PERINCIAN HUKUM ZIARAH KUBUR UNTUK MENDOAKAN SANG MAYYIT

Leave a comment

Tanya :

Klo kekuburan itu tuk mendoakan si mayit itu ghimana hukumnya,kita berdoa diatas pusaranya,tp niatnya hnya ingin melongok dan mendoakannya,dngn niat Kepada Allah.

Jawab :

1. Kalau untuk mendoakan sang penghuni kubur saja seperti misal berdoa agar Alloh mengampuni dosa-dosanya, agar Alloh menurunkan rahmat-Nya kepadanya, membantunya berdoa agar diringankan dan dimudahkan dalam menghadapi fitnah kubur;

dan bukan untuk berdo’a kepada sang penghuni kubur, mencari berkah, mengadukan persoalan-persoalan, dan meminta pertolongan kepada sang penghuni kuburan;

maka hukumnya boleh.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم

“Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka””

[HR. Ahmad (6/252). Syaikh Al Albani berkata : “Shahih sesuai syarat Syaikhain (yakni Bukhari dan Muslim-ed)”. Lihat Ahkaamul Janaa-iz hal. 239]

2. Bedakan antara mendoakan sang penghuni kubur dengan berdo’a kepada sang penghuni kubur. Hukumnya sangat jauh berbeda.

Yang satu diperbolehkan, sedangkan yang satunya dilarang dan merupakan kesyirikan.

3. Akan tetapi kalo ternyata bercampur antara mendo’akan sang penghuni kubur dengan berdo’a kepada sang penghuni kubur.

Seperti misal mendoakan sang penghuni kubur agar mendapatkan rohmat dan ampunan dari Alloh terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan/disusul dengan berdo’a kepada sang penghuni kubur, mencari berkah, mengadukan persoalan-persoalan, dan meminta pertolongan kepada sang penghuni kuburan.

Maka ini hukumnya Harom dan merupakan kesyirikan.

4. Dan kalau berziarahnya ternyata dengan menyengaja menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan (Syaddur rihaal), maka ziarah ini haram dan dilarang oleh Rosululloh.
——–
Dari Abu Sa’id Al-Khudry, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدُّ وَفِيْ لَفْظٍ : لاَ تَشُدًّوْا الرِّحَالَ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقُصَى. أَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَاللَّفْظُ الْآخَرُ لِمُسْلِمٍ.

“Tidaklah (boleh) dilakukan perjalanan -dan dalam sebuah riwayat: janganlah kalian melakukan perjalanan- (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid: Masjidku (Masjid Nabawy), Masjidil Haram dan masjid Al-Aqshâ.” [HR. Bukhari-Muslim]
———
Rosululloh hanya berziarah di kuburan Baqi yang tidak terlalu jauh dari tempat kediaman rosululloh, yang mana Rosululloh cukup menempuhnya dengan berjalan kaki.

Mendoakan penghuni kubur, dan terutama jika itu adalah kerabat, ortu, atau keluarga kita yg telah meninggal itu tidak perlu harus dengan berziarah ke kuburannya. Apalagi kalau sampai harus melakukan perjalanan yg jauh dan melelahkan (syaddur rihaal).

Cukup didoakan saja di waktu-waktu yg mustajab seperti di sepertiga malam yg terakhir setelah sholat tahajud, waktu antara adzan dan iqomat, ketika turun hujan, dan yg semisal sebagaimana yg diterangkan dalam sunnah yg shohih.

Sehingga tidak perlu harus bersusah payah berziarah ke kuburannya untuk mendoakannya. Yang mana ini justru malah dilarang oleh Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

5. Sebagai tambahan ada khilaf di antara para ulama mengenai boleh atau tidaknya wanita berziarah ke kuburan. Hal ini dikarenakan adanya beberapa hadits2 shohih yang melarangnya dan juga ada beberapa hadits2 shohih lainnya yg membolehkannya.

Sehingga para ulama berbeda pendapat dalam mengkompromikan hadits2 tersebut.

Berikut saya sebutkan salah satu hadits masalah itu :
——–
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

أن رسول الله لعن زوّارات القبور

“Rasulullah melaknat wanita yang sering berziarah kubur”

[Hadits ini hasan dengan beberapa penguatnya. Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 1056 dan beliau berkomentar : hadits hasan shahih, juga oleh Ibnu Majah no. 1576 dan Al Baihaqi (4/78). Lihat Jaami’ Ahkaamin Nisaa (1/580).]

6. Walloohu a’lam. Semoga bermanfaat. Baarokalloohu fiik

PARA PENYEMBAH KUBURAN : MEREKA YANG TERTIPU DARI JALAN SYUBHAT ZIARAH

1 Comment

1. Para penyembah kuburan ketika diperingatkan akan kesyirikan mereka masalah berdo’a dan minta-minta kepada sang penghuni kuburan, umumnya malah berbalik marah dan berlindung atas nama Ziarah.

Mereka berkata : “Bukankah Ziarah itu Sunnah?” “Bukankah Ziarah itu dibolehkan oleh Rosululloh?” dan hal-hal yang semisal

Dan tentu saja, tidak jarang mereka mengiringinya dengan berbagai umpatan, celaan, hinaan, fitnah, dan makian sebagai bumbu penyedap pembelaan mereka.

2. Sebagian orang yang berada di group FB yg lain, yang memahami duduk persoalannya dan tidak terpengaruh oleh syubhat ATAS NAMA ZIARAH, ada yang mencoba mendudukkan perkaranya dengan ikut bercomment :
*******
“maaf sebelum memberikan komentar ada baiknya disimak dulu postingannya, disitu tertulis tentang “PARA PENYEMBAH KUBURAN” bukan tentang ZIARAH KUBUR, yg memfitnah itu siapa sbnrnya, anda atau kautsar.”
*******
“Maaf, sepertinya postingan ini yakni “menyembah kubur”, bukan tentang ziarah kubur, kalau ziarah kubur adalah sunnah yg diajarkan rasulullah صلى الله عليه و سلم sehingga tata cara berziarah kubur pun telah diajarkan nabi صلى الله عليه و سلم , sedangkan yg dimaksud postingan diatas ttg menyembah kubur apabila berlebih2an dlm caranya, padahal ziarah kubur adalah sebagai pengingat kita akan pemutus segala kelezatan, yakni kematian, maaf bila tidak berkenan semoga Allah merahmati kita semua aamiin”
*******
“Yang menyamakan menyembah kubur = ziarah kubur adalah pihak2 yang ga mau kehilangan penghasilan dari keramaian di situ, mungkin kuncen, tukang menyan ato tukang parkirnya dll. Carilah rezeki dengan jalan yang halal, bumi Alloh luas. Penghasilan tidak hanya dari situ”
*******
“ziarah kubur adalah SUNNAT selama dlm bingkai..TADZKIROH WAMAUIDZOH LILMAUT,adapun berdoa dgn beranggapan bhwa d tempat trsbt lbh dkt akan ijabah itu sudah keluar dari tjwn asal”
*******

3. Akan tetapi karena sudah jamak dan sudah bukan rahasia umum lagi, bahwasanya para penyembah kuburan itu selalu berlindung di balik nama “ZIARAH KUBUR” sebagai tameng pembela kebenaran kesyirikan mereka dalam berdo’a, meminta-minta, mengadukan masalah, cari berkah, dan minta tolong kepada sang penghuni kuburan; maka kita sampaikan kepada mereka firman Alloh subhaanahu wa ta’alaa :

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahuinya [QS Al-Baqoroh : 42]

Kemudian kita jelaskan lebih lanjut untuk membongkar trik kedok “pencampur adukkan antara yg haq dengan yang batil” itu

More

Para Penyembah Kuburan

1 Comment

Wahai para penyembah kubur,
yang beramai-ramai datang dari jauh dengan bersusah payah,
keluar ongkos dan keluar peluh penuh kecapekan.
yang datang untuk berdo’a, mencari berkah, mengadukan persoalan-persoalan, dan meminta pertolongan kepada sang penghuni kuburan !!!

1. Apakah kalian menganggap sang penghuni kuburan yang kalian sembah dengan do’a-do’a yang kalian sampaikan kepadanya itu, lebih mengetahui dan lebih mendengar do’a-do’a kalian dibandingkan Alloh?

Apakah mereka lebih Maha Mendengar dan lebih Maha Mengetahui dibandingkan Alloh Subhaanahu wa ta’ala? Sehingga kalian lebih memilih untuk menyampaikan do’a-do’a kalian kepada sang penghuni kuburan dibandingkan kepada Alloh?

2. Ataukah kalian menganggap Alloh seperti halnya raja dan penguasa di kalangan manusia, yang tidak mengetahui apa-apa yang terjadi di rakyatnya, kecuali setelah mendapatkan laporan-laporan dari para menteri dan jajaran staff-Nya?

Sehingga kalian menganggap berdo’a kepada Alloh itu harus dengan jalur protokoler dan administrasi birokrasi dengan melewati jalur harus lapor dan berdo’a kepada sang penghuni kubur itu terlebih dahulu?

Mengapa berdo’a kepada Alloh kalian samakan dengan makhluq? Dari jalur manakah kalian tertipu?

3. Ataukah kalian menganggap sang penghuni Kuburan itu lebih bisa mengabulkan do’a-do’a kalian dibandingkan Alloh? Lebih memiliki sifat Maha Mengabulkan Do’a (Al-Mujiib) dibandingkan Alloh ?

Atau kalian menganggap sang penghuni Kubur itu sudah diberi otonomi khusus oleh Alloh sebagai wakil Alloh, untuk dibagi-bagi tugas dan kewenangan, sehingga bisa mengabulkan do’a-do’a yang diminta kepada sang penghuni kubur itu. Padahal tidak ada yang bisa mengabulkan doa melainkan Alloh.

More

Memahami Salaf, Salafiyyah, dan Salafiyyun Secara Bahasa, Manhaj, dan Istilah (Bag 1)

2 Comments

Memahami manhaj salaf adalah hal yang dirasa urgen dalam memahami Diin. Akan tetapi ironisnya, alih-alih memahami salaf sebagai manhaj dalam memandang Diinul Islam, kebanyakan orang  justru memahaminya sebagai suatu organisasi, kelompok, jama’ah, aliran esklusif, ataupun komunitas pengajian tertentu.

Paradigma yang salah ini semakin dipacu oleh sikap-sikap sebagian  individu, atau sikap sebagian komunitas, yang mengaku menisbatkan diri kepada manhaj salaf namun memiliki perilaku muamalah yang ternyata bertentangan dengan manhaj salaf itu sendiri. Hal ini terutama dalam masalah bermuamalah terhadap masyarakat.

Akibat dari hal ini, banyak orang yang kemudian memahami bahwa manhaj salaf sebagai suatu organisasi, kelompok, jama’ah, aliran esklusif, ataupun komunitas pengajian tertentu. Padahal duduk perkaranya bukanlah seperti itu.

Dengan melalui penjelasan point-point yang sederhana, tulisan ini bermaksud untuk menerangkan kesalahfahaman itu dan berikut berusaha untuk menerangkan duduk perkaranya.

Tulisan ini terdiri dari tiga pembahasan, yakni :

  1. Pembahasan mengenai istilah Salaf
  2. Pembahasan mengenai istilah Salafiyyah
  3. Pembahasan mengenai istilah Salafiyyun

Ketiga istilah ini sebenarnya satu sama lain saling berkaitan. Akan tetapi pada point-point tertentu, istilah-istilah ini terdapat perbedaan yang perlu untuk dijelaskan lebih lanjut. Terdapat point-point yang perlu untuk dijelaskan lebih lanjut agar jelas duduk perkaranya, dan hilang syubhat dalam memahami manhaj salaf ini.

PEMBAHASAN MENGENAI ISTILAH SALAF

1. Salaf secara bahasa artinya adalah terdahulu atau mendahului.

Bentuk fi’il nya berwazan فعل (fa-‘a-la, yakni di-fath-hah semua) sehingga berbunyi سلف (salafa). Setelah ditashrif, bentuk isimnya adalah سلف (salafun).

Tashrifnya adalah : Salafa – yaslufu – salafan.

2. Adapun secara istilahi, istilah isim سلف (salafun) artinya adalah orang yang mendahului kita, yakni para sahabat (ini yg paling utama), tabi’in, tabiut tabi’in, dan Aimmah yg mengikuti jalan mereka dengan ihsan.

Sehingga ada 4 komponen utama dalam istilah salaf (yang mendahului) ini, yakni :

  • Para shohabat rodhiyalloohu ‘anhum (ini yang paling utama)
  • Para Tabi’in (Ulama pengikut atau ulama murid dari para shahabat) rohimahumulloh
  • Para Tabi’ut Tabi’in (Ulama pengikut atau ulama murid dari para tabi’in) rohimahumulloh
  • Para Aimmah (imam-imam) yang terdiri dari para ulama yang mengikuti jalan mereka (shahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in) dengan ihsan (baik)

3. Istilah سلف (salaf) dengan arti merujuk kepada sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan Aimmah yg mengikuti jalan mereka dengan ihsan ini; bukanlah suatu istilah baru yg baru-baru saja dibuat.

Istilah ini bukan baru saja dibuat pada abad ke 13-14 Masehi, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, dengan alasan bahwa pada zaman ini lahir dan hidup Ibnu Taimiyah rohimahulloh (1263 – 1328 Masehi atau 661 – 728 Hijriah), yang mana beliau terkenal berjuang untuk memahamkan manhaj Salaf kepada masyarakat Islam.

Atau perkataan sebagian orang yang lain, bahwa istilah salaf ini baru saja dibuat-buat pada abad ke 18 Masehi, yang mana pada zaman ini lahir dan hidup Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh (1701 – 1793 Masehi atau 1115 – 1206  Hijriah), yang terkenal dengan dakwah pemurnian tauhid-nya dan penyeruan kembali kepada manhaj Salaf dalam beragama.

Akan tetapi istilah ini (سلف ) sebenarnya sudah baku ada dalam literatur Islam, sudah ada jauh dari sejak zaman awal-awal keislaman, dan ma’ruf difahami oleh para ulama dari zaman ke zaman. Istilah ini lazim digunakan untuk dinisbatkan kepada sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan Aimmah yg mengikuti jalan mereka dengan ihsan itu; sebagai pendahulu kita dalam masalah Diin.

3. Contoh literatur klasik yang menggunakan istilah salafun (سلف ) untuk merujuk kepada Shahabat atau Tabi’in adalah apa yang disebutkan dalam Shohih Bukhori (Imam Bukhori  rohimahulloh hidup 810-870 Masehi atau 194-256 Hijriah), Shohih Muslim (Imam Muslim rohimahulloh hidup 821-875 Masehi atau 206-261 H), dan perkataan-perkataan para Aimmah dalam kitab-kitab mereka.

Contoh-contoh seperti ini sangat banyak.
****
a. Imam Bukhari rohimahulloh menyebutkan riwayat dalam shohihnya: “Rasyid bin Sa’ad mengatakan, ‘Dulu para SALAF menyukai kuda jantan, karena kuda seperti itu lebih tangkas dan lebih kuat’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani rahimahullah (wafat th. 852 H) berkata menjelaskan kata Salaf dari perkataan Rasyid bin Sa’ad di atas: “Maksudnya, dari kalangan para Shahabat dan orang-orang setelah mereka.” (Fathul Baari, VI/66).

Syaikh Salim bin ‘ied al Hilali hafidzahulloh mengatakan, “Yang dimaksud (oleh Rasyid) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum. Kerana Rasyid bin Sa’ad adalah seorang tabi’in (murid sahabat), sehingga orang yang disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan padanya.” (Limadza ikhtartu al manhaj as salaf, hal. 31-32)

b. Imam Bukhari rohimahulloh menyebutkan riwayat dalam shohihnya: “Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya : Aku menemui sebagian para ulama SALAF yang bersisir dengannya (tulang)dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya tidaklah mengapa.”

Syaikh Salim bin ‘ied al Hilali hafidzahulloh mengatakan, “Yang dimaksud (dengan salaf di sini) adalah para sahabat radhiallahu‘anhum, karana Az Zuhri adalah seorang tabi’in.” (Limadza ikhtartu al manhaj as salaf, hal. 31-32)

Imam Az-Zuhri rohimahulloh meninggal pada 125 Hijriah.

c. Imam Muslim rohimahulloh menyebutkan riwayat dalam shohihnya,

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah (wafat th. 181 H) berkata di hadapan para Tabi’in, “Tinggalkan hadits ‘Amr bin Tsabit, karena dia mencaci-maki Salaf.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimahnya, hal. 16).

d. Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) seorang Imam Ahlus Sunnah dari Syam berkata:

“Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.” (Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, I/174 no. 315).

e. Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash-Shobuni rohimahulloh (wafat th. 449 H) membuat kitab dengan judul “Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

*****

4. Kata (سلف ) dalam literatur klasik shohih Bukhori, shohih Muslim, dan perkataan para Aimmah dalam kitab-kitab mereka; adalah merujuk pada sahabat dan orang-orang sesudah sahabat yg mengikuti mereka dengan Ihsan. Dan tentu saja maksud salaf yang disebut dalam kitab-kitab tersebut adalah orang yang lebih dahulu/mendahului dari zaman penulis kitab tersebut sebagai periwayat akhir dari hadits atau atsar itu. Bahkan istilah Salaf itu disebutkan sendiri oleh para tabiin (pengikut/murid Shahabat). Baik itu untuk merujuk kepada tabiin yang lebih senior, ataupun untuk merujuk kepada shohabat rodhiyalloohu ‘anhum.

Sehingga jelas bahwa istilah (سلف ) “Salaf” itu adalah istilah islam yang baku, yang terdapat pada literatur ke-Islaman yang paling klasik sejak zaman-zaman awal Islam, dan ma’ruf dikenal oleh para ulama dan ummat islam pada umumnya.

Dan istilah Salaf ini digunakan terus menerus sebagai istilah ilmiah ke-Islaman, baik sejak zaman awal Islam hingga zaman sekarang. Hingga jelas, bahwa istilah salaf ini bukanlah suatu istilah baru yg dibuat-buat oleh kelompok pemikiran Islam baru untuk membuat suatu aliran/faham/madzhab baru.

5. Sehingga para ulama dalam mendefinisikan istilah salaf ini, mereka berkata :

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary mengatakan sebagai berikut:

وَفِي الاِصْطِلاَحِ : إِذَا أُطْلِقَ (( السَّلَفُ )) عِنْدَ عُلَمَاءِ الاِعْتِقَادِ فَإِنَّمَا تَدُورُ كُلُّ تَعْرِيْفَاتِهِمْ حَوْلَ الصَّحَابَةِ، أَوِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، أََوِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيْهِمْ مِنَ الْقُرُوْنِ الْمُفَضَّلَةِ ؛ ِمنَ الأَئِمَّةِ الأَعْلاَمِ الْمَشْهُودِ لَهُمْ بِالإِمَامَةِ وَالفَضْلِ وَاتِّبَاعِ السُّنَّةِ وَالإِمَامَةِ فِيهَا ، وَاجْتِنَابِ الْبِدْعَةِ وَالْحَذَرِ مِنْهَا، وَمِمَّنْ اتَّفَقَتِ الأُمَّةُ عَلىَ إِمَامَتِهِمْ وَعَظِيْمِ شَأْنِهِمْ فِي الدِّيْنِ ، وَلِهَذَا سُمِّيَ الصَّدْرُ الأَوَّلُ بِالسَّلَفِ الصَّالِحِ. (الوجيز 1/15)

Secara istilah; kata ‘salaf’ jika disebutkan secara mutlak oleh ulama aqidah, maka definisi mereka semuanya berkisar pada para sahabat; atau sahabat dan tabi’in; atau sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dari generasi-generasi terbaik.

Termasuk diantaranya para Imam yang terkenal dan diakui keimaman dan keutamaannya serta keteguhan mereka dalam mengikuti sunnah, menjauhi bid’ah, dan memperingatkan orang dari padanya. Demikian pula orang-orang (lainnya) yang telah disepakati akan keimaman dan jasa besar mereka dalam agama.

Karenanya, generasi pertama dari umat ini dinamakan As Salafus Shalih.” (Al Wajiz fi ‘Aqidatis Salafis Shalih Ahlissunnah wal Jama’ah, hal 15).

Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql berkata,

Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 5-6)

Imam As Safarini berkata,

“Yang dimaksud mazhab salaf ialah apa yang berjalan di atasnya para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (tabi’in), tabi’ut tabi’in, para imam Islam yang diakui keimaman mereka dan dikenal besar peranannya dalam Islam serta diterima ucapannya oleh kaum muslimin generasi demi generasi, bukan mereka yang tertuduh dengan kebid’ahan, atau dikenal dengan julukan yang tidak diridlai, seperti khawarij, rafidlah, qadariyah, murji-ah, jabriyah, jahmiyah, mu’tazilah, karramiyah dan sebagainya.

[Lawami’ul Anwar (1/20)]

Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata di dalam kitabnya, al-‘Aqiidatul Islamiyyah bainas Salafiyyah wal Mu’tazilah:

Penetapan istilah Salaf tidak cukup dengan hanya dibatasi waktu saja, bahkan harus sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (tentang ‘aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk-pent.). Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafi meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi Al-Qur-an dan As-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafi meskipun ia hidup pada zaman Sahabat, Ta-bi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

More