Jangan Samakan Majlis Taklim Ahlus Sunnah dengan Majlis Taklim Ahlul Bid’ah

Leave a comment

Hendaklah selalu berprasangka baik terhadap setiap majlis ta’lim yang ada. Tidak gegabah mengatakan yang begini dan begitu.

Tapi begitu sudah jelas penyimpangan pengampu suatu majlis terhadap manhaj sunnah, maka kita berhati-hati terhadap nya dan tidak sok bersikap wise bijaksana dan bijaksini.

Dari Mubasyir bin Isma’il al-Halabi, ia berkata :

قيل للأوزاعي : إن رجلا يقول : أنا أجالس أهل السنة ، وأجالس أهل البدع ، فقال الأوزاعي : هذا رجل يريد أن يساوي بين الحق والباطل

Dikatakan kepada al-’Auzai : seseungguhnya ada seseorang yang mengatakan : “aku akan bermajelis dengan ahlus Sunnah dan aku akan bermajelis dengan ahli bid’ah.”

Maka al-’Auza’i mengatakan : “orang ini mau menyamakan antara yang haq dan yang batil.”

[Diriwayatkan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro (2/456)]

Kaset Rusak : Definisi dan Tuduhan Murjiah yang Senantiasa Diulang ulang

Leave a comment

Sejauh yang saya tahu,

Orang yang mengikuti sunnah dewasa ini, yang memberikan ketaatan dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa muslim.

Tidak ikut mengangkat senjata atau menghasung masyarakat untuk memberontak melawannya.

Dan tetap membenci serta mengingkari kedzoliman yang dilakukan oleh pemerintah, dengan cara yang sesuai sunnah.

Maka orang yang berusaha mengikuti sunnah seperti ini, kadang suka dituduh atau diberikan gelar sebagai murjiah.

****
Dia dituduh sebagai murjiah karena tetap taat dalam hal yang ma’ruf kepada pemerintah Islam, meskipun pemerintah itu dianggap dzolim, fasik, tidak menegakkan “sebagian” hukum Islam di negaranya, serta lebih memilih hukum buatan manusia sebagai penggantinya.

Sedangkan dalam pandangan kacamata sunnah, pemerintah tersebut tidak bisa “otomatis” dijatuhi hukum sebagai orang yang kafir secara spesifik karena tidak berhukum dengan hukum Allah, karena adanya syubhat dan udzur yang ada.

Perbedaan antara pengkafiran secara otomatis dalam masalah berhukum dengan hukum Allah yang umumnya dianut oleh manhaj takfiri;

Dengan pengkafiran secara terperinci yang melihat harus terpenuhi nya sebab, syarat, dan tidak adanya mawani'(penghalang) atau udzur sesuai manhaj Ahlus Sunnah.

Umumnya sudah kami tulis di tulisan kami yang lain, yang kami kumpulkan di blog kami.

***
Orang yang memberikan tuduhan murjiah itu, umumnya hanya “menggoreng” perkataan An-Nadlr bin Syumail mengenai murjiah yang didapatkan dari kitab sejarah saja.

Mereka tidak menurunkan riwayat dan penjelasan mengenai murjiah, yang berasal dari kitab kitab induk Aqidah.

Kenapa?
Karena penjelasan mengenai murjiah di dalam kitab kitab induk Aqidah umumnya selalu dikaitkan dengan masalah definisi dan pemahaman mengenai iman ala murjiah, yang bertentangan dengan manhaj Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kitab kitab induk Aqidah, tidak pernah mengaitkan sikap politik yang sesuai sunnah terhadap pemerintah yang fasik lagi dzolim, sebagai ciri khusus dan utama dari Aqidah murjiah.

Saya belum pernah mengetahui bahwa ada kitab induk masalah Aqidah, yang menurunkan perkataan An-Nadlr bin Syumail sebagai penjelasan mengenai murjiah.

****
Umumnya orang yang suka menuduh murjiah di era kontemporer ini, mengaitkan dengan riwayat dari An-Nadlr bin Syumail berikut ini :

سئل النضير بن شميل عن الإرجاء فقال: ذلك دين يعجب الملوك

“An-Nadliir bin Syumail penah ditanya tentang irjaa’, lalu ia berkata : ‘Itu adalah agama yang membuat senang para raja”.

Perkataan ini ditinjau dari kualitas riwayatnya, maka tidak diketahui darimana sumbernya yang disertai sanadnya

Atau dikaitkan dengan riwayat An-Nadlr bin Syumail yang lain:

دخلت على المأمون فقال لي كيف أصبحت يا نضر قال قلت بخير يا أمير المؤمنين قال تدري ما الإرجاء قال قلت دين يوافق الملوك يصيبون به من دنياهم وينقص من دينهم قال لي صدقت

“Aku masuk ke tempat Al-Ma’muun, lalu ia bertanya : ‘Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Nadhr?’. Aku menjawab : ‘Baik-baik saja wahai Amirul-Mukminin’. Ia bertanya lagi : ‘Apakah engkau mengetahui apa irjaa’ itu?’. Aku menjawab : ‘(Irjaa’ adalah) agama yang menyesuaikan para raja. Mereka mendapatkan dunia dengannya dengan mengurangi agama mereka’. Al-Makmuun berkata : ‘Engkau benar”.

Sanad riwayat ini adalah sebagai berikut :

أبو الحسين بن أبي الحديد أنا جدي أبو عبد الله أنا أبو المعمر المسدد بن علي بن عبد الله بن العباس بن أبي السجيس الحمصي قدم علينا نا أبو بكر محمد بن سليمان بن يوسف الربعي نا أبو إسحاق إبراهيم بن محمد بن أبي ثابت العطار نا أبو عبد الله السجستاني مستملي أبي أمية عن أبي داود المصاحفي سليمان بن سلم قال سمعت النضر بن شميل : …..

[Taariikh Dimasyq, 33/301]

Riwayat ini lemah dengan sebab Al-Musaddad bin ‘Aliy dan jahalah dari Abu ‘Abdillah As-Sijistaaniy.

Al-Kattaaniy rahimahullah berkata mengenai Musaddad bin ‘Aliy : “Padanya terdapat sikap bermudah-mudahan” [Taariikhul-Islaam, 7/86].

****
Riwayat dan pemahaman yang tidak tepat ini, sebenarnya juga digunakan oleh Ahmad Amin yang kemudian dibantah oleh Dr. Muhammad Dhiyauddin Ar Rayyis dalam kitab beliau An Nadzoriyyatus Siyaasah Al Islaamiyyah, karena hal ini bertentangan dengan fakta sejarah.

Lihat juga tulisan kami yang terdahulu di :

https://kautsaramru.wordpress.com/2016/07/26/murjiah-dan-pandangan-politiknya-dalam-masalah-bermuamalah-kepada-pemerintah-muslim/

Adab Dalam Men-tag di FB dan Trik Ahlul Ahwa’

Leave a comment

Kadang account Facebook saya di tag oleh orang yang tidak saya kenal, tanpa izin dulu.

Karena saya lihat beliau tag untuk jualan sirwal dan semisal, maka kadang hal itu saya biarkan. Saya ada pertimbangan sendiri akan hal itu, untuk membiarkan beliau agar bisa mengambil faedah dari traffic FB saya.

Tapi hal itu sebenarnya kurang etis. Memang ada yang menuliskan permintaan izinnya dalam tag nya, namun ada juga yang tidak.

Saya sendiri jarang men-tag orang lain yang tidak saya kenal. Karena saya faham itu adab yang buruk.

Yang paling sering saya tag itu biasanya istri saya sendiri 🙂

 ***
Comment :
Nah itu justru yg bikin ngeselin beberapa orang ahlul hawa menggunakan trik ini untuk memancing perdebatan disosmed triknya dia tag nama seorang ustadz lalu dipos deh apa yg ada dipikiranya

Hati-Hati dengan Syubhat dari Orang Yang Menyelisihi Pokok-Pokok Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Leave a comment

Para ulama sudah membuat kitab yang sederhana dan mudah, yang memuat mengenai pokok-pokok manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah point per point.

Barangsiapa yang menyelisihinya, maka dia menyimpang dari pokok-pokok manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan biasanya orang yang menyelisihinya itu mempunyai syubhat yang “luar biasa”.

Misal point wajib taat dalam hal yang ma’ruf terhadap pemimpin Islam, baik dia pemimpin Islam yang sholih ataupun pemimpin Islam yang fasiq lagi dzolim. Dan juga jihad di belakang komandonya, dan berhaji bersamanya (sebagai amirul hajj).

Tauriyah, Khud’ah, dan Jebakan Berkedok Ishlah – Tulisan 2

Leave a comment

Apakah anda pernah tertipu dengan sumpah cara Tauriyah?

Berikut contoh sumpah dengan cara Tauriyah (permainan kata untuk mengecoh) yang dilakukan oleh ulama salaf :

Suyfan At-Tsaury menghadiri majlis Kholifah Al-Mahdi dan beliau (mengomentari) baik. Ketika beliau ingin keluar, Kholifah berkata, ‘Anda harus tetap duduk. Kemudian Ats-Tsauri bersumpah akan kembali.

Dan beliau keluar meninggalkan sandalnya di pintu. Setelah itu beliau kembali dan mengambil sandalnya kemudian meninggalkan (istana). Kholifah bertanya tentang beliau, dikatakan bahwa beliau bersumpah akan kembali, dan kembali untuk mengambil sandalnya.

https://islamqa.info/id/27261

****

Saya bersumpah atas nama Allah, bahwa saya tidak pernah masuk organisasi A.

Ya nggak salah, karena organisasi RESMI A itu memang sudah lama nggak ada. Adanya hanya organisasi ANASIR A.

Nggak salah kan? Situnya aja yang mudah “ditipu” oleh sumpah saya.

Tauriyah, Khud’ah, dan Jebakan Berkedok Ishlah – Tulisan 1

Leave a comment

Tauriyah, permainan kata yang mengatakan perkataan yang menyelisihi kebenaran (dusta) namun di satu sisi ada benarnya.

Hadits dan contoh masalah Tauriyah itu ada dan jelas.

Kan memang organisasi nya itu yang resmi, yang dari pemimpin sebelumnya yang sudah meninggal itu, memang sudah nggak ada. Dia juga tidak pernah menunjuk pengganti resminya.

Sahabat atau wakilnya yang ikut menemani lari ke negeri jiran dulu, juga tidak mau meneruskan organisasi itu. Malah bikin organisasi baru.

Sehingga yang ada hanya organisasi ANASIR saja, bukan organisasi RESMI.

Jadi ya nggak bohong donk, kalau saya bilang saya bukan anggota organisasi resmi. Masalah saya nggak bilang saya anggota organisasi anasir, ya itu masalah kamu sendiri yang kurang cerdas

***
Khud’ah, tipu daya untuk mengecoh lawan. Dibolehkan jika dalam kondisi perang, sesuai dengan hadits al harbu khud’ah (perang itu tipu daya).

Lha wong kita perang dengan pemerintahan thoghut kok. Maka dusta dan sumpah demi tipu daya itu nggak masalah.

***
Dusta mediator dibolehkan jika untuk islah atau mendamaikan orang yang bertikai. Hadits nya jelas.

Namun jika ternyata dusta dan janji sang mediator terbongkar, dan fihak yang berselisih tidak menjadi berdamai dengan terbongkar pengkhianatannya. Maka ini bukan usaha untuk rekonsiliasi, ini hanya usaha untuk menjebak saja.

Lho tapi kan ini secara fiqh nggak salah kan?

Iya secara fiqh nggak salah, karena saya faham antum kan “jagoan” fiqh.

Bani Israel yang masang jaring perangkap ikan pada hari jumat, karena hari sabtu dilarang kerja dan harus full untuk ibadah. Harusnya juga nggak salah donk secara fiqh.

Lembut itu kadang sangat berbahaya kalau tidak benar – Lanjutan

Leave a comment

Ini adalah versi “soft”, short, dan penuh senyum dari tulisan kami sebelumnya :

Hendaklah para akhwat dan ummahat itu lebih berhati hati pada zaman sekarang ini.

Selain ada “Ganteng Ganteng Serigala” dan “Ikhwan Ikhwan Modus”, sekarang ini juga ada “Lembut Lembut Pemberontak”.

Older Entries