Jihad Secara Fisik (Perang) : Antara Jihad Hujum dan Jihad Difa’ (Bag.3)

Leave a comment

Alhamdulillaah bi ni’matihi tattimush shoolihaat
Sekarang kita akan coba masuk ke dalam pembahasan mengenai Qoul Ulama yang dikutip oleh mas Fulan.
B. Point yang saya kritisi : Kumpulan dalil dan Qoul dari tulisan Akhuna Fulan (Tulisan 2)
1. Akhi Fulan berkata :
Quote :
“Misal dalam Al Mughni yg menjadi kitab fiqh induk madzhab Hambali, syarat jihad (yg fardhu kifayah) ada 7 ; islam, baligh, berakal, lakilaki, tidak cacat, punya kemmapuan, merdeka(bkn budak). Kemudian ada 2 tambahan dari ulama’ lain, sehingga menajdi 9 ; izizn orang tua dan izin pemberi piutang (bg yg punya hutang). Disini lagi2 gak ada izin waliyul amri. Apalagi syarat jihad kalau fardhu ‘ain yg hnaya 4 ; islam, baligh, berakal, tidak cacat.”
Quote :
“Maka para ulama salaf, missal ibnu qudamah membahas hal ini (jihad tanpa adanya imam) dalam bab jihadnya di Al Mughni 1/374 : “Jika imam tidak ada, maka jihad tidak ditunda, karena maslahatnya akan hilang dengan menundanya, tetapi hendaknya kaum muslimin memilih salah seorang dari mereka untuk memimpin mereka dan jika mendapat ghanimah maka dibagi berdasar aturan syar’I”
Pembahasan :
Disini saya coba fokuskan mengenai kitab Al-Mughni yang ditulis oleh Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh, dan juga perihal mengenai Imam Ibnu QUdamah rohimahulloh itu terlebih dahulu.
a. Mas Fulan berkata bahwa Ibnu Qudamah rohimahulloh sama sekali tidak membahas masalah mengenai imam dalam hubungannya dengan jihad. Saya disini tdk ada kitab Al-Mughni, akan tetapi alhamdulillah saya mempunyai Kitab Lum’atul I’tiqod, kitab Aqidah yang ditulis oleh Ibnu Qudamah rohimahulloh.
———————
Di fasal “huququn Nabi wa ashhaabihi” kitab lum’atul I’tiqod beliau berkata :
“Kita (wajib) berpendapat bahwa haji dan jihad tetap berlaku disertai ketaatan kepada setiap pemimpin, baik pemimpin itu baik ataupun fajir, dan sholat jum’at dibelakang mereka adalah boleh”
———————-
Sehingga mafhumnya bahwa syarat bersama imam itu sebenarnya sudah merupakan kelaziman dan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, sehingga ini bahkan ditulis di kitab Aqidah. Sehingga kitab fiqh pun harusnya menginduk dari hal ini. Dan bahkan kedua-duanya adalah tulisan dari Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh
b. Dan bahkan jika mas Fulan mengatakan bahwa tujuan dari ditulisnya hal tersebut adalah untuk membantah manhaj Syi’ah dan Ahmadiyah yg tidak boleh jihad tanpa imam, sebagaimana perkataan mas Fulan:
“Sebab syiah meyakini, jihad dan haji harus menunggu adanya imam Mahdi muncul. Disinilah letak kalimat tadi sebagai bantahan atas syiah. Sehingga jika kita mensyaratkan jihad harus bersama imam, maka aka nada kesamaan dengan ajaran syiah (dan ahmadiyah) yang jelas2 itu adalah sesat. Ulama tidak menginginkan itu, sehingga merka menulisnya dlm kitab aqidah. Jadi sama sekali tidak ada pensyaratan jihad harus dengan izizn waliyul amri dalam kalimat tadi, sebagaimana telah dijelaskan.”
Maka kita jawab bahwasanya kitab-kitab Aqidah tersebut jauh ditulis sebelum Ahmadiyah bentukan inggris itu ada, Maka bagaimana mungkin point “Jihad harus bersama dengan imam” itu digunakan untuk membantah Ahmadiyah? Sedangkan Ahmadiyah belum ada pada waktu itu.
Bagaimana jika point “Jihad harus bersama dengan imam” itu digunakan untuk membantah syi’ah? Maka kita jawab, Imam Al-Barbahari rohimahulloh berkata dengan menukil perkataan Abdullah bin Mubarok Rohimahulloh di dalam kitab beliau Syarhus sunnah sbb :
————
“Al-Imam Abdullah bin Mubarak berkata, “ Asal dari 72 bid’ah adalah empat bid’ah. Dari keempat bid’ah inilah bercabang menjadi 72 kebid’ahan. (Empat bid’ah ini adalah) : Qadariyah, Murji’ah, Syi’ah, dan Khawarij.
Barang siapa mendahulukan Abu bakr, Umar, Utsman dan Ali –atas semua sahabat Rasulullah Shallallahu’alayhi wa salam dan tidak membicarakan para sahabat kecuali dengan kebaikan, maka dia telah lepas dari bid’ah Syi’ah dari awal hingga akhir.
Barang siapa mengatakan : Iman ialah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, maka dia telah lepas dari bid’ah irja’ (Murji’ah) dari awal hingga akhir.
Barang siapa mengatakan sahnya shalat dibelakang imam yang baik dan fajir, wajibnya jihad bersama setiap khalifah, tidak memandang bolehnya memberontak kepada penguasa dengan pedang, mendo’akan penguasa dengan kebaikan, maka dia telah lepas dari perkataan Khawarij dari awal hingga akhir.
Barang siapa mengatakan : semua taqdir dari Alloh, yang bail dan yang buruk, Alloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan member petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, maka sungguh dia telah lepas dari perkataan Qadariyah dari awal hingga akhir. Maka dialah Ahlus Sunnah.”
(Syarhus Sunnah, al-Barbahari, hal.57) “
———–
Dari situ jelas, bahwa “jihad harus bersama imam” itu digunakan untuk membantah manhaj Khowarij dan untuk membedakannya dengan Ahlus sunnah Wal Jama’ah. Sehingga bukan untuk Syi’ah ataupun Ahmadiyah sebagaimana yg antum sangka.
Advertisements

Jihad Secara Fisik (Perang) : Antara Jihad Hujum dan Jihad Difa’ (Bag.2)

1 Comment

Alhamdulillaah, kita sekarang masuk ke Forum diskusi B, untuk hal-hal yang saya kritisi. Semoga ini bisa memberikan masukan bagi kita semua.
B. Point yang saya kritisi : Muqodimah
1. Di Forum ini, apa yang saya kritisi lebih terpusat kepada dalil-dalil yang mas Fulan berikan.
2. Adapun untuk Qoul Ulama yang mas Fulan kutip, maka selama apa yang ada di Qoul Ulama itu ternyata tidak ada dalil yg shorih yang menerangkan latar belakang perkataan itu, maka saya akan mencoba menggunakan dalil-dalil untuk menerangkan duduk perkara perkataan para ulama tersebut agar sesuai dengan dalil.
Karena bisa saja kadang kita salah memahami perkataan ulama sehingga salah menempatkan. Sedangkan salah dalam memahami perkataan teman saja mungkin terjadi (sebagaimana yang saya bahas di Forum A sblmnya), maka apalagi perkataan para ulama? Bukankah seperti itu?
Dan ditambah lagi dengan pertimbangan di bawah ini :
—————————————-
أقوال أهل العلم فيحتج لها ولا يحتج بها
“Pendapat Ahlul ‘ilmi (para ulama) itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil”
Ibnu Abdilbarr :
“Ikhtilaf bukanlah hujjah bagi seorangpun sesuai yang saya ketahui dari fuqoha umat ini,kecuali orang yang tidak mempunyai ilmu dan bashiroh,serta tidak memiliki hujjah dalam perkataannya.”[ jaami’ bayaan al’ilmi wa fadhlihi 2/229]
imam al-khothoby :
“Ikhtilaf bukanlah sebuah hujjah,tapi sunnahlah sebagai hujjah atas orang yang berbeda pendapat semenjak dahulu sampai sekarang.” [a’laamulhadiits 3/2092]
imam asy-syathiby :
“Urusan ini telah melebihi kadar semestinya,sehingga ikhtilaf dijadikan sebuah hujjah untuk membolehkan sesuatu.” [almuwafaqaat 4/141]
imam Ibnu Taimiyyah :
“Tidak boleh seorangpun untuk berhujjah dengan perkataan salah seorang ulama dalam masalah yang di perselisihkan ,tapi hujjah itu hanyalah nash alqur’an dan sunnah serta ijma’ juga dalil yang diambil dari yang tersebut tadi ,bukan dengan perkataan sebagian ulama ,karena perkataan ulama dijadikan hujjah berdasarkan dalil syar’y bukan dijadikan hujjah untuk menolak dalil syar’y. [majmu’ fatawa ibnu taimiyah 26/202-203]
———————————
B. Point yang saya kritisi : Kumpulan dalil dan Qoul dari tulisan Akhuna Fulan
Adapun berikut akan saya coba kumpulkan dalil dan qoul ulama dari tulisan akhuna  Fulan:
1. Dalil :
Quote : “hadits Hudzaifah bin yaman yg bertanya ttg keburukan, kmudian rosul mejelaskna akan ada masa yg bannyak fitnah maka rosul menasehati supaya tetap bersma jamaatul muslimin dan imamnya, kemudain hudzaifah bertanya bagaimana jika tidak ada jamaatul muslimin, maka beliau
menasehati untuk uzlah dipuncak gunung. Walpun rosul tau suatu saat akan terjadi ketiadanan jamatul muslimin dan imamnya, tetapi dlm hadist2 thoifah masnhuroh rosul menyatakan akan selalu ada thoifah (satu orang disebut juga thoifah sbgmna dlm surat al hujurat,” wa in thooifatani minal mukminin
iqtatalu….”) yg menegakkan jihad smpe kiamat. “
Hadits yg mas Fulan maksud mungkin adalah hadits ini :
————-
Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata,
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan, karena khawatir akan menimpaku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam jahiliyah dan keburukan, maka Allah memberikan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?
Beliau menjawab, “Iya, ada.”
Aku berkata, “Apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan ?”
Beliau menjawab, “Ada, namun padanya ada kotoran.”
Aku berkata, “Apa kotorannya?”
Beliau menjawab, “Yaitu suatu kaum mengambil petunjuk selain petunjukku, engkau kenali diantara mereka dan engkau mengingkarinya.
Aku berkata, “Apakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?”
Beliau menjawab, “Iya, yaitu akan ada para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, siapa yang mengikutinya akan dilemparkan ke dalamnya.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sifatkan mereka kepada kami?”
Beliau menjawab, “Mereka dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (umat Islam pen.).
Aku berkata, “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa tersebut ?”
Beliau menjawab, “Berpeganglah kepada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.”
Aku berkata, “Bila tidak ada jamaah dan imam?”

Beliau menjawab, “Tinggalkan semua firqah walaupun engkau harus menggigit akar pohon lalu kematian mendatangimu dalam keadaan engkau menggigitnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

————-
Pembahasan :
a. Hal ini haruslah dikompromikan dan dijama’ dengan hadits yg lain. Karena  perkataan “tidak ada jama’ah dan imam” itu adalah berasal dari pertanyaan Abu Hudzaifah rodhiyalloohu ‘anhu, dan bukan qoul langsung dari Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan dari hadits Rosululloh yang lain, Rosululloh justru menyebutkan bahwa Imam/waliyul Amri itu akan selalu ada dengan menyebutkan periodisasinya. Jikalau benar ada suatu masa Fathoh (kekosongan) dari ketiadaan Imam/Waliyul Amri, sebagaimana yg dimaksud adalah zaman fatroh kenabian antara nabi Isa dan Nabi Muhammad yg berlangsung selama 600 tahun, maka tentu rosululloh akan menjelaskan dalam masalah periodisasi itu. Tapi ternyata tidak.
Hadits Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu :
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت ” .
“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah kehendaki, Allah mengangkat/menghilangkannya kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj Nubuwwah selama yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yang sangat kuat (ada kedhaliman) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan (tirani) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5]
b. Perhatikanlah antara hadits “Tidak ada jama’ah dan imam” dengan hadits “periodisasi kepemimpinan” , kedua-duanya diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Yaman rodhiyalloohu ‘anhu.
Sehingga jika hadits “Tidak ada jama’ah dan imam” dipaksakan untuk difahami sebagai akan adanya zaman fatroh dan semua waliyul amri yang ada di berbagai negara ini dianggap bathil dan tidak sah, yang berkonsekuensi tidak wajibnya ta’at dalam hal yg ma’ruf kepada semua waliyul amri yg ada sekarang ini baik itu waliyul amri yg sholeh ataupun fasiq, maka hal itu akan bertentangan dengan hadits Hudzaifah yg lain mengenai masalah periodisasi kepemimpinan waliyul amri yg berkesinambungan hingga akhir zaman dengan berbagai macam coraknya itu.
Yang tepat dalam memaknai hadits “Tidak ada jama’ah dan imam” itu adalah pada saat kondisi penuh fitnah bergejolak, negara masih kosong dari pemerintahan, dan adanya perang saudara disitu. Sehingga hal inilah yang dijadikan dalil bagi sebagian shohabat rodhiyallohu ‘anhum ketika terjadi perang antara ‘Ali, Mu’awiyah, dan ‘Aisyah maka mereka lebih memilih untuk uzlah dan mengasingkan diri. Hal ini seperti Sa’d bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah, Abu Bakrah Nufai’ bin al-Harits, Abu Musa al-Asy’ari, Salamah bin al-Akwa’, Usamah bin Zaid, dan Abu Mas’ud al-Anshari.
Jikalau mereka sebagaian para sahabat tidak berhujjah dengan hal itu, maka dengan hal apakah mereka berhujjah.
Sehingga maksud dari “Tidak ada jama’ah dan imam” dan berikut “Solusi”nya itu hanyalah berlaku temporer saja ketika terjadi pemberontakan, kosongnya pemegang kekuasaan, penuhnya fitnah dimana-mana. Adapun jika keadaan sudah stabil dan terlihat siapa yang memegang kekuasaan, maka hal itu akan kembali kepada hadits periodisasi kekuasaan sbgmana yg diriwayatkan Hudzaifah bin Yaman tersebut.
Oleh karena itu ibnu Taimiyah rohimahulloh dalam kitabnya As-Siyasah Asy-Syar’iyyah mengutip suatu atsar perkataan :
“Enam puluh tahun bersama dengan penguasa yang zalim itu lebih baik dibandingkan dengan satu malam tanpa adanya penguasa”.
Sehingga dalam hal ini, mafhumlah kita apa yang dimaksud dengan hadits tersebut.
Dan bahkan hadits-hadits shohih yg menerangkan berbagai macam kedzoliman para penguasa itu jauh lebih banyak dibandingkan satu buah hadits Hudzaifah “jika tidak ada jamaah dan tidak ada imam”, termasuk seperti penguasa yg mempunyai hati seperti hati syaithon, mengambil sunnah yang bukan Sunnah Rosul dalam pemerintahannya, dan lain-lain.

Jihad Secara Fisik (Perang) : Antara Jihad Hujum dan Jihad Difa’ (Bag.1)

Leave a comment

Jazakalloh khoir akhi fulan,
semoga Alloh memberikan barokah dan petunjuknya bagi kita semua.

Ada sedikit point yg hendak saya luruskan dan ada beberapa point yg saya kritisi :

A. Point yg saya luruskan :

Quote : “Akhuna Amru telah membahas masalah ini dengan panjang lebar, dimana bliu mengatakan bahwa walaupun jihad difa’ tetap harus dilihat maslahat dan madhorotnya bagi orang yg mau berjihad. Dan yg tau adalah ulama dan ulil amri .

1. Disini tampaknya ada sedikit salah dalam memahami. Saya kemarin berkata “adapun jihad di suriah itu adalah jihad difa’ (defensive) tanpa ada keraguan di dalamnya” maka itu adalah hukum yang berlaku bagi orang-orang suriah dan orang-orang yang berlaku wilayatul Hukmi bahwa itu adalah termasuk dalam daerah suriah.

Adapun untuk orang-orang di luar suriah atau muslimin yang bukan orang suriah, maka inilah fatwa yang kita bahas kemarin itu.

Bedakan antara Hukum jihad untuk orang-orang suriah dengan hukum jihad orang-orang yang berada di luar suriah. Apa yang saya pandang bahwa jihad Difa’ (defensive) itu berlaku untuk untuk orang-orang suriah, baik untuk penduduk di bagian suriah yg daerahnya diserang ataupun yang tidak diserang.

Adapun untuk orang-orang di luar suriah yang mereka terikat dengan waliyul Amri dan teritorial sendiri-sendiri, maka yg berlaku bagi mereka adalah jihad hujum (offensive/menyerang) ataupun jihad thulab guna melawan musuh, membantu para masyarakat suriah yg sedang berjihad mempertahankan diri melawan musuh mereka (jihad difa’).

Sehingga kesimpulannya adalah :
– Bagi orang suriah, berlaku bagi mereka jihad difa’.
– Adapun bagi orang–orang di luar suriah, yang mereka mempunyai kawasan teritorial sendiri-sendiri dan waliyul amri sendiri-sendiri, maka yg berlaku bagi mereka adalah jihad hujum atau jihad thulab untuk membantu perjuangan orang-orang suriah, yang mana ini harus menunggu pertimbangan mashlahat/madhorot dan izin dari para ulama beserta waliyul amri di daerah mereka masing-masing.

Maka dari itu bagi orang-orang di luar suriah, berlakulah keumuman QS An-Nisaa : 83 sebagaimana yang saya sebutkan kemarin.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [Terj. QS An-Nisaa : 83]
—————–
2. Sekedar gambaran dan bukan dalil, maka ambillah contoh jihad Ambon pada tahun 2000 an yg lalu.

Maka ketika tidak ada mujahidin dari Arab Saudi dan Yaman yang ikut membantu jihad Difa’ (Defensive) di Ambon, sejauh yang saya tau tidak ada yang menyalahkan mereka (muslim Yaman dan Muslim Saudi). Karena yang berlaku bagi mereka adalah jihad hujum/thulab (offensive/menyerang) dan harus ada izin dari waliyul Amri dari negara mereka.

Padahal sebagian mujahidin Indonesia yg berjihad di Ambon ada yang pergi ke Saudi dan ke Yaman, untuk meminta bimbingan fatwa dan ilmu dari para ulama setempat.

Dan ketika mereka (para ulama’) menfatwakan bahwa jihad sang penanya ternyata dalam perjalanannya menyimpang dan ormasnya harus dibubarkan, karena pemerintah sudah turun tangan mengurus hal itu sesuai dengan kewenangan mereka, maka mereka mengakui kesalahan mereka dan membubarkan ormas jihad mereka karena waliyul amri di daerah mereka sudah turun tangan untuk ini.

Dan mereka juga tidak menyalahkan kenapa orang-orang di Yaman ataupun Saudi tidak turun tangan untuk berjihad hujum membantu jihad difa’ di Ambon. Tidak juga menyalahkan muslimin yg di Mesir, Afghanistan, Chechna, ataupun yg lainnya.

Walloohu A’lam