SIAPAKAH YANG BERHAK MENILAI DAN MENJATUHKAN VONIS KAFIR?

1 Comment

KEADAAN KITA

Dewasa ini banyak sekali orang yang serampangan dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap orang lain; terutama terhadap pemimpin (waliyul amri), pemerintahan, beserta pegawai-pegawainya.

Padahal jika vonis kafir terhadap orang biasa saja dapat menyebabkan orang tersebut harus diceraikan dari istrinya (jika dia mempunyai istri muslimah), hilang hubungan saling waris mewarisi dengan keluarganya yang muslim, dan terancam hukuman bunuh yang eksekusinya di bawah kewenangan pemerintah. Vonis kafir terhadap individu saja sudah menyebabkan dampak yang begitu hebat terhadap diri seseorang dan keluarganya, maka bagaimana jika vonis kafir itu ditujukan kepada pemimpin (waliyul amri), pemerintahan, beserta pegawai-pegawainya?

Maka tentu dampaknya akan jauh lebih berbahaya lagi. Dan itu terlihat dari hasil nyata akan dampak terorisme, pembunuhan, dan pengeboman yang terjadi. Dan jika dalam skala yang lebih besar, maka ini akan berdampak kepada pemberontakan dan peperangan.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.
“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”[HR an-Nasâ`i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ`i dan lihat Ghâyatul- Marâm fî Takhrîj Ahâdîtsil-Halâl wal-Harâm (no. 439)]

Dari Buraidah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا.
Dosa membunuh seorang mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia.

[HR an-Nasâ`i (VII/83), dari Buraidah. Dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ`i dan lihat Ghâyatul-Maram fî Takhrîj Ahâdîtsil-Halâl wal-Harâm (no. 439)

Adapun mengenai bagaimana cara mensikapi dan cara memandang pemerintahan yang dzolim dan belum melaksanakan syariat Islam di semua lini, maka saya sudah sedikit membahasnya di beberapa tulisan saya yang lalu. Lihat :

1. Bagaimana Waliyul Amri Atau Pemimpin Terpilih Dalam Pandangan Syariat Islam?

2. Perbedaan Hukum Antara Memilih dan Mengangkat, Mendukung, dan Membaiat Seseorang yang Menetapkan Hukum Selain Hukum Islam.

3. Apakah Tidak Berhukum dengan Hukum Allah Langsung Dihukumi Kafir Secara Mutlak?

INI MERUPAKAN IJTIHAD KEWENANGAN ULAMA

Jikalau kita mengetahui kekompleksan hal-hal yang terkait dengan masalah penjatuhan vonis kafir kepada pemimpin (waliyul amri), pemerintahan, beserta pegawai-pegawainya yang notabene hukum asalnya adalah seorang muslim  dengan berbagai macam syubhat-syubhatnya itu;

Maka kita akan mengetahui bahwa ini bukanlah bagian dari “al-Ma`luum minad-diin bidh dhoruroh” (yang sudah diketahui dari agama dengan pasti) yang berlaku dan difahami oleh semua orang Islam, akan tetapi ini adalah bagian dari “Ijtihad” yang membutuhkan penelitian yang sangat teliti dan kompleks, yang membutuhkan verifikasi data-data dan fakta, serta yang membutuhkan klarifikasi dan iqomatul hujjah, yang mana ini merupakan kewenangan dari para ulama saja yang mempunyai perangkat keilmuan untuk berijtihad.

Yang mana bahkan jika sebagian ulama berijtihad dalam menentukan vonis kafir, bisa juga ulama yang lain berijtihad yang berbeda dengan menjatuhkan vonis lain (seperti hanya menjatuhkan vonis fasik, bid’ah, atau dzolim saja, akan tetapi bukan kafir). Contoh perbedaan ijtihad dalam menentukan vonis kekafiran ini di kalangan ulama ini, masyhur kita lihat di pembahasan fiqh dalam permasalahan “Apakah seseorang yang meninggalkan sholat 5 waktu itu kafir?”. Dan dalam hal ini para ulama ternyata memiliki perbedaan pendapat dan perbedaan perincian dalam menentukan hukumnya.

More

Advertisements

MENDUDUKKAN MANHAJ MUWAZANAH

2 Comments

PENGERTIAN

Manhaj muwazanah adalah suatu manhaj baru untuk menimbang antara kebaikan dan keburukan yang ada pada seseorang, yang mana manhaj ini baru dicetuskan pada akhir-akhir abad ke 20. Muwazanah sendiri berasal dari kata wazan yang berarti timbangan.

Adapun yang diinginkan dengan manhaj muwazanah ini, adalah ketika kita sedang mentahdzir (meperingatkan) kesalahan yang ada pada seorang tokoh Islam, atau kesalahan dan bahaya yang terdapat dalam tulisannya dan kitab-kitabnya; yang mana tahdzir ini adalah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar sekaligus bentuk nasehat untuk memperingatkan ummat akan bahaya kesalahan yang ada dalam pemikiran tokoh tersebut; maka manhaj muwazanah ini MEWAJIBKAN agar kita harus menyebutkan kebaikan dan jasa-jasa dari orang yang ditahdzir itu juga.

Jadi konteks dari manhaj ini memang disempitkan ke arah tahdzir.

More

BAGAIMANA WALIYUL AMRI/PEMIMPIN TERPILIH DALAM PANDANGAN SYARIAT ISLAM

2 Comments

Tulisan ini saya tulis setelah saya mengikuti sesi tanya jawab dan diskusi dengan ustadz Dr. Ali Musri Semjan hafidzahulloh ba’da sholat jum’at tadi (yakni hari ini, jum’at 22 November 2013).

Untuk mengikat ilmu, maka saya berusaha sesegera mungkin menulis ilmu dan pemahaman yang saya dapat dari hasil diskusi di blog saya ini. Apa yang saya dapat, akan saya paparkan dalam bentuk uraian pemahaman, ditambah penjelasan yang saya kira diperlukan. Semoga bermanfaat

————————–

CARA TERPILIH

Dalam tinjauan syariat islam, Pemimpin/waliyul amri/pemerintah itu terpilih dengan tiga cara :

1. Dengan cara syuro (musyawarah)

Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu, yakni dengan membentuk kelompok kecil dewan syuro yang terdiri dari shahabat utama yang dijamin masuk surga yang masih tersisa, yang kemudian saling bermusyawarah dan berdiskusi diantara mereka, untuk menentukan siapakah diantara mereka yang menjadi khalifah sepeninggal Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu. Hingga kemudian terpilihlah Utsman bin Affan rodhiyalloohu ‘anhu.

2. Dengan cara wasiat

Yakni dengan cara wasiat pemimpin sebelumnya untuk menunjuk seseorang untuk sebagai pengganti setelahnya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar rodhiyalloohu ‘anhu yang mewasiatkan dengan menunjuk Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu sebagai pengganti setelahnya.

3. Dengan cara mugholabah

Mugholabah secara harfiah bahasa artinya adalah saling mengalahkan. Maksudnya adalah dengan cara apapun selain dari dua cara yang tersebut di atas (yakni cara syuro dan cara wasiat), yang mana calon-calon pemimpin itu saling berusaha mengalahkan yang lain dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan. Kemudian yang terakhir menang itulah yang akhirnya diakui sebagai pemimpin yang harus ditaati dalam hal yang ma’ruf, dan harom untuk memberontak kepadanya.

Hal ini seperti apa yang terjadi di akhir zamannya Utsman bin Affan rodhiyalloohu ‘anhu. Yang mana beliau (Utsman) terkena fitnah hingga berakhir kepada para pemberontak yang terfitnah karena isu ketidak puasan terhadap pemerintahan. Yang membunuh Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu di rumahnya, setelah berhari-hari mengucilkan dan mengepung rumah beliau.

Para pemberontak yang membunuh Utsman itupun akhirnya kebingungan memilih pengganti pemimpin pasca terbunuhnya Utsman. Hingga akhirnya mereka pun memaksa Ali bin Abi Tholib rodhiyalloohu ‘anhu untuk dibaiat sebagai khalifah pengganti Utsman yang terbunuh.

Ali pun akhirnya mau, asalkan dia dibaiat secara terbuka dan terang-terangan. Hingga akhirnya para shahabat yg lain di sekitar Madinah pun dipaksa dan diseret oleh para pemberontak itu agar mau berbaiat kepada Ali bin Abi Tholib rodhiyalloohu ‘anhu.

Adapun Ali bin Abi Tholib rodhiyalloohu ‘anhu, maka dia berlepas diri dari apa yang dilakukan para pemberontak pembunuh Utsman itu. Ali berlepas diri dari tuduhan ikut berkonspirasi dengan para pemberontak. Beliau hanya melakukan apa yang terbaik sesuai dengan keadaan pemerintahan yang sedang genting itu.

More