Sholat Isyroq

2 Comments

Tanya :

Assalamu’alaikum,,, ‘afwan untuk semua sahabat Fillah.. Ana mu menanyakan, adakah Shalat Isyraq  ϑί  zaman Nabi ?? Terus bagaimana cara mngerjakannya ?? Apakah Salaf terdahulu suka melakukannya ?? Sy sngat butuh jawabannya krn sy belum faham dlm maslah Shalat Isyraq ini Чang dikerjakan pada paggi hari jam 6.. Jazakumulloh ats prhatiannya.. Sy sngat mnunggu jwbannya.. Syukron.. 🙂

Jawab :

Wa’alaikumussalaam
Mencoba membantu menjawab.

1. Adakah sholat isyroq di zaman Nabi?
Jawab : ada, Rosululloh sendiri mengerjakan dan memotivasi untuk melakukan sholat isyroq.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala haji dan umrah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan: “Sempurna..sempurna..sempurna…” (HR. At Turmudzi no.589 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

2. Bagaimana cara mengerjakannya?
jawab : dia melakukan sholat shubuh secara berjamaah terlebih dahulu, kemudian setelahnya dia duduk di tempat sholatnya dan berdzikir hingga terbit matahari.

Setelah terbit matahari dan masuk waktu ketika matahari mulai meninggi (isyroq), maka kemudian dia sholat dua rekaat.

Jika dia wanita dan tidak sholat shubuh berjamaah ke masjid, maka cukup dia melakukan hal tersebut setelah selesai sholat shubuh.

Syaikh ibn Baz rohimahulloh berkata :
“Demikian pula wanita. Jika seorang wanita shalat subuh (di rumahnya) kemudian duduk berdzikir di tempat shalat di dalam rumahnya sampai terbit matahari maka dia juga mendapat pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadis…”
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Syaikh Ibn Bazz, 11:218)

Silakan lihat juga di :
http://www.konsultasisyariah.com/dalil-shalat-isyraq/#axzz2OmibSQmi

More

Perbedaan Antara Madzhab dan Fitnah Wahabi

1 Comment

Tanya :
assalamu’alaikum
mau tanya, apakah benar madzab itu ada banyak, akan tetapi di indonesia itu yang di akui hanya 4?

tolong penjelasan nya

Jawab :
Wa’alaikumussalaam

Untuk mempermudah pemahaman, silakan simak keterangan di link berikut ini terlebih dahulu :
http://www.konsultasisyariah.com/haruskah-kita-bermadzhab/#axzz2NWCBcI4N

Setelah kiranya terang, boleh untuk kita diskusikan lagi hal-hal yang sekiranya masih perlu untuk penjelasan yg lebih lanjut.
Baarokalloohu fiik

Lanjutan Pertanyaan :
syukron akhi Kautsar Amru
saya mengambil kesimpulan, bahwa imam madzab itu tidak hanya 4

dari penjelasan ini

“.. Mengingat 4 orang ini yang lebih banyak pengikutnya, jadilah madzhab 4 imam ini lebih dikenal dibandingkan ulama lain yang sezaman dengan mereka.”

benar kan akhi?

Tapi yang saya mau tanya kan lagi,
kenapa kemaren (isu wahabi) yang kata nya mau buat madzab ke lima (isu yang beredar meskipun tidak benar), itu di tentang mentah-mentah oleh mereka.

Bahkan ada yang mengatakan “mereka itu kafir, yang mau membuat madzab baru agar di akui semua umat islam”. Jadi dari kata-kata itu, di simpulkan bahwa seakan-akan di luar 4 imam madzab berarti ia telah kafir, karena hanya 4 imam madzab saja yang boleh di pakai/ di ikuti

#afwan karena menggunakan contoh isu wahabi, sebab kemaren ketika ada isu yang tentang madzab ke lima, itu langsung di nyatakan kafir

Jawab :
Na’am,
Imam madzhab dari kalangan ulama salaf itu sebenarnya tidak hanya empat. Akan tetapi lebih dari itu.

——————-
Karena madzhab itu sebenarnya hanyalah jalan mengikuti pendapat para Aimmah dalam masalah-masalah FIQH SEMATA, berikut METODOLOGI ISTIMBATH mereka.
——————–

Oleh karena itu, jika kita mengikuti pendapat Imam Al-Auza’i misalnya, maka itu sebenarnya sama saja kita mengikuti madzhab beliau.

Atau jikalau kita menolak metodologi istimbath hukum dengan cara istihsan misalnya, karena itu dianggap mebuat-buat syari’at baru, maka itu berarti kita mengikuti madzhab Imam Syafi’i yang menolak metodologi dengan model istihsan.

Atau jika kita menolak menjadikan ijma selain ijma’ shohabat sebagai dasar hukum, dan hanya mengakui ijma’ shahabat saja yg bisa sebagai dalil sedangkan model ijma’ yg lain itu bukan dalil, maka itu berarti kita sependapat dan mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hambal dalam hal ini.
——————-
Maka jika misal kita mengikuti pendapat Imam Al-Bukhari dalam suatu masalah, atau mengikuti pendapat Imam Ibnu Hazm dalam suatu masalah. Maka itu sebenarnya kita mengikuti madzhab mereka karena kita mengikuti pendapat dan istimbath mereka.

Akan tetapi memang dalam sejarah, pendapat yang lebih banyak dikembangkan dan diajarkan oleh murid-murid para Aimmah dan berikut juga merodologi istimbath mereka, adalah para Imam 4 Madzhab tersebut. Akan tetapi bukan berarti pendapat para Aimmah yang lain ditinggalkan (Yang mana ini merupakan madzhab mereka) dan tidak dicatat dalam sejarah sebagai suatu kekayaan intelektual.

More

Mendudukan Fungsi dan Letak Akal Berdasarkan Timbangan Syari’at dan Pandangan Ulama Salaf (bag 2)

Leave a comment

Berikut adalah sambungan dari tulisan saya yang terdahulu mengenai penjelasan qaidah-qaidah dan diskusi dalam memahami hal tersebut.

Tulisan ini saya tulis dalam bentuk point-point pokok seperti tulisan saya yang terdahulu, untuk memudahkan pemahaman.

——————

BAGAIMANAKAH KITA MEMAHAMI DIIN ?

1. Kalo kita memahami Diin hanya berdasarkan akal semata, tanpa ada cahaya dalil hujjah dan bimbingan penjelasan dari Rosululloh dan para sahabat rodhiyalloohu ‘anhum serta salaful ummah, maka itu tidak boleh.

Karena Islam itu adalah agama wahyu, dan bukan agama hasil pemikiran. Islam itu bukan hasil pemikiran/buatan dari Nabi Muhammad shalalloohu ‘alaihi wa sallam

Dan mata akal itu jika tidak melihat dengan berdasarkan cahaya wahyu, maka dia hanya akan melihat berdasarkan panduan hawa nafsu dan bisikan2 syaithon.

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Ar Rahman (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang mnyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”.
(QS. Az Zukhruf: 36-37)

———————————————

More

Mendudukan Fungsi dan Letak Akal Berdasarkan Timbangan Syari’at dan Pandangan Ulama Salaf (bag 1)

Leave a comment

Beberapa waktu yang lalu terdapat pembicaraan mengenai kedudukan akal dalam timbangan syari’at dan dalam pandangan ulama salaf.

Setelah melewati beberapa perbincangan, seorang ikhwah kemudian meminta saya untuk memberikan penjelasan mengenai hal itu.

Berikut tulisan di bawah ini adalah tulisan saya yang telah lalu untuk menerangkan hal tersebut dengan sedikit gubahan seperlunya. Semoga bermanfaat.

Baarokalloohu fiik
—————–

Berikut akan ana terangkan qaidah-qaidah dalam memahami hal tersebut dalam bentuk point-point pokok untuk memudahkan pemahaman.

1. Akal itu suatu anugerah Alloh yang diberikan untuk dipergunakan sebagaimana fungsinya dan diletakkan sesuai pada tempatnya.

Islam memandang tinggi kedudukan akal “asalkan diletakkan sesuai pada tempatnya”, sehingga taklif/beban syari’at tidak dikenakan oleh orang yang hilang akal/gila.

Bukankah Alloh juga memberikan kita anugerah dan nikmat berupa tangan? Namun bukankah “salah dan tidak pada tempatnya” jika kita menggunakannya untuk mencuri.

Ataupun Allloh memberikan kita (maaf) organ reproduksi untuk bisa memberikan kita kenikmatan dan juga untuk meneruskan keturunan? Namun bukankah “salah dan tidak pada tempatnya” jika kita menggunakannya untuk berzina atau bernikmat-nikmat tanpa jalur pernikahan?

Disinilah kunci pokoknya, yakni hendaklah meletakkan pada tempatnya dan tidak salah dalam mengfungsikannya.

Bisakah tangan kita difungsikan untuk mencuri ? bisa. Namun itu salah dan bukan pada tempatnya.

Bisakah kemaluan kita difungsikan untuk berzina? bisa. Namun itu salah dan bukan pada tempatnya.

Hal yang sama berlaku juga dengan masalah akal wahai akhi. Hendaklah qaidah awal ini difahami terlebih dahulu.

Nabi shalallloohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلىَ عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمُ

“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yang gila yang akalnya tertutup sampai sembuh, orang yang tidur sehingga bangun, dan anak kecil sehingga baligh.”

(HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Ad-Daruquthni dari shahabat ‘Ali dan Ibnu ‘Umar, Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: “Shahih” dalam Shahih Jami’, no. 3512)

———————————–

More

Bolehkah “Membuat-buat” Suatu Aturan Syariat Amalan Tertentu Pada Hari Yang Dikhususkan ? (Bag 5)

Leave a comment

Tanya :
Misalnya saya membiasakan (sekedar membiasakan tidak mewajibkan) bersholawat 1000 kali pada malam kelahiran RasuuluLlaah shallaLlaahu ‘alaihi wa sallam apakah ini terlarang? Bagaimana jika saya membiasakan membaca Alquran satu juz setiap hari? Sesat? Bagaimana jika saya membiasakan bershodaqoh Rp. 10.000 rupiah setiap hari?

Jawab :
1. Untuk MENGKHUSUSKAN HARI TERTENTU guna memperbanyak mengucapkan sholawat, maka Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam hanyalah mensyariatkan pada hari Jum’at dan malam jum’at saja.

Dan hendaklah melakukan semampunya saja jika berkehendak. Dengan cara sendiri-sendiri dan perlahan, tanpa perlu berjama’ah dan mengeraskan suara. Dan juga dengan tanpa membatasi kepada bilangan tertentu.

Adapun jika selain hari jum’at dan malam jum’at, maka boleh juga jika tanpa harus mengkhususkan suatu hari atau tanggal tertentu. Dengan cara sendiri-sendiri dan perlahan, tanpa perlu berjama’ah dan mengeraskan suara. Dan juga dengan tanpa membatasi kepada bilangan tertentu. Akan tetapi yang paling utama adalah pada hari jum’at.

Adapun untuk WAKTU KHUSUS yang disyariatkan untuk membaca shalawat sesuai dengan sunnah yang diajarkan oleh Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam adalah ketika nama beliau disebut, ketika masuk masjid, ketika keluar masjid, saat hendak akan berdoa, di waktu pagi dan petang dalam rangkaian dzikir pagi-petang, ketika tasyahud di dalam sholat, dan sesudah adzan.

Selain itu, berarti menyelisihi sunnah yang diajarkan oleh Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini termasuk juga mengkhususkan pada hari maulid tersebut.

Dan sebagai tambahan lagi, hendaklah shalawat itu adalah shalawat yang sesuai dengan sunnah dengan banyak variasinya yang diajarkan oleh Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Bukan sholawat bikin-bikinan sendiri. Hal ini karena Shohabat rodhiyalloohu ‘anhum pun bertanya kepada Rosululloh bagaimana cara bersholawat kepada Rosululloh, dan mereka tidak membikin-bikin sendiri shalawat kepada Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Mari kita lihat hadits-hadits Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

More

Bolehkah “Membuat-buat” Suatu Aturan Syariat Amalan Tertentu Pada Hari Yang Dikhususkan ? (Bag 4)

Leave a comment

Tanya :
Maaf saya pencari ilmu, bukankah konteks hadiist di atas (Shohiih Bukhooriy {pertanyaan Sayyidah ‘Aisyah RodhiyaLlaahu ‘anhaa) konteksnya tentang puasa?

Jawab :
1. Tidak wahai akhi,
Hadits tersebut konteksnya umum untuk semua amalan. Tidak untuk puasa sebagaimana persangkaan antum.

Berikut -insyaa Alloh- akan saya detailkan penjelasan hal tersebut, silakan simak penjelasan saya di point-point berikut ini.

2. Hadits ini shohih dan diriwayatkan oleh banyak Imam Ahlul Hadits.

Selain diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam Ahmad bin Hambal.

a. Imam Muslim meriwayatkan satu buah hadits dengan sanad dari beliau, yang beliau letakkan di shohih Muslim-nya dalam :

Kitab ( صلاة المسافرين وقصرها ) bab ( فضيلة العمل الدائم من قيام الليل وغيره )

———————-
وحدثنا زهير بن حرب وإسحق بن إبراهيم قال زهير حدثنا جرير عن منصور عن إبراهيم عن علقمة قال سألت أم المؤمنين عائشة قال قلت يا أم المؤمنين كيف كان عمل رسول الله صلى الله عليه وسلم هل كان يخص شيئا من الأيام قالت لا كان عمله ديمة وأيكم يستطيع ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستطيع
———————-
Lihat : http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=313&BookID=25&PID=1376

Hadits ini malah diletakkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Sholat, sehingga hadits ini bukanlah berkonteks puasa seperti persangkaan antum.

b. Imam Abu Dawud meriwayatkan satu buah hadits dengan sanad dari beliau, yang beliau letakkan di Sunan Abu Dawud nya dalam :

Kitab ( الصَّلَاةِ ) Bab ( ما يؤمر به من القصد في الصلاة )

————————–
حدثنا عثمان بن أبي شيبة حدثنا جرير عن منصور عن إبراهيم عن علقمة قال سألت عائشة كيف كان عمل رسول الله صلى الله عليه وسلم هل كان يخص شيئا من الأيام قالت لا كان كل عمله ديمة وأيكم يستطيع ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستطيع
————————–
Lihat : http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=468&BookID=28&PID=1163

Hadits ini juga diletakkan oleh Imam Abu Dawud dalam Kitab Sholat, sehingga hadits ini bukanlah berkonteks puasa seperti persangkaan antum.

c. Imam Bukhari meriwayatkan dua buah hadits yang berulang akan hal ini dengan sanadnya dalam Shohih Bukhori-nya.

– disebutkan di dalam Kitab ( الصوم ) Bab ( هل يخص شيئا من الأيام )
—————————
حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن سفيان عن منصور عن إبراهيم عن علقمة قلت لعائشة رضي الله عنها هل كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يختص من الأيام شيئا قالت لا كان عمله ديمة وأيكم يطيق ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يطيق
—————————
lihat : http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&BookID=24&TOCID=1259

– Disebutkan di dalam Kitab ( الرِّقَاقِ ) Bab ( القصد والمداومة على العمل)
—————————-
حدثني عثمان بن أبي شيبة حدثنا جرير عن منصور عن إبراهيم عن علقمة قال سألت أم المؤمنين عائشة قلت يا أم المؤمنين كيف كان عمل النبي صلى الله عليه وسلم هل كان يخص شيئا من الأيام قالت لا كان عمله ديمة وأيكم يستطيع ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يستطيع
—————————–
lihat : http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=3605&BookID=24&PID=6203

Dari uraian Imam Al-Bukhari saja ini, sebenarnya kita bisa katakan bahwa beliau tidak mengatakan bahwa konteks hadits tersebut adalah untuk puasa sbgamana persangkaan antum.

More