Risalah Ujub (Bag 3)

3 Comments

HUKUM UJUB KETIKA MASIH BERUPA LINTASAN HATI

Telah kita bahas sebelumnya bahaya-bahaya penyakit hati yang disebabkan oleh sifat ujub ini di tulisan pertama dan tulisan kedua dari risalah ini. Sekarang timbul pertanyaan, karena ujub ini merupakan perbuatan hati maka bagaimanakah hukum dari ujub ini jika masih dalam berbentuk perbuatan hati saja ? Yang mana ujub ini masih belum ditampakkan dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan.

Ujub, jika itu masih berupa lintasan hati, maka pelaku ujub tidaklah berdosa. Akan tetapi dia memiliki “potensi” untuk berdosa. Dan hendaklah orang yang di dalam dadanya ada ujub menyadari bahayanya, serta berusaha “berjihad” dengan sungguh-sungguh untuk menghilangkannya. Apalagi setelah mengetahui besarnya potensi bahaya ujub dari dua tulisan yang telah lalu itu….

Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

———————-

Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menulis semua kebaikan dan keburukan. Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia melakukannya, Allah menulis pahala sepuluh kebaikan sampai 700 kali, sampai berkali lipat banyaknya. Barangsiapa berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia tidak melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis satu keburukan saja.

[HR. Bukhâri, no. 6491; Muslim, no. 131]

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Beberapa orang dari shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu mengatakan kepada beliau, ‘Kami mendapati dalam diri kami sesuatu, yang salah seorang dari kami menganggap besar (merasa takut) bila membicarakannya’. (sehingga kami diam dan lebih memilih untuk beriman serta membenarkan wahyu/dalil)

Beliau bertanya, ‘Kalian mendapatinya?’. Mereka menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda “Itulah keimanan yang nyata”

[HR Muslim, no. 132, Kitab Al-Iman]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan bumi?’ Ia mejawab Allah. Lalu setan bertanya, ‘Siapakah yang mencitakan Allah’ Jika salah seorang dari kalian merasakan sesuatu dari hal ini, maka katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya”

[HR.Muslim]

———————-

Demikianlah ujub jika masih berupa lintasan hati, yang mana kadang itu datang bukan karena keinginan kita sendiri. Hal itu bisa jadi bersumber dari bisikan syaithon ataupun godaan hawa nafsu. Walaupun hal itu tidak dihukumi sebagai berdosa, akan tetapi hendaklah difahami bahwa ujub yang masih berupa lintasan hati itu mempunyai potensi bahaya yang besar dan tidak boleh untuk diremehkan sama sekali.

Ketidak fahaman sebagian besar manusia akan besarnya potensi bahaya ujub dan peremehan atasnya inilah, yang menyebabkan banyak manusia menjadi binasa dan berakhlaq buruk !!

Dari hal ini, maka kita akan bisa lebih memahami peringatan Rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut :

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303)

Walloohu A’lam

More

Advertisements

Risalah Ujub (Bag 2)

2 Comments

UJUB JUGA BERPOTENSI UNTUK BERUBAH MENJADI PENYAKIT HATI YANG LAIN

Selain berpotensi untuk berubah menjadi takabur atau kesombongan, sebagaimana yang sudah kita bahas di bagian 1  dari tulisan ini, Ujub ternyata juga bisa berpotensi menjadi penyakit hati yang lain. Berikut adalah sedikit perinciannya :

=========

1. Hasad/Dengki

=========

Ujub bisa juga berubah menjadi hasad (dengki) jika merasa melihat ada orang lain yang menyainginya/mengunggulinya.

Contoh akan hal ini adalah apa yang terjadi kepada orang yahudi (bani Isroil), yang mana hal ini terjadi setelah mereka mengetahui bahwa rasululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam itu ternyata bukan berasal dari bangsa/kaum mereka.

Isroil artinya itu adalah Hamba Alloh, dan ini adalah nama lain dari Nabi Ya’qub. Dari Nabi Ya’qub ‘Alaihis salaam inilah kemudian keluar Bani Isroil sebagai keturunannya.

Mereka (bani Isroil) sudah terbiasa dengan anggapan dan sikap yang tinggi hati terhadap diri mereka sendiri (ujub). Yang mana mereka menganggap diri mereka sebagai bangsa pilihan dikarenakan :

  • Banyak nabi-nabi yang berasal dari bani isroil
  • Mereka juga berasal dari keturunan para Nabi
  • Banyak mu’jizat turun kepada mereka
  • Banyak kitab Alloh yang diturunkan khusus untuk mereka (Taurat, Zabur, dan Injil)
  • Dan Alloh memang pernah meninggikan bangsa mereka pada zaman terdahulu dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain.

Alloh subhaanahu wa ta’aala berfirman

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. [QS. Al-Baqoroh : 47]

———————-

Mari kita lihat bukti ke-ujuban mereka sebagaimana yang Allah katakan dalam Al-Qur’an :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”.

Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?”

(Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu) [QS. Al-Maidah : 18]

قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. [QS. Al-Baqarah : 94]

———————–

More

Risalah Ujub (Bag 1)

4 Comments

MUQODDIMAH

Ujub atau sikap takjub terhadap diri sendiri, adalah suatu hal yang biasa kita temukan dimana-mana. Banyak orang yang sudah terbiasa berinteraksi dengannya. Baik itu dalam berinteraksi dengan sikap ujub yang ada pada dirinya sendiri, ataupun dengan sikap ujub yang ada pada diri orang lain.

Ujub adalah suatu perbuatan hati yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan dan perkataan, yang mana seseorang tidak perlu belajar untuk melakukannya. Banyak orang yang secara umum sudah mengetahui mengenai ujub ini, namun sayangnya hanya sedikit orang yang mengetahui mengenai perincian ilmunya berikut mengenai bagaimana cara mensikapinya.

Tulisan sederhana ini bertujuan untuk membahas dan menjelaskan ilmu, hukum, dan nasehat berkaitan mengenai ujub. Berikut juga dibahas mengenai bagaimana cara kita mensikapinya.

Semoga bermanfaat.

BERMULA DARI KELEMAHAN AKAL PIKIRAN

Dalam suatu istilah Arab dikatakan :

إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ عُنْوَانُ ضَعْفِ عَقْلِهِ

“Kekaguman seseorang atas dirinya (Ujub) pertanda kelemahan akal pikirannya”

———————————–

Arti asal dari ujub itu adalah kagum atau takjub. Umumnya yang dimaksud adalah kagum dan takjub terhadap dirinya sendiri. Dikarenakan ketakjuban dan kekaguman terhadap diri sendiri ini, maka bisa kita katakan bahwa ujub itu adalah pintu gerbang ke arah kesombongan. Bahkan ujub itu adalah salah satu bahan utama dari resep kesombongan.

Ujub ( الْعُجْبَ ) berbeda dengan muru’ah (مُرُوئة ) yang bermakna menjaga kehormatan diri.

Muru’ah (menjaga kehormatan diri) adalah menghindari hal-hal yang rendah dan hina, baik perkataan, perbuatan, maupun akhlak. Sedangkan ujub adalah memandang tinggi dirinya, yang bisa mempunyai kecenderungan konsekuensi memandang rendah selainnya, ataupun bahkan kadang menganggap suci diri sendiri.

Ujub juga berbeda dibandingkan dengan muru’ah, karena ujub itu bisa memperlemah pikiran seseorang sedangkan muru’ah itu mencerdaskan pikiran.

Memperlemah pikiran seseorang? Bagaimana itu maksudnya? Mari kita coba simak penjelasan di bawah ini……

Orang ujub itu cenderung terlalu tinggi dalam memandang diri dan umumnya juga mempunyai gengsi yang tinggi. Karena terlalu memandang tinggi diri, dia merasa bahwa dia itu seakan lepas dari salah, dosa, dan kekurangan. Dia merasa lebih superior jika dibandingkan dengan orang lain.

Bahkan seakan yang namanya salah, dosa, atau kekurangan itu tidak pantas untuk dinisbatkan kepadanya….. Sehingga wajar jika kita melihat orang seperti ini jarang untuk mau mengakui kesalahan dan kekurangannya. Jarang meminta maaf. Apalagi jika itu di depana umum!….

Kadang dalam suatu hal, dia tahu bahwa dia itu salah. Akan tetapi karena ujub yang ada pada dirinya, dia akan berusaha mempertahankan bahwa dia tidak salah dan berargumentasi membela diri agar seakan-akan tampak bahwa dia tidak salah.

Bahasa sederhananya adalah, “sudah tahu salah, ngeyel lagi“. Inilah apa yang dimaksud dengan adalah tanda kelemahan akalnya, atau dengan istilah yang lain disebut juga sebagai logical fallacy.

————–

Even when all of the premises of an argument are reliably true, the argument may still be invalid if the logic employed is not legitimate – a so-called logical fallacy.

Sumber : http://www.theskepticsguide.org/resources/logical-fallacies?wlfrom=%2Fresources

—————

More

Amalan yang Berpahala Seperti Shalat Malam

Leave a comment

============
Melaksanakan shalat empat rakaat sebelum shalat Zuhur.
============
Dari Abi Shalih -rahimahullah- Hadits ini marfu’ mursal, bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,

“Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat menjelang subuh.”
(HR.Ibnu Abi Saibah dalam Mushannafah no.5940 al-Albani menghasankannya dalam as-Silsilah as-Shahihah no.1431.)

Di antara keistimewaan sholat empat rakaat ini adalah dibukakan pintu-pintu langit, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub al-Anshari -radiallahu’anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,

“Shalat empat rakaat sebelum Zuhur dibukakan dengannya pintu-pintu langit”
(HR. Abu Daud no.3128, at-Tirmidzi dalam asy-Syamail, al-Albani mengomentari dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: hasan li ghairihi no.585.)

Karenanya Nabi -shalallahu alaihi wasallam- konsisten melaksanakannya. Jika terluput karena ada kepentingan yang tiba-tiba, beliau menggantinya dengan dilaksanakan setelah shalat fardu, tidak meninggalkannya.

Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radiallahu’anha-, beliau berkata,

“Dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- jika belum melaksanakan shalat empat rakaat sebelum Zuhur beliau laksanakan setelahnya.”
(HR.at-Tirmidzi no.426, al-Albani menghasankannya dalam Shahih atTirmidzi no.350. )

Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata,

“Dahulu jika Nabi terluput melaksanakan empat rakaat sebelum Zuhur beliau laksanakan setelah Zuhur.”
(HR. al-Baihaqi, al-Albani menghasankannya dalam Shahih al-Jami’ (426). )

Oleh sebab itu, siapa yang terlewatkan shalat empat rakaat atau tidak sempat melaksanakannya karena kepentingan pekerjaan, seperti sebagian para pengajar, maka tidak mengapa menggantinya setelah selesai pekerjaannya dan pulang ke rumahnya.
===
Abu ‘Isa at-Tirmidzi –rahimahullah- berkata:
Hadits (di atas) menunjukkan disyariatkannya menjaga pelaksanaan shalat-shalat sunnah sebelum fardu.

Waktunya lapang sampai berakhir waktu shalat fardu. Yang demikian karena, jika waktunya usai bersama usainya pelaksanaan shalat fardu tentu pelaksanaan setelahnya menjadi “qodho” (pengganti) sehingga mustinya dilakukan sebelum shalat sunnah bakda Zuhur.

Namun dari hadits yang valid, jelas bahwa beliau melaksanakannya setelah shalat sunnah dua rakaat ba’da Zuhur. Pengertian yang seperti itu disebutkan oleh al-‘Irâqi dan mengatakan, ‘Inilah yang benar menurut Madzhab Syafi’iah.‘”
(Jami’ at-Tirmidzi oleh Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi)
=======
Bagaimana cara melakukan sholat empat rekaat itu?
=======
1. Bisa dengan dua rekaat salam-dua rekaat salam.

Berdasarkan hadits:
صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat.”

[H.R. Ibnu Majah dan Nasa’i, disahihkan di Sahih Ibnu Majah oleh Albani]

2. Bisa dengan 4 rekaat dengan sekali salam, dengan berdasarkan keumuman hadits masalah ini.

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ تُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Dari Abu Ayyub dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda

“Empat rakaat sebelum Zhuhur, tidak ada padanya salam, maka dibukakan karenanya pintu-pintu langit”

[H.R Abu Dawud, disahihkan Albani dalam Sahih Targhib wa Tarhib no 585]

———————————————————–

NB : tulisan ini merupakan hasil share dari Akh Muhammad Budi Darmawan di WA Group, ditambah dengan hasil diskusi bersama Akh Ical

KAIDAH UNTUK MEMAHAMI “JARH WA TA’DIL KONTEMPORER” DI MASA INI AGAR TERHINDAR DARI FITNAH DAN KEMADHOROTAN

1 Comment

Al-Hafidz Al-Mundziri rohimahulloh menulis dalam kitab beliau “risalah fil jarh wa ta’dil” :
********************
APAKAH PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN MUHADDITSIN DALAM JARH DAN TA’DIL SAMA DENGAN PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN FUQAHA’ DALAM MASALAH-MASALAH FIQH?

Perbedaan pendapat di kalangan mereka adalah sama dengan perbedaan pendapat para fuqaha’. Semua itu merupakan konsekuensi logis dari sebuah ijtihad.

Seorang hakim, bila ada seseorang yang bersaksi di hadapannya yang [isinya] menjatuhkan kredibilitas orang lain, maka dia berijtihad apakah kadar kesaksian yang diberikan itu berpengaruh ataukah tidak.

Demikian pula seorang ahli hadits, jika dia ingin berhujjah dengan hadits yang diriyawatkan seseorang, sementara dia mendapatkan informasi [yang isinya] menjatuhkan kredibilitas (jarh) perawi tersebut, maka dia pun berijtihad apakah hal itu berpengaruh ataukah tidak. Informasi itu juga bisa diperdebatkan lagi, apakah di dalamnya mengandung penjelasan [atas dasar jarh-nya itu] ataukah tidak.

Juga, apakah [muhaddits tadi] menuntut dipenuhinya jumlah tertentu dari orang-orang yang memberinya informasi jarh [ataukah tidak], sebagaimana yang biasa dilakukan oleh seorang ahli fiqh.

Sama halnya pemberi informasi jarh tadi menyampaikannya secara langsung kepada muhaddits atau mengutipnya dari orang lain dengan menyebutkan jalur periwayatannya. Wallahu a’lam.
*************************
Sumber pengambilan kutipan : http://adabuna.blogspot.com/2011/09/terjemah-risalah-fil-jarh-wat-tadil.html

Semoga bermanfaat untuk mensikapi berbagai fenomena jarh wa ta’dil yang terjadi akhir-akhir ini.
Baarokalloohu fiik

CUKUPLAH ALLOH SBG PENOLONG DAN PELINDUNG KAMI

Leave a comment

Wahai yg suka memakai jimat-jimat dan khodam-khodam dari golongan jin.

Yang kurang merasa PEDE jika tidak punya kesaktian atau benda2 keramat.

Yang dikit-dikit ke orang pintar atau minta tolong kepada jin yg mbaurekso ktk tertimpa penyakit dan kesusahan.

Tinggalkanlah semua itu dan katakanlah “Hasbunalloohu wa ni’mal wakiil” ( Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)

Katakan hal itu dalam doa dan perlawananmu ketika melawan kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasanmu.

Janganlah bergantung kepada jin, syaithon, jimat, benda keramat, dan kesaktian2 yg menipu. Mereka tidak akan menolong dan melindungimu dalam arti yg sebenarnya. Mereka hanya menipumu dg berpura2 menolong dan melindungimu!

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Hasbunallah Wani’mal-Wakîl”, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali-Imran 3:173)

BERHATI-HATI TERHADAP SIHIR

Leave a comment

boneka sihir - sebelum dibakar boneka sihir - setelah dibakar

[Tulisan ini saya buat 23 September 2013 yg lalu]

Akhir pekan kemarin ada orang yg menaruh “boneka” ini di atas pagar rumah kontrakan saya.

Saya baru mengetahuinya pada pagi harinya. Saya tanya pada tukang telur disamping kontrakan saya. Dia pun tidak mengetahui siapa yang menaruhnya. Dan setelah mengetahui model boneka itu, dia juga mjd “waspada” dg boneka itu……

Saya coba tanya tetangga yang lain katanya ada orang gila yang membawanya dan menaruhnya di situ.

Saya dalam hati berkata, “masak sih orang gila? Padahal membuat boneka seperti ini itu relatif susah, apalagi model simpulan2 talinya. Kalo itu orang gila karena pengaruh sihir, mungkin bisa jadi….. Atau orang yang keberatan ilmu dalam belajar ilmu sihir shg jadi gila, mungkin bisa jadi juga…..”

Tapi akhirnya saya memilih untuk tidak berpikir yang ribet2 lagi. Segera boneka itu saya bakar sambil baca ayat kursi.

Oya, sebenarnya ini bukan pertama kali saya menemukan boneka seperti ini. Sebelumnya, saya pernah menemukan ketika pulang shubuhan tergantung terlilit kawat di atas tiang listrik. Model boneka nya waktu itu jauh lebih canggih dan lebih rumit dibanding boneka ini, walau bonekanya tidak sebesar ini.

Bonekanya itu dibuat dari semacam rumput2an kering yg dililit dengan berbagai macam jenis tali lilitan agar membentuk boneka. Adapun kalo boneka yg ini cukup sederhana, hanya dari koran dan batang pisang saja…..

Akan tetapi apapun itu, ini hanya sekadar share saja agar kita berhati-hati terhadap segala macam sihir dg berbagai macam bentuknya.

Semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik.

Older Entries