Bolehkah “Membuat-buat” Suatu Aturan Syariat Amalan Tertentu Pada Hari Yang Dikhususkan ? (Bag 3)

Leave a comment

Tanya :
syukron akhi Kautsar Amru atas penjelasan nya
sekali lagi syukron

untuk hadis bahwa rasul mendatangi kuburan setiap awal tahun
hadis nya berbunyi seperti ini
Hadits yang diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih al-Taimi:
كان النبي صلی الله علیه و آله يأتي قبور الشهداء عند رأس الحول فيقول: السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار و
وكان ابو بكر و عمر وعثمان يفعلُون ذلك
“Nabi SAW mendatangi kuburan orang-orang yang mati syahid ketika awal tahun, beliau bersabda: “Keselamatan semoga terlimpah atas kamu sekalian, karena kesabaranmu dan sebaik-baiknya tempat kembali ke surga. “Shahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman juga melakukan hal yang sama seperti Nabi SAW.”
(HR Abdurrazzaq dalam Mushannaf, III/537 dan al-Waqidi dalam al-Maghazi).

Jawab :
Ah, Alhamdulillah antum justru menyebutkan haditsnya. Saya bisa memperdalam haditsnya dan menerangkannya duduk perkara hadits tersebut kalo begitu.

1. Sayang antum tidak menyebutkan sanadnya dengan komplit. Sebab kalo antum hanya menyebutkan bahwa sanadnya berasal dari Suhail bin Abi Shalih saja dan langsung ke Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam, maka jelas bahwa hadits itu lemah karena munqothi’ (terputus) antara Suhail bin Abi Shalih ke Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Suhail bin Abi Shalih adalah seorang tabi’in dan beliau wafat pada 138 H. Sehingga beliau tidak bertemu Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam, oleh karena itu hadits tersebut munqothi’ (terputus) dan bisa langsung dihukumi dhoif. Hadits tersebut secara ilmu mushtholahul hadits disebut juga sebagai hadits mursal.

More

Bolehkah “Membuat-buat” Suatu Aturan Syariat Amalan Tertentu Pada Hari Yang Dikhususkan ? (Bag 2)

Leave a comment

Tanya :
syukron akhi kautsar dan akhi faqir atas penjelasan nya

afwan akhi kautsar apakah benar hadis di atas yang berbunyi
“Dahulu pada setiap hari Sabtu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi Masjid Quba’ berjalan kaki atau berkendaraan“. (HR. Bukhari dan Muslim)

di komentari oleh, Al Hujjatul Islam Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:

“Hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda menunjukkan akan diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi tidak haram).
(Al Hujjatul Islam Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari III/69, Dar al-Fikr Beirut)

apakah benar demikian akhi?
sbb ada yang mengatakan bahwa hadis ini menandakan bahwa kalau kita boleh beribadah dengan mengkhususkan hari tertentu karena telah di contohkan oleh rasulullah
dan kata nya lagi ada hadis lain yang berbunyi bahwa rasulullah selalu mendatangi kuburan orang yang mati syahid dan mendo’akan nya setiap awal tahun, dan para kholifah (abu bakar, umar dan usman) juga melakukan nya?
dan apakah ini juga benar akhi?

tolong di jelaskan akhi, biar tidak ragu,…

Jawab :
1. Na’am,
ana check di Fathul Baari’ syarh shohih bukhari secara online

See : http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=763&BookID=33&PID=2199

memang terdapat perkataan dari Ibnu Hajar Al Atsqolani rohimahulloh yang seperti itu. Beliau berkata :

———————————
وفي هذا الحديث – ص 84 – على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحة والمداومة على ذلك ، وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثة ليس على التحريم لكون النبي صلى الله عليه وسلم كان يأتي مسجد قباء راكبا
———————————

2. Akan tetapi sebenarnya kesimpulan qaidah dari Ibnu Hajar Al-Atsqolani rohimahulloh itu, sudah dibantah sendiri oleh perkataan Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya.

و حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ قَالَ
قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ كَيْفَ كَانَ عَمَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ كَانَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنْ الْأَيَّامِ قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَطِيعُ

Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim -Zuhari berkata- telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari Alqamah ia berkata; Saya bertanya kepada Ummul mukminin Aisyah, “Wahai Ummul mukminin, bagaimanah amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Apakah beliau mengkhususkan suatu amalan pada hari tertentu?”

Aisyah menjawab, “Tidak, amalan beliau adalah terus menerus. Dan siapa pun kalian, pasti akan mampu melakukan amalan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mampu melakukannya.” [HR. Muslim]

Hadits ini walaupun mauquf di Aisyah Rodhiyalloohu ‘anhaa, namun status hadits ini adalah Marfu’ karena dinisbatkan kepada Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

3. Yang uniknya lagi, Hadits Aisyah ini selain diriwayatkan di dalam shohih Muslim, ternyata juga diriwayatkan dalam musnad Ahmad, dan juga dalam Shohih Bukhory.

Dan ketika saya coba lihat Fathul Bari’ syarh shohih Bukhori secara online perihal hadits Aisyah ini, ternyata Ibnu Hajar tidak memberikan komentar apapun mengenai hal ini, padahal hadits ini jelas.

Silakan lihat : http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=1259&BookID=24&PID=1890

4. Dan tambahan lagi, hadits Aisyah ini dimasukkan oleh Imam Al-Bukhari rohimahulloh di shohih Bukhory nya dalam bab هل يخص شيئا من الأيام (Bolehkah mengkhususkan suatu amalan pada hari tertentu).

Dan dalam bab tersebut, Imam Al-Bukhory hanya menyebutkan satu hadits dari Aisyah itu saja.

Hal ini mengisyaratkan bahwa Imam Al-Bukhari rohimahulloh melarang untuk mengkhususkan suatu hari tertentu untuk melakukan suatu amalan dengan tanpa dalil yang memang mengkhususkan hari itu.

Hal ini sebagaimana yang kita fahami dalam kebiasaan Imam Al Bukhari dalam membuat bab-bab di Shohih Bukharinya, yang mana judul bab-bab tersebut mengandung fiqh dari Imam Bukhari itu sendiri.

5. Adapun hadits mauquf dari Aisyah yang dihukumi marfu’ karena dinisbatkan kepada Nabi itu, maka secara Ushul Fiqh itu adalah dalil bagi kita karena itu dinisbatkan oleh Aisyah kepada Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa sallam.

Tambahan lagi perkataan Aisyah itu tidak ada perkataan dari shahabat lain yang menentangnya, sehingga bisa kita katakan bahwa ini adalah Ijma’ sukuty. Dan Ijma shahabat adalah dalil juga bagi kita.

More

Bolehkah “Membuat-buat” Suatu Aturan Syariat Amalan Tertentu Pada Hari Yang Dikhususkan ? (Bag 1)

Leave a comment

Tanya :
mau tanya, apakah ada dalil tentang beramal dengan mengkhusus kan waktu,..?
syukron

Jawab :

1. Pertanyaan antum senada dg yg pernah ditanyakan oleh seorang Tabi’in Alqomah rohimahulloh kepada Ummul mu’miniin Aisyah rodhiyalloohu ‘anhaa sbg berikut :

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah :
”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal?

Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?”

’Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَطِيعُ

”Tidak.
Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.” (HR. Muslim no.783)

Dan Aisyah lah yang paling mengerti mengenai amalan-amalan Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam karena kedudukan beliau sebagai istri rosul, dan juga mengerti perbedaan maksud antara istiqomah di dalam menetapinya dengan mengkhususkannya.

———–

2. Sebagai tambahan penjelasan, Rosululloh juga melarang untuk mengkhususkan hari2 tertentu untuk melakukan suatu amalan sunnah, kecuali jika memang itu sudah terbiasa rutin dan ada landasan sunnahnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اْلأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ.

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk melakukan qiyamul lail di antara malam-malam lainnya. Dan jangan pula mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa di antara hari-hari lainnya, kecuali jika pada puasa yang biasa dijalankan oleh salah seorang di antara kalian.” (Hr. Muslim)

————-

More

Tabaruk (Antara yang Disyariatkan dan Yang Dilarang) dan Fitnah Terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Leave a comment

Tanya :
Ustadz tabaruk itu apa??…Mohon jelaskan ya Ustadz.
Kenapa sebagian orang membenci Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menjuluki dengan Wahhabi?

Jawab :
Secara bahasa, Tabaruk itu artinya mencari berkah/berkat/barokah. Adapun ber-tabaruk itu artinya adalah mencari keberkahan/keberkatan/kebarokahan dengan perantara sesuatu hal.

Barokah sendiri artinya adalah :
a. Tetapnya dan langgengnya suatu kebaikan yang ada pada sesuatu hal
b. Bertambah dan berkembangnya kebaikan pada sesuatu hal, disamping kebaikan yang telah ada sebelumnya.
c. Selain bermakna kebaikan yg menetap langgeng atau yang bertambah dan berkembang, Barokah juga bermakna As-sa’aadah (kebahagiaan).

Dan wajar bagi tiap manusia, jika dia selalu ingin agar kebahagiaan dan kebaikannya itu tetap langgeng ataupun bertambah kembang.

—————-
Point 1 :
Adapun yang menjadi LANDASAN POKOK bahwasanya kunci dari SEMUA KEBERKAHAN untuk mencari KEBAIKAN (baik itu untuk melanggengkannya ataupun menumbuh kembangkan kebaikan tersebut) maka semuanya berada di TANGAN ALLOH dan BERASAL dari ALLOH.

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِى ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ‌ۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. DI TANGAN ENGKAULAH SEGALA KEBAJIKAN. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 36)
—————
Point 2 :
Dan kita meminta kepada Alloh keberkahan yang berada di tangan-NYA, dengan cara menempuh JALAN-JALAN YANG DISYARIATKAN agar Alloh ridho dan memberikan keberkahan kepada diri kita.
—————-
Point 3 :
Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa barokah itu bukan datang dan bukan berasal dari Alloh SEMATA SAJA, maka dia telah melakukan kesyirikan.

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِى ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ‌ۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. DI TANGAN ENGKAULAH SEGALA KEBAJIKAN. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 36)
—————-

More

Khowariqul Adah : Kemampuan Luar Biasa, Mata Batin, Kebal, Tenaga Dalam, dan yang semisal

Leave a comment

Tanya :
Assalamu’alaikum.., tanya..,
Bagemana pandangan islam tntang indra ke enam, dgn kata lain mmbuka mata batin, lalu di gunakan untk brbicara dgn mahkluk halus, ada bbrapa yg mngatakan.
1- cara mmbuka mta batin dgn mnggunakan bntuan jin
2- kelebihan DR ALLAH

Jawab :
Wa’alaikumussalaam

Hal ini termasuk dalam pembahasan khowariqul ‘adah. Yakni sesuatu yang keluar dari kebiasaan yg terdapat pada manusia pada umumnya.

1. Khowariqul ‘Adah ini ada yang berasal dari Alloh, yang diberikan kepada wali-wali-Nya yang merupakan orang yang beriman dan bertaqwa yang lazim selalu mengikuti sunnah dan syari’at, DENGAN TANPA HARUS DIPELAJARI SEBELUMNYA ATAU HARUS MELAKUKAN RITUAL TERTENTU DENGAN BERBAGAI MACAM SYARAT TERTENTU UNTUK MENDAPATKANNYA.

Sebagaimana Umar bin Khotthob rodhiyalloohu ‘anhu, yang dia bisa melihat dan memerintahkan pasukannya yg sedang berperang di tempat yg jauh untuk bersembunyi, padahal beliau sedang berada di Madinah.

Tatkala Umar sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :”Wahai Sariyah (pasukan), gunung !, wahai Sariyah (pasukan), gunung !”. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan :”Wahai Sariyah (pasukan), gunung!”, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke gunung kemudian Allah memenangkan kami” [HR. Bukhari-Muslim]

Dan termasuk juga salah satu qaidahnya adalah khowariqul ‘adah yang berasal dari Alloh ini TIDAK BISA DIAJARKAN KEPADA ORANG LAIN ATAUPUN DITURUNKAN KEPADA ORANG LAIN.

Dan umumnya orang yang mendapatkan ini dari Alloh, maka dia dengan berdasarkan ilmu dan pemahamannya, dia tidak suka untuk menunjukkannya, memperlihatkannya, atau membangga-banggakannya. Dan bahkan sangat takut jika ini jangan-jangan adalah permainan dari syaithon untuk menggelincirkannya, ataupun jangan-jangan ini hanya merupakan istidroj semata.

2. Khowariqul ‘Adah ini ada juga yang berasal dari Syaithon, baik itu dengan berupa bentuk sihir dan banyak variasinya, ‘ain dan banyak variasinya, ataupun permainan dan tipu muslihat dari syaithon dengan masuk ke dalam orang tertentu dan memberikannya kemampuan lebih, YANG MANA DIAKU-AKU BAHWA HAL INI BERASAL DARI KEMAMPUAN YANG DIBERIKAN ALLOH.

More

Maksud Lafal Qosam (Sumpah) dalam Hadits yang Bermakna Do’a

Leave a comment

Tanya :
Dari Haritsah bin Wahb radhiallahu anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قالُوا: بَلَى. قالَ صلى الله عليه وسلم: كُلُّ ضَعِيْفٍ مُتَضَعَّفٍ, لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ. ثُمَّ قالَ: أَلاَ أخبركم بأهل النَّارِ؟ قالُوا: بلى، قال: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kalian aku kabarkan mengenai penghuni surga?” Mereka menjawab, “Mau.” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang yang lemah lagi tertindas, yang seandainya dia bersumpah atas nama Allah atas sesuatu niscaya Allah akan memenuhinya.”

Kemudian beliau bersabda, “Maukah kalian aku kabarkan mengenai penghuni neraka?” Mereka menjawab, “Mau.” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang yang kasar, keras permusuhannya, yang mengumpulkan harta tapi tidak mau membaginya, sombong dalam berjalan, dan takabbur. “ (HR. Muslim no. 2853)

Maksud sumpah dlm lafaz lau aqsama ngalallohi laabarrahu gmn….?

Jawab :
Maksudnya adalah jika dia berdo’a kepada Alloh, maka Alloh akan mengabulkannya.

Sumpah disitu maksudnya adalah do’a. Orang yang bersumpah dengan nama Alloh, maka berarti dia melakukan pengagungan dan memuji Alloh, dan ini merupakan salah satu adab dalam berdo’a.

Sebagaimana li’an, maka dia adalah sumpah yang disertai juga do’a la’nat pada akhir sumpah yang kelima.

Dan sumpah umumnya didahului dengan huruf sumpah (Harful Qosam) ba’ (ب ), waw ( و), atau ta’ (ت ), seperti billaahi, walloohi, talloohi, yang artinya adalah demi Alloh. Atau juga bisa bersumpah atas nama-nama Alloh dengan menggunakan huruf sumpah ba’ (ب ), sebagaimana ketika meruqyah namun yang dimaksudkan adalah untuk sebagai do’a ruqyah untuk kesembuhan.

Walloohu a’lam
————
وَ الَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ اَزْوَاجَهُمْ وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُمْ شُهَدَآءُ اِلاَّ اَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ اَحَدِهِمْ اَرْبَعُ شَهدتٍ بِاللهِ اِنَّه لَمِنَ الصّدِقِيْنَ. وَ اْلخَامِسَةُ اَنَّ لَعْنَتَ اللهِ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ مِنَ اْلكذِبِيْنَ. النور:6-7
Dan orang-orang yang menuduh isrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. [QS. An-Nuur : 6-7]

وَ يَدْرَؤُا عَنْهَا اْلعَذَابَ اَنْ تَشْهَدَ اَرْبَعَ شَهدتٍ بِاللهِ اِنَّه لَمِنَ اْلكذِبِيْنَ. وَ اْلخَامِسَةَ اَنَّ عَذَابَ اللهِ عَلَيْهَا اِنْ كَانَ مِنَ الصّدِقِيْنَ. النور:8-9
Dan istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah, sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. [QS. An-Nuur : 8-9]
————
Dari Jabir bin Abdillah dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian. Jangan sampai doa kalian bertepatan dengan saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Dia akan mengabulkan doa kalian.” (HR. Muslim no. 3009)
————-
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda: “Orang ini terburu-buru.” kemudian Beliau bersabda,

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء

“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.” (H.r. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)
—————
Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Jibril ‘alaihissalam pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jibril bertanya: “Wahai Muhammad, apakah engkau mengeluhkan rasa sakit?” Nabi menjawab: “Iya.” Maka Jibril membacakan:

بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرٍّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dan keburukan setiap jiwa atau sorotan mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila meruqyah beliau membaca:

بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيْمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

“Dengan nama Allah. Tanah bumi kami dan air ludah sebagian kami, semoga disembuhkan dengannya orang yang sakit di antara kami, dengan seizin Rabb kami.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Apakah Kita Diperintah Untuk Sholat Ketika di Jannah?

Leave a comment

Tanya :
“bunda,nnt klo dsurga dsuruh sholat lg gak sm Alloh”(tny si ka2k saat brgkt sklh)..ad yg bs bntu jwb….

Jawab :
Tidak,
Karena akherat itu adalah hari pembalasan sedangkan dunia adalah hari untuk beramal.

Oleh karena itu di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa orang2 kafir ingin dikembalikan di dunia agar mereka dapat beriman dan melakukan amal sholih.

Walloohu A’lam bish showaab.

وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلۡمُجۡرِمُونَ نَاكِسُواْ رُءُوسِہِمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ رَبَّنَآ أَبۡصَرۡنَا وَسَمِعۡنَا فَٱرۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَـٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (Qs. As Sajdah : 12)

 

وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيہَا رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَـٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِى ڪُنَّا نَعۡمَلُۚ أَوَلَمۡ نُعَمِّرۡكُم مَّا يَتَذَڪَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُۖ فَذُوقُواْ فَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Qs. Faathir : 37)

Older Entries