Qaidah Fiqh : Mengenai Kelaziman (Konsekuensi) dari Suatu Pendapat

Leave a comment

Dasar Qaidah

Dalam qoidah fiqh dikatakan :
لازمُ المذهبِ ليسَ مذهبًا
Konsekuensi (yang ditarik) dari suatu madzhab (pendapat) bukan madzhab (pendapat) itu sendiri.

Ibnu taimiyah berkata dalam kitab dar’u ta’arudh aql wa naql,

لازم المذهب ليس بمذهب وليس كل من قال قولا التزم لوازمه
Konsekuensi dari pendapat bukan pendapat itu sendiri, karena tidak lah semua yang berkata suatu perkataan mewajibkan konsekuensinya (yang difahami orang lain) adalah konsekuensi pendapat yang diharuskan kepadanya.

Ibnu Taimiyyah rahimahulloh juga berkata,

“ Lazim madzhab belum tentu menjadi madzhab, bahkan kebanyakan manusia berpendapat dengan berbagai hal yang mereka tidak menerima konsekuensinya ; sehingga seorang yang berpendapat dengan pendapat yang berkonsekuensi ta’thil belum tentu berakidah ta’thil, bahkan kadang berpendapat itsbat namun ia tidak mengetahui konsekuensinya “ ( Al Fatawa 16/461 ) .

Beliau (Ibnu Taimiyyah) rahimahulloh juga berkata,

“ Adapun jika konsekuensi itu diridhai olehnya setelah jelas baginya ; maka itu juga pendapatnya , adapun jika tidak meridhainya, maka bukan pendapatnya, walaupun ia akan kontradiktif…. adapun jika ia menafikan konsekuensi itu maka tidak boleh dinisbatkan hukum konsekuensi itu kepadanya sama sekali “ ( Al Fatawa 29/42 ).

Beliau (Ibnu Taimiyyah) rahimahulloh juga berkata,

“ adapun ucapan seorang : apakah laazim madzhab adalah madzhab ? ataukah bukan madzhab ? maka yang benar : bahwa laazim madzhab seseorang bukanlah madzhabnya jika ia tidak menetapinya , sebab jika ia telah mengingkari atau menafikan maka penisbatan hal itu kepadanya adalah kedustaan atas namanya “ ( Al Fatawa 20/217 ) .

Nasehat Seputar Qaidah Ini

Berapa banyak :

1. Para Ahlul Bid’ah yang menyandarkan kelaziman (konsekuensi) dari perkataan para Ulama Ahlus Sunnah, untuk melegalkan kebolehan dan keabsahan bid’ah yang mereka lakukan.

2. Atau yang kadang dilakukan oleh para aqlaniyyun (pemuja akal) dengan dibungkus syubhat fiqh (baca : berkedok dengan kepandaian fiqh, padahal sebenarnya hanya sekedar kepandaian silat lidah, kepandaian mengelabui, dan kepandaian debat saja), untuk membenarkan kesombongan pendapat mereka.

3. Atau yang dilakukan oleh para muqollid untuk membenarkan konsekuensi taqlid mereka.

Padahal jika diklarifikasi dan ditarjih lebih lanjut lagi, konteks antara apa yang dikatakan oleh para ulama itu kadang berbeda dengan konteks konsekuensi yang diinginkan oleh mereka.

Dan juga jika diklarifikasi dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penjelasan Salaf yang lain sesuai dengan metodologi ilmiah, maka konsekuensi pendapat yang mereka inginkan itu jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau lemah (marjuh) jika dibandingkan dengan pendapat yang lain.

Inilah salah satu talbis Iblis untuk mencampurkan antara yang haq dan yang batil, antara yang sunnah dan yang bid’ah, dan antara Tauhid dan syirik, untuk menipu kaum muslimin.

Baik itu dengan cara :

1. Membentur-benturkan pendapat Ulama

2. Paksaan untuk bertoleransi atas nama “perbedaan pendapat”.

Padahal para ulama Ahlus Sunnah, bersih namanya dari penisbatan-penisbatan mereka itu. Dan hendaklah berhuznudzon dan memberikan udzur kepada para ulama, dengan memberikan penafsiran konsekuensi perkataannya dengan hal-hal yang sesuai dengan sunnah. Daripada memberikan penafsiran konsekuensi yang sesuai dengan hawa nafsu dan kebid’ahan.

Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh berkata: “Seluruh kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yg secara jelas mengetahui suatu hadits dari Rasulullah tidak halal baginya meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang.”[Ibnul Qayyim (II/361) dan al-Filani (hal 68).]

Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh juga berkata:

“Apabila kalian menjumpai dalam kitabku hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu alayhi wasalam, maka berpendapatlah kalian sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alayhi wasalam, dan tinggalkan apa yang aku katakan” (Dalam riwayat lain: “maka ikutilah sunnah tersebut, dan janganlah kalian hiraukan pendapat seorang pun”).[Al-Harawi dalam Dzammul Kalaam (III/47/1), al-Khathib dalam al-Ihtijaaj bisy-syafi’i (VIII/2), an-Nawawi dalam al-Majmuu’ (I/63).]

Al-Imam Abu Hanifah rohimahulloh berkata :”Apabila hadits itu shahih maka itulah madzhabku.”. [Diriwayatkan oleh ibnu ‘Abidin dalam al-Haasyiyah (I/63) dan dalam tulisan beliau Rasmul Mufti (I/4).]

Al-Imam Abu Hanifah rohimahulloh juga berkata : “Tidak halal bagi siapapun mengikuti perkataan kami bila ia tidak mengetahui dari mana kami mengambil sumbernya.”[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Intiqaa fii Fadhaa-ili ats-Tsalaatsah al-A-immah al-Fuqahaa’ (hal 145), Ibnul Qayim dalam I’Laamul Muwaqqi’iin (II/309).]

Walloohu A’lam. Semoga bermanfaat.

Baarokalloohu fiik

Memahami Salaf, Salafiyyah, dan Salafiyyun Secara Bahasa, Manhaj, dan Istilah (Bag 3)

1 Comment

Alhamdulillaah, sekarang kita sudah mencapai tulisan ketiga yang merupakan tulisan terakhir dari tema bahasan kita ini.

Di tulisan pertama kita sudah memahami asal-muasal, arti, dan berikut akar historis dari istilah Salaf tersebut. Di tulisan kedua kita juga sudah membahas panjang lebar mengenai penisbatan manhaj kepada Salaf yang lazim disebut dengan istilah Salafiyyah.

Sempat juga kita bahas disitu perihal istilah-istilah lain seperti Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Jama’ah, Jama’atul Muslimiin, Firqotun Najiyah, Thoifah Al-Manshuroh, Al-Ghuroba, dan As sawadul A’dzom yang merupakan nama lain dari istilah Salafiyyah dengan konteks yang berbeda-beda (baca: sinonim).

Berikut disini akan kita bahas istilah Salafi (bentuk tunggal) atau Salafiyyun (Bentuk jamak), yang merupakan orang-orang yang berusaha untuk melazimkan diri menisbatkan kepada manhaj Salaf atau Salafiyyah.

PEMBAHASAN MENGENAI ISTILAH SALAFI (BENTUK TUNGGAL) ATAU SALAFIYYUN (BENTUK JAMAK)

1. Salafi secara bahasa ataupun secara istilah tidaklah memiliki perbedaan makna yang berarti, semuanya kembali kepada arti penisbatan seseorang kepada manhaj Salaf.

Disebut Salafi (atau As-Salafi السلفي , jika dalam bentuk isim ma’rifat) jika tertuju kepada individu tunggal atau perseorangan. Dan disebut Salafiyyun (Atau As-Salafiyyuun السلفيون , jika dalam bentuk isim ma’rifat) jika tertuju kepada orang yang jumlahnya banyak atau jamak.

2. Istilah Salafiyyun atau Salafi ini mempunyai syarat, yakni tidak hanya sekedar mengaku-aku menisbatkan diri kepada Salafiyyah, akan tetapi juga harus ada kesesuaian antara amalannya dengan pengakuannya. Karena boleh jadi ada orang yang mengaku-aku dirinya sebagai salafy padahal dia bukanlah salafy.

Hal ini sebagaimana yang disebut oleh Al-Lajnah Ad-Daimah dan ulama lainnya,

—————-

Al-Lajnah ad-Da-imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah (wafay th. 1420 H) pernah ditanya:

Apakah yang dimaksud dengan Salafiyyah dan bagaimana pendapat antum sekalian tentangnya?

Maka Lajnah menjawab:

As-Salafiyyah adalah penisbatan kepada Salaf, sedangkan Salaf adalah para Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam pembawa petunjuk pada masa tiga kurun pertama -semoga Allah meridhai mereka- yang disaksikan dengan kebaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau:

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka Mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” [HR. Bukhari (no. 2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim no. 2533 (212)]

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, al-Bukhari dan Muslim.

Sedangkan Salafiyyun adalah bentuk jamak dari Salafi, sebuah nisbat kepada Salaf, dan maknanya telah dijelaskan.

Mereka (Salafiyyun) adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salaf dalam mengikuti Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, mendakwahkan keduanya, dan mengamalkan keduanya. Maka dengan hal itu mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Wabillaahit taufiq.

[Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ (II/242-243, fatwa no. 1361)]

—————————

Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahulloh pernah ditanya :

ثم سُئل حفظه الله : يقول فضيلة الشيخ وفقكم الله :
بعض الناس يختم اسمه بـ (السلفي) أو (الأثري)، فهل هذا من تزكية النفس ؟ أو هو موافـــق للشـرع؟

Pertanyaan, “Sebagian orang mengakhiri namanya dengan embel-embel assalafy atau al atsary. Apakah tindakan ini termasuk memuji diri sendiri ataukah malah sejalan dengan syariat?”

فأجاب حفظه الله :
المفروض أن الإنسان يتبع الحق ، المطلوب أن الإنسان يبحث عن الحق ويطلب الحق ويعمل به ،

Jawaban Syaikh Shalih al Fauzan, “Yang menjadi kewajiban setiap orang adalah mengikuti kebenaran (baca: manhaj salaf). Yang diperintahkan atas setiap orang adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya.

أما أنه يُسمى بـ (السلفي) أو (الأثري) أو ما أشبه ذلك فلا داعي لهذا ، الله يعلم سبحانه وتعالى

Adapun menamai diri sendiri dengan embel-embel assalafy atau al atsary atau semisal itu maka itu adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan. Allah mengetahui realita senyatanya dari kondisi seseorang.

(قل أتعلمون الله بدينكم والله يعلم ما في السماوات وما في الأرض والله بكل شيء عليم) .

Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah apakah kalian hendak memberi tahu Allah tentang ketaatan kalian. Dan Allah itu mengetahui semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan Allah itu mengetahui segala sesuatu” [QS al Hujurat:16].

التسمي : (سلفي) ، (أثري) أو ما أشبه ذلك، هذا لا أصل له ، نـحن ننظر إلى الحقيقة ، ولا ننظر إلى القول والتسمي والدعاوى .

Memberi embel-embel assalafy, al atsary atau semisalnya di belakang nama seseorang adalah perbuatan yang tidak berdasar. Kita melihat realita senyatanya, bukan pengakuan, embel-embel dan klaim.

قد يقول إنه (سلفي) وما هو بسلفي (أثري) وما هو بأثري ، وقد يكون سلفياً وأثرياً وهو ما قال إني أثري ولا سلفي .

Boleh jadi ada orang yang mengaku-aku dirinya sebagai salafy padahal dia bukanlah salafy atau mengaku-aku atsary padahal bukan atsary. Boleh jadi ada seorang yang benar-benar salafy dan atsary namun dia tidaklah menyebut-nyebut dirinya sebagai atsary atau pun salafy.

فالنظر إلى الحقائق لا إلى المسميات ولا إلى الدعاوى ، وعلى المسلم أنه يلزم الأدب مع الله سبحانه وتعالى .

Yang jadi tolak ukur adalah realita senyatanya, bukan semata-mata klaim. Menjadi kewajiban setiap muslim untuk beradab kepada Allah.

لما قالت الأعراب آمنا أنكر الله عليهم: ( قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا )

Tatkala orang-orang arab badui mengatakan, “Kami telah beriman” Allah menegur mereka dengan firman-Nya yang artinya, ”Orang-orang badui mengatakan, ”Kami telah beriman”. Katakanlah kalian belum beriman akan tetapi katakanlah kami telah berislam” [QS al Hujurat:14].

الله أنكر عليهم أنهم يصفون أنفسهم بالإيمان ، وهم ما بعد وصلوا إلى هذه المرتبة، توُّهُم داخلين في الإسلام .

Allah menegur mereka karena mereka memberi label iman kepada diri mereka sendiri karena salah pahal dengan status mereka yang telah masuk ke dalam Islam padahal mereka belum sampai level tersebut

أعراب جايين من البادية ، وادعوا أنهم صاروا مؤمنين على طول! لا.. أسلَموا دخلوا في الإسلام ، وإذا استمروا وتعلموا دخل الإيمان في قلوبهم شيئاً فشيئاً :

Orang-orang badui yang baru saja datang dari perkampungan nomaden mengklaim bahwa diri mereka adalah orang-orang yang beriman. Ini tentu saja tidak benar. Mereka baru saja berislam alias baru saja masuk Islam. Jika mereka terus berislam dan mau terus mengkaji maka iman akan masuk ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit.

(ولما يدخل الإيمان في قلوبكم) كلمة (لمّا) للشيء الذي يُتوقع ، يعني سيدخل الإيمان ، لكن أنك تدعيه من أول مرة تزكية للنفس.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan iman itu belum masuk ke dalam hati kalian” [QS al Hujurat:14]. Kata-kata lamma yang kita terjemahkan dengan ’belum’ adalah kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan akan terwujudnya apa yang diharapkan. Artinya iman akan masuk ke dalam hati mereka. Akan tetapi tiba-tiba anda mengklaim diri anda sebagai orang yang beriman maka ini termasuk memuji diri sendiri yang merupakan perbuatan terlarang.

فلا حاجة إلى أنك تقول أنا (سلفي) .. أنا (أثري) أنا كذا.. أنا كذا ، عليك أن تطلب الحق وتعمل به، تُصلح النية والله هو الذي يعلم سبحانه الحقائق.
العلامة صالح بن فوزان الفوزان

Tidak perlu anda mengatakan ‘Saya salafy, Saya atsary’, saya demikian atau demikian. Kewajiban anda adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya. Perbaikilah niat dan Allah itu yang mengetahui hakekat senyatanya”.

Sumber:

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=15967

Sumber link : http://ustadzaris.com/hukum-embel-embel-as-salafy

—————————

More

Memahami Salaf, Salafiyyah, dan Salafiyyun Secara Bahasa, Manhaj, dan Istilah (Bag 2)

1 Comment

Setelah kita memahami duduk pemasalahan asal muasal istilah salaf itu di tulisan bagian pertama, berikut juga bukti historis bahwa itu bukanlah suatu istilah baru yang dibuat-buat oleh suatu kelompok pemikiran baru untuk membuat suatu aliran/faham baru. Dan juga bukan suatu istilah untuk menamakan sebagai suatu penisbatan suatu organisasi, kelompok, jama’ah, aliran, ataupun komunitas pengajian tertentu.

Maka setelah memahami hal itu, maka berikutnya kita akan melihat lebih lanjut akan permasalahan penisbatan manhaj kepada Salaf ini yang lazim disebut sebagai Salafiyyah, dan berikut dalil-dalil yang mewajibkannya.

PEMBAHASAN MENGENAI SALAFIYYAH

1. Salafiyyah (سلفية ) adalah suatu penisbatan dalam memahami (faham), atau penisbatan akan suatu fikroh (pemikiran), atau penisbatan akan suatu manhaj yg disandarkan kepada Salaf.

Namun dari ketiga istilah faham, fikroh, dan manhaj itu; yg lebih tepat untuk istilah salafiyyah ( سلفية) ini adalah penisbatan kepada manhaj.

2. Istilah “manhaj” ini mencakup hal-hal yg lebih luas daripada istilah “faham” dan “fikroh”. Atau bisa juga dikatakan istilah “faham” dan “fikroh” itu sudah tercakup juga di dalam istilah “manhaj”.

Tercakup juga dalam istilah manhaj ini mengenai akhlaq, aqidah, perilaku (adab), dan apa-apa yg dilakukan oleh para salaf.

—————-

a. Manhaj berasal dari akar kata nahaja-yanhaju-nahjan-wa manhajan yang artinya mengambil atau meniti jalan. Bisa juga berarti cara atau metode.

Secara bahasa, Manhaj mempunyai arti sama yang sama dengan minhaj yakni: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Allah Ta’ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan Minhaajan (jalan yang terang).” (QS. Al-Maa-idah : 48)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Maksudnya, jalan dan syari’at.” [“Mulia Dengan Manhaj Salaf”, hal. 13, Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah]

b. Secara istilah, manhaj ialah : kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pembelajaran ilmiyyah, seperti kaidah-kaidah bahasa Arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir dimana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam Islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar. [“Mulia Dengan Manhaj Salaf”, hal. 13, Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah].

c. Adapun ketika istilah manhaj ini ditujukan untuk permasalahan Diin, maka para ulama berkata dalam menerangkan definisinya sebagai berikut :

Syaikh Shalih al Fauzan hafidzahulloh mendapatkan pertanyaan sebagai berikut,

س 44 : هل هناك فرق بين العقيدة والمنهج ؟

Apakah ada perbedaan antara akidah dengan manhaj?

جـ/ المنهج أعم من العقيدة، المنهج يكون في العقيدة وفي السلوك
والأخلاق والمعاملات وفي كل حياة المسلم، كل الخِطة التي يسير عليها المسلم تسمى المنهج .

Jawaban beliau, “Manhaj itu lebih luas dari pada akidah. Ada manhaj dalam berakidah, berperilaku, berakhlak, bermuamalah dan dalam semua sisi kehidupan seorang muslim. Seluruh langkah yang ditempuh oleh seorang muslim (dalam seluruh aspek kehidupan, pent) itu disebut dengan istilah manhaj.

أما العقيدة فيراد بها أصل الإيمان، ومعنى الشهادتين ومقتضاهما هذه هي العقيدة .

Sedangkah yang dimaksud dengan akidah pokok-pokok iman (baca:rukun iman), makna dan konsekuensi dua kalimat syahadat. Itulah yang disebut dengan akidah”

[al Ajwibah al Mufidah ‘an As-ilah al Manahij al Jadidah hal 131, Terbitan Darul Minhaj Mesir cetakan keempat tahun 1426 H].

– Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i rohimahulloh berkata :

فمنهاجنا كتاب الله و سنة رسول الله- صلى الله عليه و على آله و سلم- كما قال تعالى: يأيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة

“Manhaj kita –kaum muslimin, pent- adalah seluruh ajaran al Qur’an dan sunah Rasulullah sebagaimana yang Allah firmankan yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara totalitas” (QS al Baqarah:208)”

[Perkataan ini beliau sampaikan dalam kata pengantar beliau untuk buku al Siraj al Wahhaj bi Sahih al Minhaj karya Abul Hasan al Ma’ribi hal 11, Maktabah al Idrisi Shan’a Yaman, cetakan kedua tahun 1421 H].

Sumber : http://ustadzaris.com/adakah-beda-antara-aqidah-dan-manhaj-2

—————-

More

Salah Satu Bentuk Jihad yang Afdhol

Leave a comment

1099 – «أفضل الجهاد أن يجاهد الرجل نفسه وهواه» .
صحيح) … [ابن النجار] عن أبي ذر. الصحيحة 1496: أبو نعيم، الديلمي.)

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jihad yang paling afdhol adalah jihadnya seseorang dalam melawan dirinya dan hawa nafsunya”

(Shahih al jami’ ash shoghir, hadits ke 1099. Syaikh Albani berkata “Shohih”. Diriwayatkan oleh ibnu Najjar, dari Abu Dzarr, Ash-shohihah : halaman 1496. Abu Nu’aim, dan ad Dailami)

——————–

Oleh karena itu mari jangan sepelekan hawa nafsu, kejelekan-kejelekan, serta kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita…..

Janganlah perturutkan hawa nafsu dan sifat-sifat jelek kita. Lawanlah walaupun itu berat dan kadang sukar untuk dilihat. Mari selalu perbaikilah diri kita sendiri….

Sesungguhnya hal itu adalah pintu-pintu dan ladang yg subur bagi syaitan untuk masuk dan bercocok tanam, menumbuhkan benih benih kejahatan dengan bisikan dan hasutan nya.

Berjihadlah dengan jihad sepanjang zaman hingga kita mati ini. Jangan sombong dan takabur, karena musuh kita selalu bersama kita sedang kita tidak menyadarinya.

Dan mari berbanggalah ketika kita sedang melawannya, karena kita sedang melakukan jihad yang afdol, yang medan perangnya mudah ditemukan dimana-mana……

Menjalankan Islam dengan Standarisasi Manhaj Salaf

1 Comment

Sesungguhnya menjalankan islam yang benar itu dengan cara berdasarkan ilmu dan manhaj yg haq. Menjalankan islam itu bukan dengan cara berdasarkan :

  1. Organisasi
  2. Tokoh
  3. Partai
  4. Majlis taklim dan komunitasnya
  5. Tradisi peninggalan turun temurun
  6. Pengalaman
  7. Hasil pemikiran logika kita sendiri

Ketujuh hal itu hanyalah hasil produk, bukan standart. Adapun manhaj, maka itu adalah suatu standart yg diajarkan oleh rasulullah dan para sahabat nya.

Product itu terbagi menjadi dua, produk yang lolos standarisasi dan produk yang cacat produksi sehingga di reject.

Product product yang lolos QA/QC dari standarisasi manhaj itulah, yang boleh untuk kita konsumsi sebagai perantara (wasilah). Bukan sebagai manhaj ataupun tujuan.

Karenanya hendaklah diingat, bisa jadi suatu saat suatu produk itu lolos dari QA/QC. Namun bisa jadi, di waktu lain dengan seiring waktu berjalan, kualitasnya menurun dan menyimpang dari standart.

Inilah pentingnya menjalankan islam berdasarkan standart manhaj.

Semoga catatan yang sederhana ini bisa memberikan gambaran yang mudah untuk difahami. Wallahu a’lam.