HUKUM UJUB KETIKA MASIH BERUPA LINTASAN HATI

Telah kita bahas sebelumnya bahaya-bahaya penyakit hati yang disebabkan oleh sifat ujub ini di tulisan pertama dan tulisan kedua dari risalah ini. Sekarang timbul pertanyaan, karena ujub ini merupakan perbuatan hati maka bagaimanakah hukum dari ujub ini jika masih dalam berbentuk perbuatan hati saja ? Yang mana ujub ini masih belum ditampakkan dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan.

Ujub, jika itu masih berupa lintasan hati, maka pelaku ujub tidaklah berdosa. Akan tetapi dia memiliki “potensi” untuk berdosa. Dan hendaklah orang yang di dalam dadanya ada ujub menyadari bahayanya, serta berusaha “berjihad” dengan sungguh-sungguh untuk menghilangkannya. Apalagi setelah mengetahui besarnya potensi bahaya ujub dari dua tulisan yang telah lalu itu….

Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

———————-

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menulis semua kebaikan dan keburukan. Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia melakukannya, Allah menulis pahala sepuluh kebaikan sampai 700 kali, sampai berkali lipat banyaknya. Barangsiapa berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia tidak melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis satu keburukan saja.

[HR. Bukhâri, no. 6491; Muslim, no. 131]

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Beberapa orang dari shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu mengatakan kepada beliau, ‘Kami mendapati dalam diri kami sesuatu, yang salah seorang dari kami menganggap besar (merasa takut) bila membicarakannya’. (sehingga kami diam dan lebih memilih untuk beriman serta membenarkan wahyu/dalil)

Beliau bertanya, ‘Kalian mendapatinya?’. Mereka menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda “Itulah keimanan yang nyata”

[HR Muslim, no. 132, Kitab Al-Iman]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan bumi?’ Ia mejawab Allah. Lalu setan bertanya, ‘Siapakah yang mencitakan Allah’ Jika salah seorang dari kalian merasakan sesuatu dari hal ini, maka katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya”

[HR.Muslim]

———————-

Demikianlah ujub jika masih berupa lintasan hati, yang mana kadang itu datang bukan karena keinginan kita sendiri. Hal itu bisa jadi bersumber dari bisikan syaithon ataupun godaan hawa nafsu. Walaupun hal itu tidak dihukumi sebagai berdosa, akan tetapi hendaklah difahami bahwa ujub yang masih berupa lintasan hati itu mempunyai potensi bahaya yang besar dan tidak boleh untuk diremehkan sama sekali.

Ketidak fahaman sebagian besar manusia akan besarnya potensi bahaya ujub dan peremehan atasnya inilah, yang menyebabkan banyak manusia menjadi binasa dan berakhlaq buruk !!

Dari hal ini, maka kita akan bisa lebih memahami peringatan Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut :

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303)

Walloohu A’lam

KEPADA SIAPAKAH UJUB UMUMNYA MENIMPA SESEORANG?

Ujub bisa menimpa siapa saja. Akan tetapi secara umum, ujub lebih dominan dan lebih berpotensi untuk menimpa ketiga golongan berikut ini :

1. Pemuda

Pemuda dengan jiwanya yang berani, semangatnya yang membara, dan kondisi fisiknya yang prima, bisa jadi berpotensi untuk memiliki prestasi dan kebaikan yang sangat memukau jika melalui bimbingan yang tepat.

Atau bisa juga berpotensi untuk mempunyai sumbangsih yang besar terhadap Diin dan masyarakat sekitar, jika dengan arahan yang benar.

Al Qur’an bahkan mengabadikan kisah yang berkaitan dengan pemuda, yakni yang berkaitan dengan kisah Ashhabul Kahfi dalam surat Al-Kahfi.

Akan tetapi, umumnya para pemuda itu lebih mudah untuk memperturutkan hawa nafsunya dan naif dalam memandang suatu perkara. Oleh karena itu sudah diketahui oleh khalayak umum bahwa pemuda itu sangat mudah terkena penyakit ujub. Belum lagi kebiasaan pemuda itu adalah saling berlomba untuk saling membanggakan diantara mereka. Sebagian orang mengatakan dengan istilah “masa untuk mencari jati diri“. Sebagian orang yang lain mengatakan “agar exist” (baca : agar diakui).

——————-

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dengan perkataan beliau,

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah

[HR Ahmad (2/263), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (17/309) dan lain-lain, dinyatakan shahih dengan berbagai jalurnya oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 2843).]

Laisat lahu Shabwah لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ (Tidak ada pada dirinya Shabwah) adalah pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan [Faidhul Qadiir (2/263)]

——————-

Akan tetapi sayang, walaupun sudah lazim diketahui pemuda itu lebih mudah untuk memperturutkan hawa nafsunya. Mudah tergoda syahwat, cepat merasa puas, suka disanjung, suka terburu-buru, mudah galau, dan mudah terkena penyakit ujub. Namun pembinaan serta perhatian khusus kepada para pemuda untuk permasalahan ini dirasa kurang. Bahkan tidak memadai.

Sampai usia berapakah seseorang itu disebut pemuda? Secara syariat, umumnya jika seseorang berusia masih dibawah 40 tahun maka dia masih tergolong sebagai pemuda. Atau boleh juga kita katakan, usia dari mulai akil baligh sampai dengan berumur 40 tahun itu masih tergolong sebagai pemuda.

——————-

Alloh subhaanahu wa Ta’ala berfirman :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.[QS. Al-Ahqaf : 15]

——————–

Dalam sejarah hidup manusia, rentang fase usia disebut “fase pemuda” itu ternyata memiliki rentang waktu yang paling panjang dibandingkan rentang fase manusia lainnya. Taruhlah misal, seorang manusia mulai baligh dengan ihtilam sejak mulai usia 12 tahun. Maka rentang waktu fase pemuda sejak 12 tahun sampai 40 tahun (sehingga total berjumlah 28 tahun) adalah rentang waktu yang sangat panjang dan sangat menentukan.

Bagaimanakah jika selama fase pemuda yang 28 tahun itu, hati dan akhlaqnya hanya diisi oleh kecenderungannya untuk memperturutkan hawa nafsu dan ujub sesuai dengan kecenderungan jiwanya yang lemah?  Tidak lain kehancuranlah yang akan terjadi!

Oleh karena itu, memahami permasalahan ilmu mengenai ujub dan mengatur hawa nafsu itu sangatlah penting untuk dipelajari oleh pemuda. Selain ditambah dengan bimbingan dan arahan tentu saja.

Dan hendaklah kita ingat, rentang usia fase pemuda itu adalah fase hidup yang paling panjang dibandingkan fase hidup lainnya. Oleh karena itu, janganlah kita menganggap remeh permasalahan ujub yang banyak menimpa para pemuda ini.

Catatan :

Fase manusia umumnya dibagi menjadi 4 :

  1. Fase anak-anak : baru lahir hingga mulai akil baligh
  2. Fase pemuda : mulai akil baligh hingga umur 40 tahun
  3. Fase Dewasa : mulai umur 40 tahun hingga 60 tahun
  4. Fase Tua (yang mulai lazim disebut syaikh karena pengaruh umur) : 60 tahun ke atas

2. Pemula (terutama dalam masalah ilmu Diin)

Di dunia nyata, jika dalam masalah keduniawian maka umumnya manusia bisa lebih mudah mengetahui dan memposisikan diri bahwa dia adalah seorang pemula. Mudah untuk memposisikan diri dia adalah “orang yang tahu bahwa dia tidak tahu“.

Seperti misal, orang yang baru mulai belajar ilmu kedokteran. Maka sangat jarang dia langsung merasa tau segalanya, dan bahkan bersikap bahwa dia bisa menyalahkan perkataan para ahli yang telah lebih lama belajar daripadanya di bidangnya.

Atau misal lain jika dia adalah pendatang baru di suatu daerah, yang kemudian dia tiba-tiba ditanya akan suatu jalan atau arah oleh seorang pengendara. Maka jika dia tidak tau, dia tidak akan ragu berkata “Maaf saya orang baru. Saya masih kurang familiar dengan jalan yang dimaksud. Coba tanya orang lain.“. Sangat jarang dia bersikap sok tahu dan arogan, menunjukkan jalan dengan seakan-akan dia sudah tau dan menguasai semua jalan.

Akan tetapi mungkin ini tidak berlaku mutlak. Ada juga bidang-bidang keduniawian lain, yang umumnya pemula itu akan merasa sok arogan dan merasa sudah menguasai segalanya. Bidang bela diri misalnya. para pemula di bidang ini kadang lebih mudah untuk ujub dan merasa bahwa dia adalah orang yang paling jagoan. Mungkin bidang-bidang olah raga yang lain pun seperti itu juga.

Adapun penjelasan di atas adalah di masalah keduniawian. Hal ini terbalik jika di masalah agama. Kadang para tholabul ‘ilmi pemula dalam masalah diin itu umumnya yang paling mudah untuk merasa ujub. Tidak jarang pula bersikap arogan atau berlebihan dalam suatu perkara, dengan tanpa melihat ilmu serta pertimbangan mashlahat-madhorot.

Para tholabul ‘ilmi pemula umumnya juga paling mudah berfatwa dan mudah untuk takjub dengan perkataan atau fatwanya sendiri. Mereka paling mudah untuk berfatwa walau tanpa ilmu dan pondasi yang matang. Terkadang juga mudah untuk mengikuti hawa nafsu dan syubhat tanpa mereka sadari.

Dan jika diluruskan atau dikritisi dengan berdasarkan ilmu, maka mereka bersikap sombong dan arogan dikarenakan ujubnya. Bahkan tidak jarang pula malah lebih suka debat kusir tanpa ilmu, memberikan argumen-argumen yang benar namun tidak nyambung dengan permasalahan (logical fallacy), dan menunjukkan adab serta akhlaq yang buruk.

Oleh karena itu para ulama berkata :

حْذَرْ أن تكونَ ( أبا شِبْرٍ ) فقد قيلَ: العلْمُ ثلاثةُ أَشبارٍ ، مَن دَخَلَ في الشبْرِ الأَوَّلِ  تَكَبَّرَ ؛ وَمَنْ دَخَلَ في الشبْرِ الثاني تَواضَعَ ، ومَن دَخَلَ في الشبْرِ الثالثِ  عَلِمَ أنه ما يَعْلَمُ

Berhati-hatilah jangan engkau menjadi Abu Syibrin. Ada yang mengatakan, “Tahapan ilmu itu ada tiga jengkal, barangsiapa yang masuk jengkal (syibr) pertama maka ia menjadi sombong, barangsiapa yang masuk jengkal kedua maka ia menjadi tawadhu’, dan barangsiapa yang masuk jengkal ketiga maka ia baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.” [Hilyah Thâlibul ‘Ilmi hal. 79 – Syaikh Bakr Abu Zaid rahmatullah ‘alaih]

Para Ulama menerangkan bahwa Abu Syibrin ialah orang yang baru belajar setahap ilmu kemudian ia tergesa-gesa dengan meninggalkan tahapan berikutnya karena menyangka dirinya telah berilmu dan kemudian ia berfatwa, mendebat dan menuduh siapapun yang menyelisihinya dengan modal sejengkal ilmu yang baru dimilikinya. Inilah hakikat kesombongan yang sesungguhnya.

Para ulama juga berkata :

(من رام العلم جملة, ذهب عنه جملة )

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, akan banyak pula ilmu yang hilang” [Dinukil dari Hilyatu tholibil ‘ilmi, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid hafidzahullah]

Bahkan rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam pun berkata :

Dari Ibnu Ka’b bin Malik, dari bapaknya, dia berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda” :

(َمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّار)

”Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, nescaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”. [Hr. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani berkata: Hasan]

Maka dari itu para ulama pun juga sangat menekankan untuk belajar adab dan akhlaq, disamping menuntut ilmu diin yang lain. Karena ilmu masalah adab dan akhlaq lah yang bisa mengatasi hal-hal itu. Terutama untuk akar masalahnya, yakni ujub. Dan ujub benar-benar akan membawa kepada penyakit-penyakit hati lainnya yang menghancurkan!!

———————

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata kepada seorang pemuda dari suku Quraisy: “Wahai anak saudaraku, pelajarilah olehmu adab-adab (islami) sebelum engkau mempelajari ilmu agama.” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani VI/330)

Ibnu Wahb rahimahullah berkata: “Apa yg telah kami pelajari dari Adab-nya imam Malik lebih banyak drpd apa yg telah kami pelajari dari ilmunya.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi VIII/113)

Yusuf bin Husain rahimahullah berkata: “Dengan (memahami dan mengamalkan) adab islami engkau dapat memahami ilmu agama (dengan baik dan benar).” (Lihat Iqtidho’ul ‘Ilmi Al-’Amal karya Al-Khothib Al-Baghdadi hal.170)

Suatu ketika Imam Laits Bin Sa’ad melihat para penuntut hadits, kemudian beliau melihat ada kekurangan dalam adab mereka, maka beliau berkata: “Apa ini!, sungguh belajar adab walaupun sedikit lebih kalian butuhkan dari pada kalian belajar banyak ilmu”. (Al-Jami’:1/405)

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Penuntut ilmu yang datang di majelis imam Ahmad lima ribu orang atau lebih, lima ratus menulis hadits, sedangkan sisanya duduk untuk mempelajari akhlaq dan adab beliau”. (Siyar A’lamun Nubala’:11/316)

Berkata Abu Bakar Bin Al-Muthowi’i: “Saya keluar masuk di rumah Abu Abdillah (Imam Ahmad Bin Hambal) selama 12 tahun sedangkan beliau sedang membacakan kitab Musnad kepada anak-anaknya. Dan selama itu saya tidak pernah menulis satu hadits pun dari beliau, hal ini disebabkan karena saya datang hanya untuk belajar akhlaq dan adab beliau”. (Siyar A‘lamun Nubala’:11/316)

Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsaurirahimahullah-: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”. (Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361)

Berkatalah Abdullah bin Mubarakrahimahullah-: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446)

Dan beliau juga berkata: “Hampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmu”. (Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120)

Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata (-rahimahullah-): “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”. (Hilyah: 17. Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49)

Berkata Abullah bin Mubarak: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husainrahimahullah-: “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit daripada hadits walaupun banyak”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbarirahimahullah-: “Ilmu tanpa adab seperti api tanda kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

——————————

Dari sisi lain, kita juga bisa melihat bagaimana pandainya syaithon memupuk dan mengembangkan bibit penyakit hati ujub yang menghancurkan ini kepada para penuntut ilmu. Padahal mereka adalah para penuntut ilmu agama !!

Akan tetapi syaithan faham bahwa dia susah jika ingin menggelincirkan mereka langsung dari pintu kemaksiatan, maka digelincirkanlah mereka lewat pintu ujub. Dan bahkan tidak jarang juga, dengan melewati pintu ujub ini, banyak penuntut ilmu yang akhirnya jatuh juga kepada pintu kemaksiatan. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Sebagian orang berkata : “Janganlah engkau menjadi musuh syaithan ketika ramai, sedangkan ketika sendiri engkau menjadi teman karibnya“.

Penuntut ilmu yang ujub bisa jadi tampak sholeh ketika di hadapan orang banyak, akan tetapi ketika sendiri dan didorong dengan keujuban masalah ilmunya bahwa dia bisa bertaubat nanti, maka mulailah dia bermaksiat!!

——————-

Mari kita lihat juga peringatan dari rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا ».

“Niscaya aku akan melihat beberapa kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah yang putih, kemudian Allah Azza wa Jalla menjadikannya debu yang beterbangan”.

Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu,”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Ketahuilah, mereka adalah saudara kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya” [HR Ibnu Majah no. 4245, dishahîhkan Syaikh al-Albâni. Lihat as-Silsilah ash-Shahîhah, no. 505.]

——————-

3. Orang-orang yang memiliki keutamaan

Orang-orang seperti ini sangat wajar berpotensi untuk mudah terkena ujub. Karena memang mereka mempunyai hal untuk dibanggakan dan berbahagia atasnya.

Akan tetapi jika kita perinci hubungan hukum antara keutamaan, kebanggaan, dan ujub; maka jika sikap bahagia itu :

  1. Dalam sikap yang wajar
  2. Dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Alloh
  3. Tidak bermaksud untuk memandang bahwa dirinya lebih utama dibandingkan yang lain
  4. Tidak menisbatkan keutamaan itu semata-mata hanya karena pengaruh dirinya saja. Yakni dengan tanpa menisbatkan bahwa itu adalah keutamaan yang diberikan oleh Alloh kepadanya untuk mengujinya.
  5. Tidak menyakiti perasaan orang lain dengan kebanggaannya itu.

Maka jenis kebahagiaan yang sudah memenuhi lima persyaratan ini tidak mengapa hukumnya. Hal itu dikarenakan adanya perincian dalil-dalil berikut ini :

——————————

1. Dalam sikap yang wajar.

Dalam artian adalah bersikap wajar dan tidak dimaksudkan untuk mencari popularitas. Hal ini sebagaimana hadits yang menyebutkan tiga golongan manusia yang mempunyai keutamaan, yakni orang yang mati syahid, orang ‘alim, dan orang yang kaya lagi dermawan.

قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.”

Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’

Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’

Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’

Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’

Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’

Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” [Hr. Muslim]

2. Dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Alloh

Dalil untuk hal ini adalah,

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu beritahukan.” (QS. Adh Dhuha: 11)

Syaikh ibn Baz rohimahulloh berkata :
Allah memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebut-nyebut nikmat yang Allah berikan. Nikmat itu disyukuri dengan ucapan dan juga ditampakkan dengan amalan. Tahadduts ni’mah (menyiarkan nikmat) dalam ayat tersebut berarti seperti seorang muslim mengatakan, “Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik. Saya memiliki kebaikan yang banyak. Allah memberi saya nikmat yang banyak. Aku bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut.”

Tidak baik seseorang mengatakan dirinya itu miskin (fakir), tidak memiliki apa-apa. Seharusnya ia bersyukur pada Allah dan tahadduts ni’mah (siarkan nikmat tersebut). Hendaklah ia yakin bahwa kebaikan tersebut Allah-lah yang memberi. Jangan ia malah menyebut-nyebut dirinya itu tidak memiliki harta dan pakaian. Janganlah mengatakan seperti itu. Namun hendaklah ia menyiarkan nikmat yang ada, lalu ia bersyukur pada Allah Ta’ala. Jika Allah memberi pada seseorang nikmat, hendaklah ia menampakkan nikmat tersebut dalam pakaian, makanan dan minumnya. Itulah yang Allah suka. Jangan menampakkan diri seperti orang miskin (kere). Padahal Allah telah memberi dan melapangkan harta. Jangan pula ia berpakaian atau mengonsumsi makanan seperti orang kere (padahal keadaan  dirinya mampu, pen). Yang seharusnya dilakukan adalah menampakkan nikmat Allah dalam makanan, minuman dan pakaiannya. Namun hal ini jangan dipahami bahwa kita diperintahkan untuk berlebih-lebihan, melampaui batas dan boros.” [Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah, juz ke-4, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/32]

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَإِذَا آتَاكَ اللَّهُ مَالًا فَلْيُرَ أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكَ وَكَرَامَتِهِ

“Jika Allah memberimu harta maka tampakkanlah wujud dari nikmat-Nya dan pemberian-Nya itu pada dirimu.”

[HR. Abu Daud (4064) dan lafazhnya berdasarkan periwayatannya, dan Al-Albani menshahihkannya, dan Ahmad (15457), dan An-Nasaa’i (5223)]

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya”

(HR. Tirmidziy, dishahiihkan syaikh al-albaaniy)

3. Tidak bermaksud untuk memandang bahwa dirinya lebih utama dibandingkan yang lain

Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidaklah dianiaya sedikitpun.” (QS. An-Nisa’: 49)

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertaqwa.”

(QS. An-Najm: 32).

4. Tidak menisbatkan keutamaan itu semata-mata hanya karena pengaruh atau kemampuan dirinya saja. Yakni dengan tanpa menisbatkan bahwa itu adalah keutamaan yang diberikan oleh Alloh kepadanya untuk mengujinya.

Mari kita lihat perkataan Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam, yang telah Alloh berikut keutamaan dan nikmat yang begitu besar itu,

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:

Ini termasuk karunia keutamaan dari Rabb-ku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. [Qs. An-Naml : 40]

Mari kita lihat juga perkataan Nabi Yusuf ‘alaihis salaam ketika beliau lolos dari berbagai ujian, termasuk juga ujian kedzoliman saudaranya terhadapnya, beliau berkata :

قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”. Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” [QS. Yusuf : 90]

5. Tidak menyakiti perasaan orang lain dengan kebanggaannya itu.

Yakni dengan cara memperlihatkan nikmat keutamaan yang diberikan Allah padanya. Dengan maksud memberikan kesan bahwa jika dia diberikan nikmat oleh Allah maka berarti dia itu mulia, sedangkan orang-orang yang tidak diberikan nikmat berarti dihinakan oleh Allah. Atau bisa juga tujuan memperlihatkan nikmat keutamaan untuk menyombongkan diri, dan menyakiti hati orang yang melihatnya.

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.” [QS. Al-Fajr : 15-16]

——————————

Setelah melihat kelima syarat di atas, maka kita bisa faham bahwa jika salah satu dari lima syarat itu tidak terpenuhi, maka sikap kebanggaan dan kebahagiaan itu bisa jadi hanya akan berubah menjadi ujub semata.

Keutamaan-keutamaan yang dimilikinya, hanya akan menjadi bumerang ujub yang berbalik menyerang dirinya sendiri dengan berbagai macam penyakit hati yang membinasakan.

CONTOH ORANG YANG MEMPUNYAI KEUTAMAAN YANG TERGELINCIR

Adapun contoh orang-orang yang mempunyai keutamaan yang tergelincir kepada ujub yang membinasakan, yakni kesombongan yang berujung kepada kekufuran, adalah seperti misal :

1. Iblis

Iblis adalah contoh makhluq yang benar-benar memiliki keutamaan. Sebelum dilaknat, Iblis adalah dari bangsa jin yang memiliki kedudukan tinggi disisi Allah hingga dia disejajarkan dengan kedudukan para Malaikat. Akan tetapi karena ke-ujub-annya lah yang menggelincirkan kepada kesombongan, hingga menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salaam. Maka jadilah dia makhluq yang terlaknat. Dan kisah perihal asal usul iblis ini masyhur di kitab-kitab tafsir.

2. Fir’aun

Kisah Nabi yang paling banyak diceritakan di dalam Al Qur’an adalah kisah Nabi Musa ‘Alaihis sallam. Dan diantara kisah Nabi Musa itu, salah satu yang utama adalah kisahnya dalam melawan Fir’aun la’natulloh ‘alaih.

Fir’aun jelas adalah orang yang memiliki keutamaan. Dia orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar. Dia juga sangat pandai dalam berorasi, berkata-kata, dan berargumen (lihat dialognya dengan Nabi Musa ‘Alaihis Sallam yang diabadikan di dalam AL-Qur’an). Akan tetapi ujub ternyat membawanya kepada kesombongan yang amat sangat, hingga dia pun berani mengaku sebagai Rabbukumul A’la (Rabb Tuhan kalian semua yang Maha Tinggi). Akibatnya, kebinasaanlah yang akhirnya menimpanya.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

(Seraya Fir’aun) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. [QS. An Naazi’aat : 24]

3. Haman

Haman masih merupakan satu bagian dari kisah perseteruan antara Nabi Musa ‘Alaihis Salaam dengan Fir’aun la’natullooh ‘alaihi. Haman adalah salah seorang pejabat tinggi dan orang dekat Fir’aun.

Dialah orang yang disuruh oleh Fir’aun untuk membuat suatu bangunan yang sangat tinggi, agar Fir’aun dapat melihat Allah Rabb-nya Musa, yang al-A’la (Maha Tinggi), yang ada di atas sana.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Dan berkata Fir´aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”” [Al-Qoshshosh : 38]

وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir´aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” [Al-A’raaf : 137]

Dan tidaklah ada orang yang melaksanakan perintah dari Fir’aun yang sombong seperti ini, melainkan dia (Haman) adalah orang yang sombong juga. Jika Fir’aun takabur dan sombong dengan kekuasaannya, maka Haman takabur dan sombong dengan kemampuannya.

Bukti dari kemampuan engineering Haman dalam membangun bangunan yang tinggi, dengan teknik tanah liat yang dibakar sebagai bahan bakunya, ditemukan oleh sebagian para ahli dunia barat dalam teori/hipotesanya  ketika mempelajari bagaimanakah cara piramida itu dibangun.

Piramida adalah bangunan peninggalan fir’aun yang tersisa, selain dari bangunan tinggi buatan Haman yang telah dihancurkan (sebagaimana yang disebut dalam surat Al-Qoshshosh : 38 dan Al-A’raaf : 137). Diasumsikan piramida menggunakan teknik yang sama dengan teknik yang digunakan untuk membuat bangunan tinggi, sebagaimana  yang diperintahkan oleh Fir’aun.

Dari penelitian sebagian para ahli dunia barat, ternyata bahan dasar bangunan piramid itu berasal dari teknik tanah liat (clay) yang dibakar.

Untuk pembahasan terperinci, silakan lihat :

http://www.davidovits.info/78/davidovits-pyramid-theory-worldwide

http://kaheel7.com/eng/index.php/unseen-miracles/442-new-facts-about-the-pyramids-a-new-miracle-of-the-quran

Jika zaman sekarang ini kita sudah mengasai cara membuat bangunan dengan menggunakan batu bata (yang merupakan tanah liat yg dibakar juga), membikin tembok, menggunakan semen, mortar, pasir, rangka besi sebagai kerangka, perhitungan kekuatan bangunan secara terperinci terutama untuk bangunan yang tinggi sebagaimana yang dipelajari di civil engineering (teknik sipil) dan teknik arsitek, dan seterusnya; Namun apakah kita yakin teknik engineering kita lebih advanced dibandingkan teknik engineering Haman dalam membangun?

Padahal piramida itu ada dan tetap berdiri sejak beribu-ribu tahun yang lalu tanpa maintenance! Sedangkan bangunan kita apakah bisa bertahan 300 tahun saja tanpa maintenance?

Akan tetapi, walaupun mempunyai keahlian dan keutamaan yang tinggi. Haman tidak lepas dari kesombongan dengan mengikuti perintah Fir’aun la’natulloh ‘alaihi. Dan akhirnya kebinasaan lah yang didapatkannya.

4. Qorun

Qorun adalah salah seorang dari kaumnya Nabi Musa ‘Alaihis salaam. Dia diberi keutamaan dengan dilancarkan rizqy-nya dan diberikan kekayaan yang sangat banyak. Akan tetapi Qorun ternyata malah ujub dengan hal itu.

Dia menjadi sombong, tidak mau bersyukur, dan menisbatkan sumber kekayaannya itu hanya karena kepandaiannya semata. Bukan karena karunia keutamaan dari Allah. Dan akhirnya kebinasaanlah yang didapatkannya.

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Sesungguhnya Qorun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.” [QS. Al Qoshshosh : 76]

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Qorun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” [QS. Al Qoshshosh : 78]

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ ۖ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۖ وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)”. [QS. Al Qoshshosh : 81-82]

*****

Nama Qorun, Fir’aun, dan Haman juga disebutkan secara bersamaan sebanyak 2 kali di dalam Al-Qur’an.

قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ

Dan (juga) Qorun, Fir´aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). [Al Ankabut : 39]

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir´aun, Haman dan Qorun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”. [Al-Mu’min : 23-24]

Jika Fir’aun jatuh kepada kesombongan karena ujub dan takaburnya akan masalah kekuasaan, maka Haman jatuh dikarenakan masalah kepandaian engineeringnya, sedangkan Qorun dikarenakan masalah hartanya.

Kekuasaan, Kepandaian, dan Kekayaan kadang merupakan anugerah keutamaan yang bisa membantu kita untuk meraih kesuksesan dunia-akhirat. Akan tetapi bisa juga merupakan anugerah keutamaan yang akan menghancurkan kita.

Semoga Alloh memberikan kita keutamaan yang membantu diri kita untuk meraih kebahagiaan dunia-akherat dan mendapatkan ridho-Nya. Jauh dari sikap ujub, sombong, takabur, dan berbagai macam penyakit hati lainnya. Alloohumma, Aamiiin!

*****

Sebenarnya contoh-contoh lain orang yang mempunyai keutamaan yang tergelincir masih banyak lagi disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti misal Pemilik Kebun sebagaimana yang disebutkan dalam surat al Kahfi, kisah bangsa Aad dan Tsamud yang ahli membikin bangunan dan rumah di dalam gunung-gunung, dan lain-lain.

Akan tetapi empat contoh dari Iblis, Fir’aun, Haman, dan Qorun kiranya sudah lebih dari cukup untuk menerangkan mengenai hal ini. Semoga kita bisa mengambil Ibroh darinya.

********

CONTOH ORANG YANG MEMPUNYAI KEUTAMAAN YANG SELAMAT

Adapun contoh orang-orang yang mempunyai keutamaan yang memenuhi kelima persyaratan bolehnya berbahagia dengan keutamaan yang dimilikinya, yang mana keutamaan yang dimilikinya membantunya untuk banyak berbuat kebaikan dan menggapai pahala untuk akheratnya, adalah seperti misal :

1. Dzulqarnain

Dzulqarnain adalah raja sholeh yang memiliki kekuasaan yang sangat luas dan besar. Dzulqornain secara harfiah artinya adalah yang memiliki dua tanduk. Adapun yang dimaksud dengan dua tanduk itu oleh sebagian mufassirin (ahli Tafsir) adalah kekuasaan yang sangat luas, yakni meliputi wilayah bumi bagian barat dan wilayah bumi bagian timur.

Sebagian orang mengatakan bahwa Dzulqarnain ini adalah Iskandar Agung atau The Great Alexander kalau menurut istilah literatur barat. Akan tetapi pendapat ini salah karena Dzulqarnain adalah seorang raja yang beriman, sholeh, dan adil; sedangkan Iskandar Agung atau The Great Alexander adalah seorang kafir.

Kisah Dzulqarnain ini disebutkan dengan panjang dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 83 sampai 101. Dan Dzulqornain adalah seorang yang memiliki keutamaan yang tidak jatuh kepada ujub dan kesombongan. Menisbatkan keutamaan itu benar-benar merupakan karunia dari Alloh. Dan memanfaatkannya untuk membangun dunia dan akheratnya, serta meraih ridho Alloh Subhaanahu wa Ta’alaa.

Hal ini terlihat dari bagaimana sikap-sikap Dzulqarnain, yang memenuhi lima persyaratan dari orang yang memiliki keutamaan yang tidak tergelincir karena keutamaannya itu.

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Berkata Dzulqarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Robb-nya, lalu Alloh akan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”. [QS. Al Kahfi : 87-88]

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Robb-ku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, [QS. Al Kahfi : 95]

قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Dzulqarnain berkata: “Ini adalah rahmat dari Rabb-ku, maka apabila sudah datang janji Rabb-ku, Dia akan menjadikannya (dinding) hancur luluh; dan janji Rabb-ku itu adalah benar”. [QS. Al Kahfi : 98]

2. Nabi Daud ‘alaihis salaam dan Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam

Adapun untuk Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, maka ini tidaklah perlu untuk dipertanyakan lagi karena mereka adalah seorang Nabi. Dan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman selain diberikan anugrah keutamaan kenabian dan ilmu, juga diberikan anugrah keutamaan berupa kekuasaan dan kerajaan. Dan diberikan juga keutamaan dengan berbagai macam mu’jizat yang mengagumkan.

Dan salah satu perkataan Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam yang tercantum dalam Al-Qur’an yang harus senantiasa kita ingat agar kita terjauh dari ujub dan berbagai penyakit hati yang mengiringinya, adalah perkataan beliau :

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Ini termasuk karunia keutamaan dari Rabb-ku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. [Qs. An-Naml : 40]

PERGAULAN DI ANTARA SESAMA ORANG-ORANG YANG MEMILIKI KEUTAMAAN

Selain ujub mudah untuk menimpa orang-orang yang memiliki keutamaan, pergaulan di antara orang-orang yang memiliki keutamaan terkadang juga tidak lepas dari hal-hal yang mengkhawatirkan.

Yakni tidak lepas dari pergaulan ujub yang hanya saling berlomba untuk membanggakan diri, saling menyombongkan diri, saling mengejek orang lain untuk menjatuhkan dengan selubung canda, dan saling mengalahkan. Hal ini lebih tampak terlihat jika itu diantara pemuda yang saling memiliki keutamaan…

Keangkuhan, ego, dan saling bersaing ingin mengalahkan untuk menunjukkan superioritasnya lah yang senantiasa ditunjukkan.

Padahal seharusnya jika orang-orang yang saling memiliki keutamaan saling berkumpul, harusnya muncul sinergi di antara mereka. Saling membantu dengan keutamaan masing-masing, dan saling menutupi kekurangan satu sama lain. Suasana penuh rahmat yang saling menyayangi, akhlaq yang santun, adab yang baik, dan saling menghargai diantara sesama. Dan andaikata ada suatu persaingan pun, maka hendaklah persaingan yang sehat dan dengan tujuan untuk saling berlomba dalam masalah kebaikan.

———————–

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” [QS. Al-Maidah : 48]

———————–

Namun umumnya suasana ini terjadi di antara orang hanya lebih mengenal masalah duniawi saja. Walaupun harus diakui mereka itu memiliki keutamaan……

Atau bisa juga ini terjadi di pergaulan antara orang-orang yang memiliki keutamaan, yang mereka kurang faham masalah akhlaq dan adab.

Ujub, penyakit-penyakit hati, hawa nafsu, dan bisikan syaithan seakan memiliki lahan yang sangat subur untuk berkembang di lingkungan seperti itu. Hilangnya hati dari rasa saling menyayangi (rahmat) dan bertebarannya akhlaq buruk, benar-benar menjadi pemandangan yang umum dalam pergaulan itu.

[Adapun orang-orang yang memiliki keutamaan yang dimaksud disini adalah dalam arti luas. Bisa itu berupa kepandaian, kecantikan atau ketampanan, harta kekayaan, kemampuan fisik dan kekuatan, orang-orang yang memiliki pengaruh dan kekuasaan, status sosial yang tinggi dan pekerjaan yang bonafide, dan hal-hal semisal lainnya yang mempengaruhi social circle pergaulannya.]

Muncul pertanyaan….

Apakah jika itu umumnya terjadi di kalangan orang-orang yang hanya mengenal masalah duniawi saja, maka apakah jika seseorang yang mengenal diin dan akhirat bergabung dengan pergaulan yang seperti itu, maka dia tidak terpengaruh?Maka jawabnya tidak!

Dan bahkan yang terjadi, orang yang mengenal diin itu yang justru akan terpengaruh jika dia tidak berhati-hati. Apalagi orang-orang yang mengenal diin dan akherat namun tidak pernah belajar mengenai akhlaq dan adab sebagai pondasinya. Maka akan lebih mudah lagi baginya untuk terpengaruh dan dimasuki oleh ujub, penyakit-penyakit hati, hawa nafsu, dan bisikan syaithan tanpa dia sadar.

Inilah fitnah dunia dan pergaulan!!

——————–

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ »

Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” (HR Tirmidzi no. 2376, ia berkata: hasan shahih, Ahmad: 3/656)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ » رواه البخاري

Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta [HR. Bukhari]

Jika dua hadits di atas memperingatkan kita akan bahaya harta dan ambisi kedudukan, yang umumnya saling diperebutkan oleh orang-orang yang memiliki keutamaan namun kurang dalam memahami masalah diin dan akherat. Maka bagaimanakah nasib kita, jika kita bergaul dengannya tanpa berhati-hati terhadapnya dengan tanpa sering membersihkan jiwa kita?

Mari kita simak dalil-dalil di bawah ini juga,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

——————–

Oleh karena itulah ulama menasehatkan,

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :

وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا

Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36)

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam juga berkata :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Semoga Allah memberikan kita teman yang mempunyai akhlaq yang baik dan mempunyai keutamaan.

RUMUS KESIMPULAN

1. Ujub, jika itu masih berupa lintasan hati, maka pelaku ujub tidaklah berdosa. Akan tetapi ujub memiliki “potensi” untuk berdosa yang sangat besar. Dan hendaklah orang yang di dalam dadanya ada ujub menyadari bahayanya, serta berusaha “berjihad” dengan sungguh-sungguh untuk menghilangkannya.

2. Ujub bisa menimpa siapa saja. Akan tetapi secara umum, ujub lebih dominan dan lebih berpotensi untuk menimpa tiga golongan :

  • Pemuda
  • Pemula (terutama dalam masalah ilmu Diin)
  • Orang-orang yang memiliki keutamaan

3. Pemuda umumnya memiliki shabwah, yakni mudah untuk memperturutkan hawa nafsu dan mudah tergelincir dalam ujub.

4. Dalam sejarah hidup manusia, rentang fase usia disebut sebagai pemuda itu memiliki rentang usia yang paling panjang dibandingkan fase-fase lainnya. Fase manusia umumnya dibagi menjadi 4 :

  1. Fase anak-anak : baru lahir hingga mulai akil baligh
  2. Fase pemuda : mulai akil baligh hingga umur 40 tahun
  3. Fase Dewasa : mulai umur 40 tahun hingga 60 tahun
  4. Fase Tua (yang mulai lazim disebut syaikh karena pengaruh umur) : 60 tahun ke atas

5. Pemula, terutama dalam masalah ilmu diin, umumnya mudah terkena dalam jebakan “Abu Syibrin”. Sehingga mudah untuk ujub dan memperturutkan hawa nafsu tanpa disadari.

6. Pentingnya belajar ilmu akhlaq dan adab pada awal-awal fase pembelajaran ilmu agar tidak terjebak dalam jebakan “Abu Syibrin”.

7. Penuntut ilmu yang ujub bisa jadi tampak sholeh ketika di hadapan orang banyak, akan tetapi ketika sendiri dan didorong dengan keujuban masalah ilmunya bahwa dia bisa bertaubat nanti, maka mulailah dia bermaksiat.

8. Orang-orang yang memiliki keutamaan sangat wajar berpotensi untuk mudah terkena ujub. Karena memang mereka mempunyai hal untuk dibanggakan.

9. Tidak mengapa hukumnya berbahagia dengan keutamaan yang mereka miliki jika memenuhi lima syarat sebagai berikut :

  1. Dalam sikap yang wajar
  2. Dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Alloh
  3. Tidak bermaksud untuk memandang bahwa dirinya lebih utama dibandingkan yang lain
  4. Tidak menisbatkan keutamaan itu semata-mata hanya karena pengaruh dirinya saja. Yakni dengan tanpa menisbatkan bahwa itu adalah keutamaan yang diberikan oleh Alloh kepadanya untuk mengujinya.
  5. Tidak menyakiti perasaan orang lain dengan kebanggaannya itu.

10. Iblis, Fir’aun, Haman, dan Qorun merupakan empat dari sekian banyak contoh makhluk yang diberikan keutamaan akan tetapi tergelincir karena keutamaannya itu, sehingga ujub, bersikap sombong dan takabur, dan berakhir kepada kekufuran.

11. Dzulqarnain, Nabi Daud ‘alaihis salaam, dan Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam merupakan tiga orang dari sekian banyak contoh orang yang diberikan keutamaan. Yang tidak jatuh kepada ujub dan kesombongan. Menisbatkan keutamaan itu benar-benar merupakan karunia dari Alloh. Dan memanfaatkannya untuk membangun dunia dan akheratnya, serta meraih ridho Alloh Subhaanahu wa Ta’alaa.

12. Kekuasaan, Kepandaian, dan Kekayaan kadang merupakan anugerah keutamaan yang bisa membantu kita untuk meraih kesuksesan dunia-akhirat. Akan tetapi bisa juga merupakan anugerah keutamaan yang akan menghancurkan kita.

13. Pergaulan orang-orang yang memiliki keutamaan, akan tetapi hanya mengerti masalah duniawi saja serta lalai dalam masalah Diin dan akheratnya, merupakan pergaulan yang buruk. Mudah dimasuki oleh ujub, akhlaq yang jelek, penyakit-penyakit hati, hawa nafsu, dan bisikan syaithan tanpa disadari.

14. Orang-orang yang mengerti masalah diin dan tidak lalai akan akheratnya, bisa dengan mudah terseret dan terpengaruh ke arah keburukan, jika bergabung dengan pergaulan orang-orang yang memiliki keutamaan yang mengerti masalah duniawi saja serta lalai dalam masalah Diin dan akheratnya.

15. Pentingnya untuk mencari teman dan lingkungan pergaulan yang baik.

16. Ciri orang yang bisa dijadikan sahabat dan teman bergaul yang baik, umumnya orang yang mempunyai lima sifat sebagai berikut :

  1. Orang yang berakal (pandai)
  2. Memiliki akhlak yang baik
  3. Bukan orang fasik
  4. Bukan ahli bid’ah
  5. Bukan orang yang rakus dengan dunia

-bersambung, insya Allah-

Manhaj salaf

Advertisements