Hukum Nadzar dan Hukum Tafsir Mimpi

Leave a comment

Tanya :
BISMILLAAH. Assalamu’alaykum. Afwan ana mau tanya,
1.bagaimana hukum nadzar? Bolehkan nadzar seperti ini:
Jika istri sembuh mau potong ayam (yah, tapi itu lagi… Disertai dengan amalan yg tidak berdasar seperti membacakan sesuatu di depan makanan entah itu surah Al-Fatihah atau surah yg lainnya).

2. Bagaimanakah hukum tafsir mimpi? Adakah yg tahu tafsir mimpi tentang:
Seorang laki2 bermimpi menangkap 2ekor ikan cukup besar. Yang 1 ikan lebar ditangkap langsung dengan tangan, yg satunya lagi ikan gabus ditangkap dengan dilapisi kain/pakai kayu (karena licin dan laki2 tersebut geli dengan ikan licin maka memakai pengalas).

Jazaakumulloohu khoyro.

Jawab :
Wa’alaikumussalaam

1. “Hukum nadzar” dengan “kewajiban memenuhi nadzar” itu sebenarnya adalah 2 hal yang berbeda perincian hukumnya.

Berikut perinciannya :
a. Adapun hukum nadzar itu sendiri maka hukumnya adalah makruh.
———
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernadzar, beliau bersabda: ‘Nadzar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)
———-
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit.” (HR. Muslim no. 1640)
———-
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّذْرَ لاَ يُقَرِّبُ مِنِ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ قَدَّرَهُ لَهُ وَلَكِنِ النَّذْرُ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرَجُ بِذَلِكَ مِنَ الْبَخِيلِ مَا لَمْ يَكُنِ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَ

“Sungguh nadzar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nadzar itulah yang Allah takdirkan. Nadzar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernadzar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan. ” (HR. Bukhari no. 6694 dan Muslim no. 1640)
———–

b. Walaupun nadzar hukum asalnya itu makruh, namun karena nadzar itu seperti halnya sumpah atau janji, maka jika dia sudah dinadzarkan maka harus dipenuhi.

Adapun hukum kewajiban untuk memenuhi nadzar jika apa yang dia kehendaki sudah terpenuhi itu dibagi menjadi 3 hal :

i. Jika yang dinadzarkan itu adalah dalam bentuk ketaatan kepada Alloh, seperti sholat, puasa, shodaqoh, dan yang semisalnya. Maka hal ini wajib untuk dipenuhi sesuai dengan KEMAMPUANNYA.

Adapun jika tidak mampu maka boleh dikurangi ataupun boleh juga dibatalkan nadzarnya dengan cara menggantinya dengan kafaroh sumpah yg dibatalkan.
———–
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ

“Barangsiapa yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nadzar tersebut.” (HR. Bukhari no. 6696)
———–
Seorang laki-laki yang datang ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernadzar akan melakukan shalat di Baitul Maqdis bila kelak Allah menganugrahkan kemenangan kepadamu di dalam menaklukan Mekkah”. Maka beliau menjawab : “Shalatlah di sini saja”, kemudian orang tadi mengulangi lagi perkataannya, lalu dijawab oleh beliau, “Kalau begitu, itu menjadi urusanmu sendiri”

[HR. Abu Daud di dalam kitab Al-Iman (3305)]
———–

ii. Adapun jika yang dinadzarkan adalah dalam bentuk kemaksiatan atau hal yg dilarang, maka apa yg dinadzarkan itu tidak boleh dipenuhi. Dan hendaklah dia menggantinya dengan kafaroh sumpah untuk membatalkan nadzarnya tersebut.

iii. Jika nadzarnya adalah dalam hal-hal yang MUBAH, maka ini terserah kepada antum boleh untuk dipenuhi/dilaksanakan ataukah tidak usah dikerjakan dan diganti dengan membayar kafaroh sumpah.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahnman Al-Jibrin rohimahulloh berkata : “Bila nadzar tersebut sesuatu yang mubah (dibolehkan) seperti makan, minum, pakaian, bepergian, ucapan biasa dan semisalnya maka dia diberikan pilihan antara menepatinya atau membayar kafarat sumpah.”

More

Penjelasan Maksud dalam “Pembagian Penjelasan” Mengenai Tauhid

Leave a comment

Tanya :

assalamu’alaikum……..

minta tolong penjelasan tentang tauhid dong?ana masih bingung? Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa sifat? syukron jawabannya

Jawab :

Wa’alaikumussalaam

Pembagian Tauhid menjadi 3 yakni :
1. Tauhid Rububiyah
2. Tauhid Uluhiyah atau Ubudiyyah
3. Tauhid Asma wa shifat

Hal ini adalah hasil dari istiqro’ para ulama, untuk memudahkan ummat Islam dalam memahami Tauhid secara sistematis dan menyeluruh.

Hal ini sama seperti permisalan para ulama’ ahli nahwu yang membagi bahasa arab menjadi 3 kalimah (kata) : Isim, Fi’il, dan Harf. untuk memudahkan ummat guna mempelajari bahasa arab dan sistematikanya.
——-
Istiqro’ = Hasil perumusan atau pembagian dari penelaahan secara menyeluruh terhadap dalil-dalil yang ada.
——–
Adapun untuk memahami Ketiga pembagian Tauhid itu, maka harus difahami kaidah pemahaman bahwasanya :
“Jika satu bagian dari Tauhid itu disebutkan secara SENDIRIAN, maka tercakup makna dan konsekuensi dari kedua bagian tauhid yang lainnya”

“Sedangkan jika disebutkan bagian Tauhid itu bersamaan dengan bagian yang lainnya, maka masing-masing mempunyai porsi makna, maksud, penjelasan, dan tujuan yg tersendiri. Namun bagian-bagian tersebut mempunyai hubungan satu sama lain dan merupakan satu kesatuan”.
———————————
Seperti misal :
Jika ana sebutkan Tauhid Rububiyah secara SENDIRIAN, yang bermakna bahwa kita mentauhidkan dan mengimani Alloh bahwa Alloh lah yang menciptakan kita dan semua makhluq-Nya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberi rizqy, yang mengatur seluruh alam semesta, yang merajai seluruh kerajaan, dan yang menguasai seluruh makhluq-Nya.

Maka penyebutan secara sendiri ini juga berkonsekuensi kita harus hanya beribadah, berdo’a, menyembah, dan menghambakan diri hanya kepada Alloh saja. Yakni juga berkonsekuensi harus mentauhidkan Alloh dalam Uluhiyyah/ubudiyah-Nya juga.

Sebab tidak ada gunanya Tauhid rububiyah, mengakui bahwa Alloh yg menciptakan, memberikan rizqy, mematikan dan menghidupkan, dsb, namun tidak mau memberikan Tauhid Uluhiyah/Ubudiyah untuk beribadah hanya kepada Alloh semata.

Yang mana justru malah memberikan peribadahan baik itu berupa do’a-do’a, ruku’, sujud, penyembelihan, puasa, nadzar, sumpah, ibadah, meminta, bermunajad, kepada batu-batu, pohon2, tempat angker, jin, Kuburan orang2 sholeh, benda2 peninggalan orang sholeh, azimat, benda keramat, Malaikat, para nabi yang telah meninggal, para wali yang telah meninggal, dan lain-lain yang semisal.

Maka dari hal ini Tauhid Rububiyah-nya palsu dan batal karena dia tidak mentauhidkan uluhiyah/ubudiyah kepada Alloh semata. Dia tidak mengimani dan mengamalkan konsekuensi daripada Tauhid Rububiyah tersebut.

Padahal semuanya itu “satu paket” dan merupakan satu kesatuan. Batal satu bagian, berkonsekuensi batal keseluruhannya.

More

Perincian Perbedaan Mengenai Perowi Syiah Tasyayu’ dengan Perowi Syi’ah Rofidhoh

Leave a comment

Dalam suatu forum group, terdapat pertanyaan mengenai perowi hadits yang merupakan perowi yang ber-tasyayu’.

Orang-orang syi’ah rofidhoh yang ada kebanyakan pada hari ini, umumnya membuat syubhat seputar   adanya perowi yang bertasyayu’ dalam kitab-kitab hadits ahlus sunnah. Hal ini mereka lakukan sebagai syubhat bahwa riwayat-riwayat mereka (Syi’ah Rofidhoh) itu bisa diterima.

Padahal sudah masyhur dan diketahui oleh semua ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwasanya orang Syi’ah Rofidhoh itu menghalalkan dan membolehkan dusta dengan diganti namanya menjadi taqiyah, sehingga dengan sendirinya mereka tertolak riwayatnya karena sikap penghalalan kedustaan itu.

Berikut akan saya kutipkan lagi tulisan saya untuk jawaban di forum group tersebut, sebagai penjelasan mengenai perbedaan antara perowi yang ber-tasyayu’ dibandingkan dengan Syi’ah Rofidhoh. Dan perbedaan itu jelas adanya.

——————————-

Pertanyaannya agak melebar dan OOT sebenarnya, tapi akan ana coba terangkan pendetailan mengenai hal ini insyaa Alloh :

1. Syi’ah secara bahasa artinya adalah pendukung, sedangkan tasyayu’ berarti mendukung.

Sehingga secara bahasa, orang yang melakukan “tasyayu’ ” adalah “Pendukung” juga (dalam tanda kutip) atau disebut sebagai “Syi’ah secara bahasa”.

2. Sedangkan rofadh itu artinya adalah Meninggalkan, Menolak, dan Menyempal. Orangnya lazim disebut sebagai Rofidhoh.

Adapun secara istilah, Rofidhoh itu artinya adalah orang memilki keyakinan dan pandangan buruk/sinis terhadap shahabat2 yang lain.  Berpandangan bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah merebut kekholifahan dari tangan Ali. Suka mencaci maki para shahabat rodhiyallohu ‘anhum, dan memiliki Aqidah-Aqidah yang bathil dikarenakan terlalu mengkultuskan ‘Ali berikut para Imam penerusnya. Seperti Aqidah bahwa para Imam mereka Ma’shum, Raj’ah, dan Bada’

Dan mereka juga memiliki aqidah2 yang bathil dikarenakan terlalu berpandangan buruk terhadap para shohabat rodhiyalloohu ‘anhum, seperti meyakini bahwa Al-Qur’an tidak otentik, sepeninggal Rosululloh maka semua shahabat murtad kecuali 3 orang shahabat.

Kata Rofidhoh diambil ketika mereka menolak dan meninggalkan (Baca : Me-Rofadh) Zaid bin Ali Zainal Abidin yang juga merupakan Ahlul Bait dan keturunan ‘Ali bin Abi Tholib. Yang mana Zaid bin Ali Zainal Abidin ini menolak untuk mencaci maki Abu Bakar dan Umar, mau menerima dan mengakui kekholifahan mereka.

Mengetahui hal ini, maka mereka pun menolak dan meninggalkan (Baca : Me-rofadh) Zaid bin Ali Zainal Abidin tersebut. Sehingga mereka masyhur disebut sebagai ROFIDHOH ataupun SYI’AH ROFIDHOH.

—————————-

Adapun berkaitan dengan pertanyaan antum :

3. Jika itu adalah syi’ah rofidhoh yang suka berdusta, membolehkan dusta dalam rangka bertaqiyah, suka mencaci maki para shohabat rodhiyalloohu ‘anhum, memiliki keyakinan/pandangan yg buruk terhadap para shohabat, dan memiliki Aqidah-aqidah yang bathil seperti bada’, Al-Qur’an tidak otentik, Raj’ah, Imam2 mereka adalah orang yg ma’shum, maka tidak ragu lagi riwayat-riwayat mereka kita tolak.

4. Akan tetapi jika perowi itu adalah ahlus sunnah yang terpengaruh oleh fitnah dan memiliki faham tasyayu’, sehingga dia lebih mendukung, mencintai, dan mengutamakan Ali dibandingkan semua shahabat lain kecuali Abu Bakar dan Umar, sehingga berkonsekuensi dia lebih mengutamakan ‘Ali dibandingkan Utsman.

Namun dengan tanpa mencaci maki shahabat yang lain, tidak memilki keyakinan dan pandangan buruk/sinis terhadap shahabat2 yang lain, dan tidak memiliki pandangan buruk terhadap kekhalifahan yang telah diberikan kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebelum ‘Ali. Hanya saja dia berpandangan dan mendukung bahwa ‘Ali lebih utama dibandingkan Utsman.

Maka sepanjang dia bukan orang suka berdusta, tsiqoh (terpercaya), dhobit (cermat, cerdas, yakin, dan mengerti apa yg dia sampaikan. Tidak pikun dan pelupa), dan hadits yg disampaikan bukan dalam rangka mendukung tasyayu’ nya, maka haditsnya kita terima.

——————————-

More