah perkataan/pendapat ulama’, maka jelas ini adalah perkataan yang tidak pada tempatnya dan harus diingkari. Dan inilah senjata ahlul bid’ah secara umum, yakni dengan memotong-motong dan membentur-benturkan perkataan ulama agar sesuai dengan keinginan mereka. Atau agar kebid’ahan mereka ditolerir dengan berlindung di balik nama besar seorang Ulama sunnah yang tergelincir/salah ijtihadnya.

————-

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُلَيِّنُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ: مَهْلًا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ, نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bersikap lunak tentang praktik mut’ah atas kaum wanita. Lalu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pun menegur, “Hati-hati, wahai Ibnu Abbas! Sebab, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang praktik mut’ah pada Perang Khaibar. Demikian juga, beliau melarang untuk mengonsumsi keledai peliharaan.”

[Hr. al-Bukhari (no. 1407), Muslim (no. 4216), Ahmad (1/79), an-Nasa’i (6/125), at-Tirmidzi (no. 1121), dan Ibnu Majah (1961), lafadz hadits di atas adalah lafadz al-Imam Muslim rahimahumullah.

————-

Lihat pula tulisan kami di : https://kautsaramru.wordpress.com/2013/02/17/perbedaan-antara-bidah-dan-madzhab/

19. Adapun untuk masyarakat Islam secara umum yang terjatuh kepada kebid’ahan karena ketidak tauan, sekedar ikut-ikutan, taqlid, belum sampai kepadanya ilmu dan penjelasan akan hal itu, terkena fitnah dan syubhat, atau hal-hal lain yang bisa dianggap sebagai udzur; maka orang seperti ini tetap dianggap sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Salafiyyun secara keumuman sebagaimana hukum asalnya. Tidak dikeluarkan dari ahlus Sunnah dan tidak dianggap ahlul bid’ah.

Saudara kita Ahlus Sunnah yang seperti ini haruslah didakwahi, diberikan ilmu, dan diberikan penjelasan dengan cara yang hikmah, lembut, sabar, dan bertahap. Bukan dengan cara yang keras dan kasar. Hal ini karena demikianlah kondisi ummat kebanyakan pada akhir zaman ini, yang umumnya jauh dari ilmu dan bimbingan para ulama.

Dan hendaklah kita bersabar terhadap apa-apa yang menimpa diri kita dalam mendakwahkan manhaj yang haq.

———————

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ([() البخاري في كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة ، الفتح 13/282 . وروي بألفاظ أخرى عند مسلم وأحمد والترمذي وابن ماجه وأبي دواد .]) .

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekali cabut yang ia cabut dari hambaNya, namun mencabut ilmu dengan memawafatkan para ulama hingga bila tidak sisa seorang alimpun maka manusia mengangkat para tokoh yang bodoh lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Lalu mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhori)

———————

Imam Asy-Syathiby rohimahulloh berkata,

“Ahlul Ahwa (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bid’ah hanya merupakan suatu ungkapan untuk semua hakikat tindakan orang yang membuat perkara bid’ah, hawa nafsu sebagai rujukan untuk menetapkan ajaran dan dinyatakan sebagai suatu yang sah, dan bahkan orang yang menolak dikatakan sesat serta yang setuju dikatakan sunnah.

Berbeda dengan orang yang hanya taqlid, ia tidak mengikuti hawa nafsu tetapi mengikuti ajakan tokohnya, maka orang yag taqlid dalam kebid’ahan tidak bisa disebut sebagai ahlul bid’ah hingga ia ikut serta membuat ketetapan dan pandangan tentang baiknya perkara bid’ah”

[Al-I’tishom I/hal 162, dikutip dari “Manhaj Ahlus Sunnah Menghadapi Ahli Bid’ah” hal-64-65, Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili hafidzahulloh]

———————

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz rohimahulloh berkata,

Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah, bukanlah zaman kekerasan (kebengisan). Mayoritas manusia saat ini dalam keadaan jahil (bodoh), lalai dan lebih mementingkan duniawiyah. Maka haruslah sabar dan lemah lembut sampai dakwah ini tersampaikan dan sampai mereka mengetahuinya. Kami mohon petunjuk kepada Alloh untuk semuanya.” (Majmu’ Fatawa Samahatul Imam Ibnu Bazz (Juz VIII, hal 376) dan (Juz X, hal. 91))

———————

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ

Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka

(HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).

———————

Rasululloh  Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اتَّقِ اللهَ حيثُما كنتَ ، وأَتبِعِ السَّيِّئَةَ الحسنةَ تمحُها ، و خالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسنٍ

“Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun berada, dan perbuatan buruk itu hendaknya diikuti dengan perbuatan baik yang bisa menghapus dosanya, dan pergaulilah orang-orang dengan akhlaq yang baik” (HR. At Tirmidzi 1906, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami, 97)

————————

20. Dan kadang bisa jadi dalam diri seseorang itu terdapat suatu kebid’ahan yang harus disikapi secara proporsional juga. Sedangkan dia bukan termasuk orang yang diberikan udzur karena sudah fahamnya dia akan ilmu tentang itu, dan sudah sampainya iqomatul hujjah kepadanya namun dia menolaknya. (Baca : Dia bukanlah masyarakat umum yang awam, yang tidak tahu akan masalah ilmu).

Karena bisa jadi dia memiliki kebid’ahan dalam satu sisi, dan memiliki sisi iltizam kepada sunnah dari sisi lain. Mana yang lebih dominan dari kedua hal itu (sisi kebid’ahannya ataupun sisi sunnahnya), maka demikian juga orang itu disikapi.

Orang seperti ini disikapi dengan wala’ (loyalitas) untuk hal-hal yang sesuai dengan sunnah yang ada padanya. Dan disikapi dengan baro’ (berlepas diri) serta pengingkaran terhadap kebid’ahan yang ada padanya.

Hal ini dilakukan dengan syarat, jangan sampai kebid’ahannya mempengaruhi diri kita dari jalan wala’-nya kita kepadanya (akan hal-hal  yang sesuai dengan sunnah).

————————

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahuloh berkata,

“Dengan demikian maka (kita katakan bahwasanya) seluruh ahli bid’ah dalam perkara asma’ wa shifat yang menyimpang dari pemahaman salafush shalih sebenarnya mereka itu belum merealisasikan keimanan mereka kepada Allah dengan baik.

Satu hal diantara empat hal tadi (empat kandungan iman kepada Allah yaitu; iman kepada wujud-Nya, uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya dan asma’ wa shifat-Nya, pent) yang tidak mereka punyai adalah bagian keempat; yaitu beriman dengan benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, karena mereka itu tidak merealisasikan keimanan kepada-Nya dalam hal ini. Mereka itu bersalah dan menyelisihi jalan kaum salaf. Jalan yang mereka tempuh itu tidak syak lagi memang sesat.

Akan tetapi tidak secara langsung orang yang meyakininya bisa dicap sebagai orang sesat sampai hujjah ditegakkan kepadanya, dan ternyata dia masih bersikeras mempertahankan kesalahan dan kesesatannya maka dia adalah seorang mubtadi’ (ahli bid’ah) dalam masalah yang bertentangan dengan kebenaran itu meskipun dia adalah seorang salafi dalam masalah yang lain.

Oleh sebab itu tidak boleh dia digelari sebagai mubtadi’ secara mutlak, dan juga tidak boleh dia digelari sebagai seorang salafi secara mutlak. Akan tetapi boleh dikatakan bahwasanya dia itu salafi dalam masalah-masalah yang dia bersesuaian dengan salaf dan dia juga seorang mubtadi’ dalam masalah-masalah yang dia selisihi dari kaum salaf.” [Syarah Arba’in, hal. 36]

————————

Syaikh Ibrahim bin Aamir Ar Ruhaili hafidzahulloh berkata,

“Kebencian terhadap Ahli bid’ah tidak bisa disama ratakan. Bahkan masing-masing berbeda tergantung kondisi dan status ahli bid’ah, mengingat kebid’ahan dan jauhnya mereka dari Sunnah itu berbeda-beda. Maka siapa yang menyama ratakan sikap kebencian kepada semua Ahli bid’ah, berarti telah melakukan kesalahan yang besar.

Sebab Ahli bid’ah ada yang kafir, ada yang zindiq, ada yang fasiq, dan ada bid’ah yang kecil serta bid’ah yang besar. Meskipun semuanya masuk dalam lingkarang bid’ah, (akan tetapi) tidak berarti semuanya disamakan.

Oleh karena itu, Ahli bid’ah dibenci sesuai dengan kadar kebid’ahannya masing-masing.

Bahkan ada sebagian ahli bid’ah yang masih sangat cinta dengan kebaikan, meskipun begitu mereka tetap harus dibenci. Sehingga dari satu sisi mereka berhk dicintai, dan dari sisi lain berhak untuk dibenci”

[Manhaj Ahli Sunnah Menghadapi Ahli Bid’ah, hal 300-301, Syaikh Ibrahim bin Aamir Ar Ruhaili hafidzahulloh]

————————

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata,

”Apabila dalam diri seseorang menyatu baik dan buruk, maksiat dan taat atau sunnah dan bid’ah, maka dia berhak diberi wala’ sebatas kebaikan yang ada dan berhak dibenci dan diberi sanksi sebatas keburukan yang ada. Berarti sekaligus dia berhak dihormati dan dimuliakan seperti pencuri miskin, harus dipotong tangannya karena mencuri dan sekaligus diberi santunan dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Inilah manhaj Ahlussunnah yang ditentang oleh Khawarij dan Mu’tazilah, bahwa seorang muslim tidak hanya berhak mendapat imbalan atau siksaan belaka”.

Ahli Sunnah menyatakan bahwa Allah menyiksa siapa saja yang dikehendaki dari pelaku dosa besar, lalu dikeluarkan dari neraka dengan syafaat orang yang diberi izin memberi syafa’at. Atau dengan rahmat dan karunia Allah, sebagaimana yang telah menjadi ketetapan sunnah mutawatir. (Majmu’ Fatawa 28/209-210).

————————

Ibnu Abu Izz al Hanafi berkata,”Sikap cinta dan benci sesuai dengan kebaikan dan keburukan yang ada. Karena pada diri seseorang bisa berkumpul dua sisi perilaku, dari satu sisi berhak diberi wala’ dan cinta dan dari sisi lain berhak dibenci dan dimusuhi. Hukum yang berlaku adalah yang ghalib. (Syarh Aqidah Ath Thahawiyah 434).

————————

Berkata Syaikh Al Qahthani, “berkata Imam Al Barbahari,

“Perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan badan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya maka jika mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya. Demikian pula ahli bid’ah, mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah manusia lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka sampaikan apa yang mereka inginkan.” [Lihat Al Minhaj Al Ahmad (3/37)]

————————

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman” [HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)]

————————

CELAAN DAN KEBENCIAN ORANG-ORANG YANG TERBONGKAR KEBID’AHANNYA TERHADAP DA’WAH SALAFIYYAH

21. Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya maka kita memahami, bahwa memperingatkan dan menasehati ummat akan :

  • Bahaya kebid’ahan,
  • Dan bersikap proporsional terhadap pelakunya sesuai dengan kondisinya dengan berdasarkan ilmu

adalah salah satu ciri utama dari dakwah Ahlus Sunnah wa Jama’ah. Yang mana hal ini dilakukan untuk menjaga masyarakat Islam dari bahaya kebid’ahan dan para pelakunya (baca: Ahlul Bid’ah).

Termasuk juga salah satu ciri utama dari dakwah Ahlus Sunnah wa Jama’ah adalah :

  • Menjelaskan berbagai macam syubhat-syubhat kebid’ahan yang tersebar, menipu, dan merusak masyarakat Islam.
  • Mentahdzir (memperingatkan) masyarakat akan bahaya para Ahlul Bid’ah dan kebid’ahannya. Baik itu dengan mentahdzir individunya, jama’ahnya, golongannya, pemikirannya, aqidahnya, manhajnya, ataupun organisasinya.

Hal ini wajar karena sunnah adalah lawan dari bid’ah. Sebagaimana tauhid adalah lawan dari syirik, dan ketaatan adalah lawan dari kemaksiatan. Seseorang tidak akan bisa memahami apa itu sunnah secara sempurna jika dia tidak memahami apa itu bid’ah, dan seseorang tidak akan bisa memahami apa itu Tauhid dengan sempurna jika dia tidak memahami apa itu Syirik.

Oleh karena itu dakwah sunnah tentu akan diikuti dengan memperingatkan akan bahaya kebid’ahan. Bukan disebut sebagai dakwah sunnah jika tanpa diikuti pengingkaran terhadap kebid’ahan dan para pelakunya (Baca : Ahlul Bid’ah). Amar ma’ruf tentu harus diikuti oleh Nahi Munkar.

22. Berkaitan dengan kebid’ahan dan ahlul bid’ah, maka pada umumnya para ulama, ahlul ilmi, dan para da’i Salafiyyah yang memiliki perangkat keilmuan yang cukuplah yang menetapkan fatwa dan memberikan penjelasan mengenai masalah:

  • Bid’ahnya suatu amalan
  • Menghukumi keluarnya seorang individu dari Ahlus Sunnah menjadi Ahlul Bid’ah.
  • Menetapkan fatwa bahwa suatu pemikiran, aqidah, atau manhaj itu menyimpang dan keluar dari manhaj Salaf.
  • Menetapkan fatwa dari hasil penelitian dan verifikasi dari sumber-sumber pemikiran, aqidah, dan manhaj; bahwa suatu jama’ah atau suatu organisasi itu memiliki manhaj menyimpang yang keluar dari manhaj Salaf. Keluar dari Ahlus Sunnah dan tergolong sebagai Ahlul bid’ah.

Hal ini sebagaimana para ulama Salaf terdahulu yang menetapkan kebid’ahan terhadap Mu’tazilah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Qodariyyah, Khowarij, Murji’ah, Syi’ah dan yang semisal, berikut juga dengan tokoh-tokoh mereka; untuk memperingatkan ummat dan menjaga ummat dari bahaya mereka.

Termasuk juga dalam hal ini dengan menulis kitab dan memberikan perkataan-perkataan untuk membantah kesesatan dan kebid’ahan mereka.

Hal yang sama juga dilakukan oleh para ulama salafiyyah zaman sekarang ini, dengan menetapkan kebid’ahan dan kesesatan pemikiran para Ahlul bi’dah pada zaman sekarang. Seperti halnya tahdzir terhadap JIL dan pemikiran liberalismenya, Syi’ah Rofidhoh, Takfiriyyun, Jamaah Tabligh, Inkarus Sunnah, Ahmadiyah, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan lain-lain semisal.

Perincian dari hal ini dapat di lihat di buku-buku para Ulama dan da’i-da’i Salafiyyah, di fatwa-fatwa mereka, dan juga di penjelasan-penjelasan mereka, yang ditujukan untuk membantah Ahlul Bid’ah kontemporer.

Adapun tugas para tholabul ‘ilmi adalah membantu untuk menjelaskan hal ini sesuai dengan kemampuan dan keilmuan yang mereka miliki terhadap masyarakat.

23. Jika salah satu konsekuensi dakwah Salafiyyah adalah men-tashnif (menggolongkan dan mengklasifikasian) untuk :

  • Mengklasifikasikan dan menjelaskan kebid’ahan guna melindungi masyarakat Islam dari kebid’ahan
  • Menjelaskan kepada masyarakat Islam akan keadaan seorang ahlul bid’ah untuk berhati-hati terhadap kebid’ahannya
  • Memperingatkan akan suatu organisasi yang mempunyai manhaj bid’ah atau jama’ah yang memiliki aqidah yang bid’ah dan menyelisihi sunnah
  • Memperingatkan akan suatu manhaj, aqidah, dan pemikiran yang menyimpang dari Manhaj Salaf kepada Masyarakat Islam

Maka inilah konsekuensi dari dakwah Ahlus Sunnah yang benar. Bahkan pada hakekatnya ini adalah dakwah tashfiyyah (pemurnian), dan bukan dakwah hizbiyyah sebagaimana maksud dari tujuan tuduhan mereka. Bagaimana mungkin Sunnah disamakan dengan bid’ah?

Para Ahlul bid’ah yang kegerahan ketika tersingkap kebid’ahannya, sering membuat syubhat untuk menyudutkan dan menjatuhkan dakwah salafiyyah berikut da’i-da’inya, dengan perkataan bahwa dakwah Salafiyyah men-tashnif (menggolong-golongkan) masyarakat dengan tujuan untuk :

  • Memecah belah ummat.
  • Membagi-bagi, mengkotak-kotakkan, dan menggolong-golongkan masyarakat Islam dengan dakwah mereka.
  • Merusak tatanan yang ada yang umumnya permisif terhadap berbagai macam kebid’ahan yang ada

Sehingga maksud tujuan akhir dari tuduhan mereka adalah:

  • Menuduh bahwa dakwah Salafiyyah itu adalah suatu dakwah hizbiyyah sektarian, yang bertujuan untuk mengumpulkan manusia disuatu jama’ah yang disebut Salafiyyun.
  • Menuduh bahwa hanya yang ikut dengan golongan jama’ah yang disebut Salafiyyun sajalah yang akan selamat dan dianggap sebagai ahlus Sunnah. Sedang yang lain kalau tidak bergabung dengan mereka akan dianggap sesat dan ahlul bid’ah.

Maka kita jawab bahwa berbagai macam fitnah dan tuduhan bohong inilah adalah bukti dari dakwah yang haq. Sudah merupakan sunnatulloh bahwa dakwah yang haq tentu akan mengalami berbagai macam cobaan, fitnah, dan tuduhan dusta.

Dakwah Salafiyyah selalu memandang masyarakat Islam dari hukum asalnya, yakni termasuk dalam Ahlus sunnah dan dianggap sebagai Salafiyyun secara keumuman.

Dakwah Salafiyyah mengatakan bahwa yang bid’ah adalah bid’ah dan yang sunnah adalah sunnah, namun dengan cara yang proporsional dan melihat mashlahat-madhorot. Dan tidak menganggap masyarakat yang terjatuh ke dalam :

  • Manhaj yang bid’ah
  • Aqidah yang bid’ah
  • Pemikiran yang bid’ah
  • Amalan-amalan yang bid’ah
  • Organisasi atau jama’ah yang bid’ah

Akan langsung serta-merta dihukumi sebagai Ahlul bid’ah. Namun sepanjang ada udzur dalam masalah ini, maka akan tetap dianggap sebagai Ahlus Sunnah. Yang mana harus dinasehati dan dijauhkan dari bahaya kebid’ahan yang merongrongnya sedang dia tidak menyadarinya. [Untuk penjelasan terperinci, silakan rujuk lagi kepada penjelasan-penjelasan yang ada di tulisan ini di point-point sebelumnya]

24. Sehingga sebagai permisalan sederhana dalam hal ini,

Bid’ah itu seperti kanker yang tersembunyi dan kadang tidak semua orang mengetahuinya. Dan kewajiban bagi orang yang mengetahui adalah memberitahu hasil diagnosa kanker itu dan berusaha untuk menyembuhkannya. Bukan langsung serta merta menvonisnya dengan vonis kematian, setelah mengatakan bahwa dia terkena kanker.

Bagaimana mungkin orang yang berusaha menyelamatkan dari kanker dan menyembuhkannya, justru beranggapan bahwa apa yang dia lakukan itu memecah belah ummat? Dan apakah orang itu tidak mengetahui bahwa obat yang mujarab untuk kanker itu adalah Sunnah?

Sunnah adalah kebalikan dari bid’ah. Sehingga jika seseorang sakit karena bid’ah, maka hendaklah dia disembuhkan dengan Sunnah.

————

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.

[HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah].

Dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

من أشراط الساعة أن يُرْفَعَ العلم، ويَثْبُتَ الجهلُ.

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan”.

[HR. Bukhari-Muslim]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebagian di antara tanda dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, khamr ditenggak, dan perzinaan bermunculan -di mana-mana-.”

(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [8/267])

————

25. Sesungguhnya persatuan yang haqiqi itu di atas Sunnah dan manhaj Salaf. Bukan diatas kebid’ahan dan manhaj Ahlul Bid’ah.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara”. (QS Ali Imran:103)

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadits tentang hal itu juga. Dikhawatirkan terjadi perpecahan dan perselisihan atas mereka. Namun hal itu telah terjadi pada umat ini, sehingga mereka berpecah menjadi 73 firqah. Diantaranya  terdapat satu firqah najiyah (yang selamat) menuju surga dan selamat dari siksa neraka. Mereka ialah orang-orang yang berada di atas apa-apa yang ada pada diri Nabi shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.” [Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran:103.]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi  kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat”.

(HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).

وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah  belah  dan  berselisih  setelah  datang kepada mereka keterangan. Dan bagi mereka adzab yang pedih “. (Ali Imran : 105).

KHOTIMAH

Dengan berakhirnya point ke-25 tersebut, maka berakhirlah ketiga risalah tulisan ini. Semoga risalah ini dicatat sebagai suatu tambahan amalan pahala bagi sang penulisnya, dan dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Walhamdulillaahi robil ‘aalamiin. Baarokalloohu fiik

Advertisements